Sebelum Hujan Abu, Warga Desa Dukuh Dengar Bunyi Meraung-Raung - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » , , » Sebelum Hujan Abu, Warga Desa Dukuh Dengar Bunyi Meraung-Raung

Sebelum Hujan Abu, Warga Desa Dukuh Dengar Bunyi Meraung-Raung

Written By Dre@ming Post on Senin, 25 Desember 2017 | 12/25/2017 11:42:00 AM

Gunung Agung kembali mengalami erupsi, Minggu (24/12/2017). Erupsi sebabkan hujan abu di wilayah Kubu
AMLAPURA - Gunung Agung (GA) kembali mengalami erupsi, Minggu (24/12/2017) pukul 10.05 Wita, dengan mengeluarkan asap tebal dan abu vulkanik setinggi 2.5000 meter dari kawah.

Akibatnya beberapa titik di wilayah Kecamatan Kubu, Karangasem, diguyur hujan abu disertai pasir, sejak pukul 10.20 Wita.

Di antaranya Desa Dukuh dan Tulamben.

Ketika dikonfirmasi, kemarin, Perbekel Desa Dukuh, Gede Sumiarsa, mengatakan hujan abu disertai pasir terjadi sekitar empat jam.

Kata Sumiarsa, hujan abu yang terjadi cukup lebat dan tebal akibat disertai pasir.

Ketebalannya mencapai sekitar 5-8 milimeter.

Warna pasirnya seperti pasir di Pantai Kuta, putih kecoklatan.

Jalanan dan atap rumah warga di Desa Dukuh tertutup abu disertai pasir.

Tapi tak sampai ada kejadian rumah roboh akibat hujan abu disertai pasir ini.

"Menurut saya ini hujan abu vulkanik disertai pasir. Butirannya lebih besar daripada abu vulkanik. Warnanya putih kecoklatan seperti pasir Pantai Kuta. Kalau dilalui kendaraan, pasir dan abu di jalan akan berterbangan," kata Sumiarsa.

Sumiarsa menambahkan, sebelum terjadi hujan abu disertai pasir warga yang berada di Desa Dukuh sempat mendengar bunyi meraung-raung seperti pesawat jet.

Beberapa menit kemudian terdengar suara ledakan.

Warga yang saat itu sedang mencari pakan ternak kaget dan langsung turun ke bawah (daerah yang lebih rendah).

"Desa Dukuh dengan puncak Gunung Agung jaraknya 5-6 kilometer. Semua warganya telah mengungsi. Pagi hari sebagian warga pulang untuk lihat ternak dan rumah. Warga mendengar letusan saat pulang ke rumah," tambah Sumiarsa.

Hujan abu disertai pasir juga mengguyur Desa Tulamben pasca erupsi, kemarin.

Jalan raya di daerah Tulamben dihiasi abu warna kecoklatan.

Abu juga menempel di kaca kendaraan serta atap rumah warga.

Kendaraan roda dua dan empat yang parkir terkena abu dan pasir.

Pengendara sepeda motor terpaksa pakai kaca mata dan masker untuk lindungi dari abu dan pasir.

"Pas melintas, jalanan sudah berwarna kecoklatan. Abu lumayan tebal di jalan. Katanya beberapa desa di Kecamatan Kubu juga kena, tapi tipis. Tak separah di Tulamben dan Dukuh," tutur Wayan Potag, warga asli Kubu.

Camat Kubu, I Made Suartana, membenarkan ada hujan abu menguyur sejumlah desa di Kecamatan Kubu.

Namun dari sembilan desa di Kecamatan Kubu, baru Perbekel Tulamben yang menginfokan ada hujan abu akibat erupsi tadi.

Untuk desa lain, sperti Desa Ban, Tianyar Barat, dan Sukadana belum ada info.

"Yang paling parah itu Tulamben bagian atas. Seperti Dusun Batudawa, Muntig, serta daerah bagian atas. Daerah ini masuk kawasan rawan bencana. Di sana hujan abu cukup tebal," jelas Suartana.

Ketua Pasemeton Jaga Baya (Pasebaya), Gede Pawana, mengutarakan hal sama. Info dari Jaga Baya, desa yang sangat terdampak akibat erupsi yakni Desa Dukuh dan Tulamben.

Sedangkan desa lain di Kecamatan Kubu hanya terkena hujan abu tipis.

"Warga yang di KRB harus tetap waspada dan hati-hati," harapnya.

8 Gempa Vulkanik

Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Berapi Bagian Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana, mengatakan erupsi sekarang intensitasnya relatif mirip dengan erupsi sebelumnya.

Ketinggian asap dan abunya sampai sekitar 2.500 meter mengarah ke timur laut.

Tekanan erupsi sedang sampai kuat, dan warna abu kelabu tebal. Ini ditenggarai karena dalam priode enam jam, dari pukul 06.00 - 12.00 Wita, terekam ada peningkatan kegempaan vulkanik.

Ada delapan gempa vulkanik, dan delapan hembusan. Dan, sempat terjadi gempa vulkanik sampai overscale.

"Jadi setiap ada gempa vulkanik kita harus waspada karena sekarang sistemnya dalam kondisi tidak stabil. Artinya setiap ada injeksi dari magma baru, dia bisa terpicu erupsi. Erupsi yang terjadi sekarang jangkauannya masih lebih kecil dari erupsi tanggal 25-29 November," terang Devy.

Erupsi kemarin berlangsung sekitar 10 menit.

Pasca-erupsi asap putih keluar dari kawah, dan kadang disertai hembusan.

Sebelumnya, Sabtu (23/12/2017) pukul 11.57 Wita, Gunung Agung juga erupsi dengan asap kelabu tebal setinggi sekitar 2.500 meter condong ke timur laut.

Hujan abu disertai pasir tipis terjadi di sekitar lereng Gunung Agung, seperti di Tulamben, Kubu.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, menyampaikan aktivitas vulkanik Gunung Agung masih tinggi.

PVMBG pun masih menetapkan Gunung Agung berstatus Awas (level IV).

Status Awas ini sudah berlaku sejak 27 November 2017. Status Awas ini hanya berlaku pada radius 8-10 kilometer dari puncak kawah Gunung Agung.

"Artinya masyarakat dilarang melakukan aktivitas apapun di dalam radius 8-10 kilometer dari puncak kawah. Di luar area itu aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman," tandasnya.

PVMBG juga memastikan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dan Bandara Internasional Lombok beroperasi normal dan aman.

Sebab arah penyebaran abu mengikuti arah angin yaitu ke arah timur laut.

Sutopo memastikan, erupsi yang terjadi dalam dua hari berturut-turut ini tidak menimbulkan kerusakan di sekitarnya.

Masyarakat pun tetap bisa beraktivitas normal.

"Masyarakat diimbau untuk tetap tenang. Jangan terpancing pada informasi yang meresahkan," pungkasnya.










sumber : tribun
Share this article :

Visitors Today

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka