Penjual Tak Kapok Ditangkap Polisi, Daging Penyu Seporsi Rp 75 Ribu - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » , » Penjual Tak Kapok Ditangkap Polisi, Daging Penyu Seporsi Rp 75 Ribu

Penjual Tak Kapok Ditangkap Polisi, Daging Penyu Seporsi Rp 75 Ribu

Written By Dre@ming Post on Sabtu, 27 Januari 2018 | 1/27/2018 03:15:00 PM

Daging Penyu - Seporsi nasi dengan menu olahan dari daging penyu plus kerupuk, air mineral dan secangkir kopi seharga Rp 75 ribu
Pejabat di Bali Doyan Makan Daging Penyu Yang Dilindungi, Di Gianyar Seporsi Rp 75 Ribu

DENPASAR – Meskipun merupakan satwa yang dilindungi, penyu ternyata masih diperdagangkan dan bahkan dagingnya menjadi menu kuliner yang disukai di Bali, termasuk di kalangan pejabat.

Menu kuliner dengan bahan baku daging penyu itu bisa diperoleh dengan cukup mudah.

“Macam-macam orang yang pernah membeli masakan penyu di warung saya. Mulai dari warga biasa sampai pejabat di sini. Katanya, olahan masakan daging penyu kami enak. Yang sekarang enggak ada campuran. Semua dari penyu,” kata pedagang di sebuah warung di Gianyar sembari menyajikan menu olahan daging penyu racikannya kemarin.

Menu olahan dari daging penyu yang dijual di situ antara lain sate lilit, komoh atau kaldu daging penyu, lawar penyu dan lain-lain.

Seporsi nasi dengan menu olahan dari daging penyu plus kerupuk, air mineral dan secangkir kopi seharga Rp 75 ribu.

Namun, pembeli sebetulnya bisa memilih untuk beli berapa, nanti akan disesuaikan menu dan porsinya oleh si penjual.

“Mau beli berapa, bisa. Tinggal bilang aja, akan saya buatkan sesuai harga,” kata si penjual.

Apabila pengunjung ingin membeli satu karang kecil yang cukup untuk dimakan empat orang, warung ini menetapkan harga Rp 150 ribu.

“Harga untuk karang besar adalah Rp 300 ribu,” ungkapnya.

Saat mendatangi warung itu pada Jumat (26/1/2018) pagi, terlihat dua PNS dengan badge di seragamnya bertuliskan `Pemkab Badung` sedang memesan menu berbahan daging penyu.

“Penyu dua porsi, Bu,” kata salah-satu pria PNS, kemudian mengajak rekannya mencari tempat duduk.

Juga ada seorang pengunjung yang di seragam serta ID Card-nya (kartu pengenal) terbaca bahwa dia berasal dari sebuah lembaga penegak hukum.

Di depan warung terparkir beberapa mobil, salah-satunya berpelat merah atau mobil dinas.

Hari itu tampaknya menjadi hari yang beruntung bagi para penggemar menu daging penyu di warung itu, yang buka mulai pukul 07.00 hingga 12.00 Wita. Sebab, menurut pengakuan si pedagang, tidak setiap hari warungnya menyediakan menu olahan daging penyu.

“Kadang ada, kadang gak. Tidak pasti, tidak setiap hari ada. Sekarang susah carinya. Tidak seperti di masa lalu,” tutur perempuan pedagang itu, yang mengaku sudah berjualan masakan penyu selama belasan tahun.

Pasokan yang tidak rutin juga diakui oleh penjual menu daging olahan penyu di sebuah warung di Jalan By Pass Ida Bagus Mantra, Kabupaten Gianyar.

Menu yang dijual di warung itu juga lawar, sate, serapah dan komoh.

“Gak setiap hari ada, karena tidak setiap hari ada kiriman daging penyu. Karena itu, kalau mau beli lebih enak tanya dulu lewat telepon,” ujar pria penjual di warung tersebut sambil melayani pembeli.

Para pedagang kuliner penyu itu mengaku, mereka mendapatkan daging penyu dalam kondisi terpotong-potong.

Jumlah daging penyu yang dipasok mulai dari 10 kg hingga 25 kg untuk sekali kirim.

Satu Karang Penyu Hijau Dilahap Sebagai Hidangan Pesta Di Rumah, Penjual Tak Kapok Ditangkap Polisi

Meskipun merupakan satwa yang dilindungi, penyu ternyata masih diperdagangkan dan bahkan dagingnya menjadi menu kuliner yang disukai di Bali, termasuk di kalangan pejabat.

Menu kuliner dengan bahan baku daging penyu itu bisa diperoleh dengan cukup mudah.

Seorang pembeli yang ditemui kemarin, Jumat (26/1/2018) mengatakan, ia sebetulnya coba-coba saja kemarin mampir, dan ternyata di warung pas tersedia menu penyu.

“Sebelumnya saya sudah beberapa kali beli lawar penyu di sini. Tapi, hari ini sebetulnya iseng ke sini, dan ternyata masih ada lawar penyu. Saya kira sudah gak ada, bahkan gak buka lagi,” kata salah satu pengunjung warung usai makan di warung makan tersebut.

Sejumlah mobil milik pengunjung terparkir di depan warung.

“Saya memang senang sama lawar penyu. Enak sekali. Biasanya bahkan beli satu karang untuk pesta di rumah,” kata pelanggan lawar penyu yang namanya minta tidak ditulis itu.

Pelanggan lainnya, yakni BD, mengaku selalu mampir ke warung tersebut jika memiliki uang lebih untuk mengobati kerinduannya pada masakan penyu.

“Saya empat bulan sekali biasanya sempat saja ke sini. Kalau gak empat bulan, tiga bulan sekali pasti pernah saja ke sini. Tergantung dompet. Kalau sering-sering bisa bangkrut saya,” kata pria yang mengaku tinggal di daerah Kebo Iwa, Denpasar, ini lalu tertawa.

Penjual lawar penyu di Jalan By Pass Ida Bagus Mantra sempat ditangkap dan diperiksa oleh aparat kepolisian.

Namun, ia mengaku tetap berjualan agar memiliki penghasilan untuk menyambung hidup.

“Namanya saja nyari kerjaan, kan boleh saja. Ini kan makanan, bukan saya jual narkoba. Kalau saya jual narkoba, baru itu salah,” kata pria penjual lawar penyu ini.

Harga satu porsi, satu karang kecil, dan satu karang besar masakan penyu di warung ini sama dengan harga di warung penyu yang lain.

Satu karang kecil Rp 150 ribu, dan karang besar seharga Rp 300 ribu.

Kepala Seksi Program dan Evaluasi BPSPL Denpasar, Permana Yudiarso, mengatakan bahwa penyu yang diperdagangkan untuk konsumsi pada umumnya jenis penyu hijau.

“Kebanyakan konsumen daging penyu hijau di Bali bagian selatan. Jadi penyu itu dibawa dari berbagai daerah di Indonesia. Dinaikkan kapal untuk masuk ke Pulau Bali,” kata Permana saat ditemui di kantor BPSPL Denpasar kemarin.

BPSPL adalah lembaga di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.

Menurut data BPSPL Denpasar, jumlah populasi penyu di Bali pada 2017 sebanyak 10.164 ekor, yang tersebar di tiga lokasi, yakni TCEC Serangan (Denpasar), Kelompok Saba Asri (dekat pantai Saba, Gianyar), dan di Perumahan Asri, Jembrana

Permana mengatakan, diindikasikan masih banyak lagi penyu di tempat-tempat lain, namun dengan jumlah yang sedikit.

“Jumlah populasi penyu di Bali meningkat dari tahun-tahun sebelumnya, karena semakin banyak masyarakat yang melaporkan keberadaan penyu,” kata Permana.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, I Ketut Catur Marbawa, mengakui masih ada rumah makan yang menyediakan masakan olahan daging penyu di Bali.

Namun tahun demi tahun, menurut Catur, dengan seringnya dilakukan sosialisasi dan penindakan oleh aparat kepolisian, penjual menu olahan daging penyu semakin menurun.

"Penjualan daging penyu untuk kepentingan konsumsi masih ada, tapi mungkin tidak sebanyak dulu. Mungkin tinggal satu atau dua rumah makan saja. Tapi, saya yakin penyu itu tidak berasal dari Bali," ujar Catur saat ditemui di kantornya di Denpasar, Jumat (26/1/2018).

"Penurunan ini tidak terlepas dari munculnya kesadaran masyarakat, dan pihak aparat kepolisian juga semakin peduli, ditambah banyaknya LSM yang menyoroti masalah ini," imbuh Catur.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 7 tahun 1990 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, semua jenis penyu laut di Indonesia dilindungi.

Ini berarti segala bentuk perdagangan penyu baik dalam keadaan hidup, mati maupun bagian tubuhnya adalah dilarang.

Pemanfaatan jenis satwa dilindungi hanya diperbolehkan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan dan penyelamatan jenis satwa yang bersangkutan.

Di Bali, pemanfaatan penyu juga dibolehkan untuk kepentingan sarana upacara.

Namun, permintaan untuk kepentingan itu diatur dengan syarat-syarat.

Salah-satunya harus ada surat rekomendasi dari PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia).

“BKSDA Bali akan memberikan rekomendasi pemanfaatan penyu untuk upacara setelah pemohon terlebih dahulu mendapatkan rekomendasi dari PHDI Provinsi Bali,” kata Catur.

Selama tahun 2017 tercatat ada 74 pemohon pemanfaatan penyu untuk sarana upacara keagamaan yang masuk ke BKSDA Bali, dengan jumlah penyu yang diajukan untuk dimanfaatkan sebanyak 81 ekor.







sumber : tribun
Share this article :

Visitors Today

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka