Masih Tinggi? Lulusan Ini Mendominasi Pengangguran Intelektual di Bali - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » , , » Masih Tinggi? Lulusan Ini Mendominasi Pengangguran Intelektual di Bali

Masih Tinggi? Lulusan Ini Mendominasi Pengangguran Intelektual di Bali

Written By Dre@ming Post on Senin, 04 Juni 2018 | 6/04/2018 08:59:00 AM

Pencari Kerja (Gbr Ist)
DENPASAR - Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Bali pada Februari 2018 mencapai 0,86 persen.

Angka ini menurun 0,42 poin dibandingkan TPT Februari 2017 (1,28 persen) atau mengalami penurunan 0,62 poin dibandingkan TPT Agustus 2017 (1,48 persen).

Meski menurun, tingkat pengangguran dari kalangan intelektual (tamatan SMA/SMK dan sarjana) masih mendominasi.

Jumlah angkatan kerja di Provinsi Bali pada Februari 2018 mencapai 2.607.288 orang bertambah 138.184 orang, dibanding angkatan kerja Februari 2017 (2.469.104 orang) atau bertambah 172.838 orang dibanding angkatan kerja Agustus 2017 (2.434.450 orang).

Kemudian jumlah penduduk yang bekerja di Bali Februari 2018 mencapai 2.584.943 orang bertambah 147.449 orang dibandingkan Februari 2017 (2.437.494) atau bertambah 186.636 orang dibandingkan Agustus 2017 (2.398.307 orang).

Menurut Kepala BPS Bali, Adi Nugroho, Minggu (3/6), jumlah pekerja dengan pendidikan S1 pada Februari 2018 (266.226 orang) mengalami kenaikan 14,90 persen bila dibandingkan Februari 2017 (231.703 orang).

“Pengangguran menurut tingkat pendidikan ini, menggambarkan kondisi penyerapan tenaga kerja berdasarkan tingkat pendidikan," katanya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) dan ESDM Provinsi Bali, Ni Luh Made Wiratmi, mengakui masih banyaknya tamatan SMA/SMK sampai sarjana (S1) yang menganggur di Bali.

“Ya, yang paling banyak menganggur adalah pengangguran intelektual, lulusan dari SMA/SMK sampai S1,” kata Wiratmi, kemarin.

Berdasarkan jenjang pendidikan, TPT terendah terdapat pada penduduk dengan tingkat pendidikan SMP ke bawah yaitu sebesar 0,37 persen.

TPT yang berpendidikan Sekolah Menengah Umum merupakan TPT tertinggi mencapai 1,66 persen. TPT Sekolah Menengah Kejuruan mencapai 1,19 persen.

Sementara TPT dengan pendidikan S1 mencapai 1,25 persen. dan pendidikan Diploma I/II/III mencapai 0,90 persen.

“Masih mendominasinya pengganguran dari kalangan sarjana, dimungkinkan karena banyak dari mereka yang masih memilih-milih pekerjaan. Hipotesa lainnya karena sebagian dari mereka baru lulus dan belum mendapatkan pekerjaan,” ujar Adi Nugroho.

Secara umum, tingkat pendidikan akan menentukan kualitas dari tenaga kerja yang tersedia.

“Tenaga kerja yang berkualitas, tentu saja akan memiliki tingkat produktivitas yang lebih tinggi. Berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan, penduduk usia kerja yang bekerja masih didominasi oleh pekerja pada jenjang pendidikan SD ke bawah,” tambahnya.

Meskipun mengalami penurunan komposisi di setiap periodenya, pekerja yang berpendidikan SD ke bawah merupakan tenaga kerja yang paling banyak diserap oleh lapangan pekerjaan.

Bila dibandingkan Februari 2017, kata dia, jumlah pekerja yang berpendidikan SD ke bawah pada Februari 2018 mengalami kenaikan 1,40 persen dari 890.927 orang pada Februari 2017 menjadi 903.376 orang pada Februari 2018.

Kondisi ketenagakerjaan baik menyangkut tingkat pengangguran, dan penduduk yang bekerja tidak terlepas dari kinerja sektor-sektor perekonomian yang ada.

Jumlah penduduk yang bekerja pada tiap sektor, menunjukkan kemampuan sektor tersebut dalam penyerapan tenaga kerja.

“Berdasarkan lapangan pekerjaan utama, pada Februari 2018 penduduk Bali paling banyak bekerja pada sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor, yang mencapai 19,74 persen (510.207 orang) dari total penduduk yang bekerja. Jumlah penduduk yang bekerja di sektor ini mengalami kenaikan dibandingkan Februari 2017 sebesar 4,44 persen,” sebutnya.

Jumlah yang bekerja di sektor pertanian di Februari 2018 mengalami kenaikan 0,43 persen dibanding Februari 2017. Sektor ini masih memiliki peranan yang cukup penting dalam menyerap tenaga kerja.

Hal ini terlihat dari penyerapan tenaga kerja pada sektor ini mencapai 18,17 persen (469.721 orang).

Sektor industri pengolahan dan sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, juga memiliki peranan yang cukup penting dalam menyerap tenaga kerja.

Penduduk yang bekerja pada sektor industri pengolahan mencapai 440.296 orang (17,03 persen), sementara jumlah penduduk yang bekerja pada sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencapai 13,26 persen (342.651 orang).

Penduduk yang bekerja di sektor industri pengolahan mengalami kenaikan sebesar 6,74 persen dibandingkan dengan Februari 2017 (Februari 2017 mencapai 412.513 orang).

Sedangkan penduduk yang bekerja di sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mengalami kenaikan sebesar 23,70 persen dibandingkan dengan Februari 2017 mencapai 277.006 orang.

Meskipun sektor konstruksi termasuk dalam lima sektor yang memberikan peranan terbesar dalam penyerapan tenaga kerja, namun pada Februari 2018 sektor ini mengalami penurunan penyerapan tenaga kerja dibandingkan dengan kondisi Februari 2017.

Pada Februari 2017 penduduk yang bekerja pada sektor konstruksi mencapai 194.535 orang sedangkan pada Februari 2018 penduduk yang bekerja di sektor konstruksi mencapai 164.912 orang atau turun sebesar 15,23 persen.

Komposisi jumlah penduduk yang bekerja menurut jam kerja per minggu, terbagi menjadi dua bagian, yaitu pekerja penuh waktu dan pekerja tidak penuh waktu. Penduduk disebut sebagai pekerja penuh apabila selama seminggu yang lalu mereka bekerja selama 35 jam atau lebih, termasuk mereka yang sementara tidak bekerja.

“Sedangkan penduduk yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu dikatakan sebagai pekerja tidak penuh, yaitu mereka yang bekerja selama 1-34 jam per minggu," kata Adi.

Pada Februari 2018, berdasarkan komposisi jumlah penduduk yang bekerja menurut jam kerja per minggu terlihat mengalami perubahan bila dibandingkan dengan Februari 2017.

Pada Februari 2018, persentase jumlah pekerja dengan jumlah jam kerja 1-34 jam per minggu mencapai 23,47 persen (606.812 orang). Sedangkan pada Februari 2017 persentase jumlah pekerja dengan jumlah jam kerja 1-34 jam per minggu mencapai 26,06 persen (635.294 orang).










sumber : tribun
Share this article :

Visitors Today

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka