Pengangkut Motor dari Pantai Sanur, Kuliahkan Anak Sampai S-2 - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » , , » Pengangkut Motor dari Pantai Sanur, Kuliahkan Anak Sampai S-2

Pengangkut Motor dari Pantai Sanur, Kuliahkan Anak Sampai S-2

Written By Dre@ming Post on Selasa, 20 Februari 2018 | 2/20/2018 02:37:00 PM

I Nyoman Kalor memanggul motor milik penumpang boat di Pantai Sanur
DENPASAR - Ada yang menjulukinya Samson, Hercules, hingga Gatot Kaca.

I Nyoman Kalor memang sosok pria kuat dan perkasa. Pekerjaannya mengangkat barang-barang penumpang boat di Pantai Sanur.

Mulai koper hingga motor. Dari pekerjaannya itu, ia bisa kuliahkan anaknya sampai Strata Dua (S-2).

Begitu boat merapat di tepi Pantai Sanur, I Nyoman Kalor bergegas menyambanginya. Tanpa alas kaki, ia kemudian mengangkat barang-barang bawaan penumpang.

Matahari yang memancarkan sinarnya dengan garang tepat di atas kepala, Minggu (18/2) siang itu, tak ia hiraukan. Langkah kakinya mantap.

Tak tanggung-tanggung, tiga koper ia letakkan di pundaknya lalu bergegas menembus air dan naik melewati tumpukan bebatuan dengan cepat.

Setelah meletakkan tiga koper tersebut di tempat tungggu, ia kembali mengambil beberapa barang penumpang. Tak ada raut lelah di mukanya.

Usai mengangkut barang bawaan penumpang, mendekatinya. Ia membalas jabat tangan lalu tersenyum ramah sembari bertanya, "Wenten napi niki (Ada apa ini)?"

Kalor kemudian dengan sumringah menceritakan kisah hidupnya sebagai pengangkat barang-barang bawaan penumpang di Pantai Sanur. Termasuk mengangkat sepeda motor. Wow!

Foto-foto Kalor saat mengangkat motor yang dia posting di facebook ini sempat jadi viral di media sosial.

Warga net pun banyak yang memberi apresiasi dan memuji ketangguhannya.

Kalor yang sudah bekerja mengangkut barang penumpang boat selama 31 tahun ini, mengaku dalam sehari ia bisa mengangkut sampai empat sepeda motor.

Namun, kadang-kadang sampai dua hari tak mengangkut sepeda motor dan hanya mengangkut bawaan penumpang berupa koper, maupun barang lainnya.

Biasanya Kalor akan mendapat banyak job mengangkut sepeda motor saat liburan sekolah dan awal sekolah.

"Biasanya saat anak-anak libur sekolah baru banyak. Ada yang libur dua minggu sampai satu bulan kan harus membawa motor pulang. Begitu juga pas awal-awal sekolah. Hari biasa tidak tentu, kalau ada paling hanya satu motor," ungkapnya.

Ia tidak pernah mematok bayaran kepada orang yang menggunakan jasanya. Biasanya ia mendapat Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu untuk mengangkut satu motor.

"Saya tidak mematok harga, kasihan orangnya. Paling saya dapat Rp 50 ribu. Kalau ombak besar, saya kan lama tunggu ombak, mungkin karena kasihan dikasi Rp 100 ribu," imbuh Kalor.

Kalor mengaku tak pernah latihan khusus untuk mengangkat sepeda motor. Hal ini, kata dia, karena faktor kebiasaan.

"Karena biasa mungkin ya jadi bisa. Dan juga faktor keadaan yang mendorong saya untuk melakukannya," kata lelaki berkulit gelap ini sembari tertawa.

Awalnya, ia merasa kasihan kepada penumpang boat yang membawa sepeda motor, namun teman-teman kerjanya tidak ada. Ia pun berinisiatif mengangkut motor tersebut sendiri.

"Kasihan kan yang punya motor harus segera pulang, sehingga mau tak mau harus dicoba. Saya juga berpikir, mengangkut beras 100 kg saja bisa, kenapa mengangkat motor yang beratnya kurang dari itu tidak bisa," kata Kalor yang kini berusia 45 tahun.

Pertama kali Kalor sempat kesulitan. Ia kemudian belajar menjaga keseimbangan tubuh terlebih dahulu apalagi saat di air.

Setelah itu ia bisa mengangkat sepeda motor dengan baik hingga akhirnya jadi kebiasannya.

Kondisi ombak juga sangat memengaruhi langkahnya. Jika ombak besar, maka ia akan menunggu celah melewati ombak tersebut menuju ke boat. Begitu juga sebaliknya.

"Lihat juga kondisi ombak. Kalau besar tidak berani, kasihan motor orang. Kalau jatuh sih nggak dimarahi tapi perasaan juga, tidak enak," kata lelaki asal Banjar Pengalusan, Desa Klumpu, Nusa Penida, Klungkung, yang tinggal di Batubulan, Gianyar, ini.

Kini tercatat sudah hampir 10 tahun yang melayani jasa mengangkut sepeda motor dengan pundaknya.

Sosoknya pun sudah dikenal sebagai pengangkut motor di Pantai Sanur.

Dengan menjadi tukang angkut barang, dalam sehari ia mendapat penghasilan rata-rata Rp 500 ribu.

Mengandalkan pekerjaannya itu, ia kini bisa menghidupi keluarga dan menyekolahkan empat orang anaknya.

Hebatnya, tiga anaknya saat ini sedang menempuh studi di perguruan tinggi swasta di Denpasar.

Bahkan anak pertamanya kuliah S-2 di STIKOM Bali. Sementara anak nomor dua dan tiga kuliah S-1 di Universitas Warmadewa.

Sedangkan anaknya paling bungsu masih menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMA Saraswati, Sukawati.

"Biar bisa makan saja. Lumayan bisa menghidupi istri, empat anak dan satu keponakan," kata Kalor, merendah.

Ia bekerja mulai pukul 06.00 Wita dengan terlebih dahulu menyapu di sekitar kantornya.

Setelah itu, saat ada boat akan berangkat ataupun menepi, ia pun melayani jasa sebagai pengangkat barang penumpang.

Kalor pulang ke rumah pukul 15.00 Wita dan kadang pukul 16.00 Wita tergantung banyaknya boat yang bertolak maupun berlabuh.











sumber : tribun
Share this article :

Visitors Today

Dr.KidS

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka