Pengungsi Direlokasi?, Pastika: "Seperti Saya Kan Dulu Transmigrasi" - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » , , , » Pengungsi Direlokasi?, Pastika: "Seperti Saya Kan Dulu Transmigrasi"

Pengungsi Direlokasi?, Pastika: "Seperti Saya Kan Dulu Transmigrasi"

Written By Dre@ming Post on Selasa, 12 Desember 2017 | 12/12/2017 03:51:00 PM

Warga di Rendang, Karangasem mengenakan masker sambil berjualan pisang goreng, Selasa (12/12/2017) pukul 11.55 wita (kanan). Gunung Agung saat mengeluarkan asap pekat pada Selasa (12/12/2017) pukul 08.05 Wita (kiri)
Bahas Nasib Pengungsi Gunung Agung, Kata `Transmigrasi` Akhirnya Muncul

DENPASAR - Rapat kerja antara DPRD Bali dan Gubernur Bali yang awalnya diagendakan untuk membahas raperda perizinan tertentu dan jasa usaha, berubah menjadi rapat kerja membahas penanganan erupsi Gunung Agung, Karangasem, Bali.

Bahkan Gubernur Bali, Made Mangku Pastika memberikan solusi jangka panjang mengenai keadaan pengungsi saat ini.

Bahwa kelak pengungsi bisa saja direlokasi di Bali atau keluar Bali jika aktivitas Gunung Agung masih terus tidak terprediksi seperti ini dalam waktu yang lama.

“Mungkin tidak kita bicara relokasi? Nanti bisa di Bali atau bisa di luar Bali. Seperti saya kan dulu transmigrasi. Tetapi ini agak sensitif, nanti dibilang saya mengusir orang Bali,” ujar Pastika dalam rapat kerja bersama DPRD Bali di ruang rapat gabungan DPRD Bali, Denpasar, Senin (11/12/2017).

Ia mengatakan, bagi masyarakat yang punya modal lebih banyak tentu relokasi bisa menjadi jalan jangka panjang.

Namun, masalah lebih pelik ketika yang dihadapi adalah penduduk yang hidupnya hanya dari bercocok tanam dan berkebun dari hasil kesuburan Gunung Agung.

“Yang punya sapi, kebun, nanti kebunnya penuh abu dan sebentar lagi miskin betulan. Kita harus mulai bicara relokasi. Bahwa nanti tanah baru bisa dikelola setelah pasir diambil, itu waktunya sangat panjang,” jelas mantan Kapolda Bali ini.

Dikonfirmasi selepas rapat, Pastika menegaskan bahwa relokasi ini perlu dibicarakan kendati ini agak sensitive, dan ia tidak mau dibilang mengusir orang Bali dari tempatnya.

“Tetapi ada pemikiran relokasi bisa di dalam Bali atau di luar Bali. Di luar Bali ya berupa transmigrasi. Melihat situasi seperti ini, secara hati-hati soal relokasi harus kita bicarakan,” jelas Pastika saat diwawancara awak media.

Mengenai apakah ada rencana membuat hunian sementara bagi pengungsi yang jumlahnya kini sekitar 60-an ribu jiwa, Pastika mengatakan boleh saja tetapi yang perlu dicari adalah dimana tempatnya, kondisi lahannya bagaimana dan bagaimana pula kelanjutannya dalam jangka panjang. Sebab, untuk mencari lahan di Bali bagi relokasi adalah sebuah kesulitan tersendiri.

Ia setuju bisa dibangun sementara model blok-blok dengan memanfaatkan kompleks UPT di Rendang atau Antiga.

Namun semua harus dipikirkan secara matang untuk pembangunan permanen.

“Kalau terus di situ bagaimana lahannya? Nanti minta sertifikat lagi di situ. Gimana itu? Iya kan? Harus dipikirkan pelan-pelan,” paparnya.

Belum lagi persoalan orang yang selama ini bekerja sebagai petani dan berkebun, yang kalau dipindah maka pekerjaannya pun akan hilang.

Oleh karena itu, kata Pastika, semua harus dipikirkan dengan matang sebelum direlokasi.

Namun ia memaparkan bahwa hal ini baru sebatas pemikiran dan belum disosialisasikan kepada warga di wilayah KRB (Kawasan Rawan Bencana) Gunung Agung.

“Tapi kita masih berharap kondisi Gunung Agung makin menurun dan kembali ke normal, sehingga para pengungsi bisa pulang kembali ke rumahnya,” katanya.

Sementara itu, untuk menjelaskan bahwa Bali masih aman untuk wisata, perlu dibuat event skala nasional di dekat Gunung Agung seperti di Amed, Candi Dasa atau bila perlu rapat-rapat nasional dilaksanakan di sana.

Pastika mengatakan, alternatif lain ke Bali seperti lewat jalur darat dan laut memang dipikirkan.

Saat ini, orang ke Bali pasti akan capek jika harus transit di tempat lain sebelum tiba di Bali.

Dalam rapat kerja itu, beberapa anggota DPRD Bali juga memaparkan lesunya perekonomian Bali karena aktifitas Gunung Agung yang tak pasti.

Walaupun bandara internasional I Gusti Ngurah Rai sudah kembali beroperasi pasca ditutup selama tiga hari akibat erupsi, nyatanya ekonomi Bali terus melesu.

Anggota Komisi I DPRD Bali, I Nyoman Adnyana mengatakan ada kebijakan yang tidak nyambung antara pemerintah dengan pihak-pihak terkait yang menyebabkan penanganan wisatawan kurang maksimal ketika erupsi Gunung Agung cukup besar terjadi pada akhir November lalu.

“Kebijakan gubernur sudah bagus tentang menginap gratis sehari dengan penyiapan kendaraan atau bus sebanyak 300 lebih untuk membawa turis menuju bandara terdekat. Tapi ternyata hal itu tidak ada dalam kenyataan,” ujar Adnyana.

Ia mengatakan bahwa ternyata ada hotel-hotel yang tidak menerapkan himbauan Gubernur tentang menginap gratis sehari bagi tamu wisatawan saat terjadinya erupsi Gunung Agung akhir November lalu.

Mereka malah juga harus membayar bus yang ditumpanginya menuju bandara terdekati.

Hal ini menimbulkan kesan bahwa kebijakan yang dikeluarkan gubernur tidak nyambung dengan pihak-pihak terkait.

Masalah lainnya adalah wisatawan juga seolah-oleh diberikan pernyataan yang tidak benar oleh pemerintah.

Anggota Komisi II DPRD Bali, A.A. Ngurah Adhi Ardhana mengatakan bahwa kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) periode September-Oktober 2017 turun 15 persen.

Hal ini juga berdampak pada penurunan kunjungan wisatawan secara nasional sebesar 5 persen.

Setelah ada erupsi, pada periode November-Desember ini penurunan diprediksi mencapai hampir 60 persen, atau menyumbang hampir 25 persen penurunan wisatawan secara nasional.

“Kami memohon kepada gubernur agar bisa disampaikan kepada presiden supaya bisa hadir Bali,” ujar politikus PDIP ini.

Anggota Komisi I DPRD Bali lainnya, Gusti Putu Widjera mengatakan bahwa saat ini warga diradius 8 km dan diperluas sampai 10 km memang semua mengungsi. Namun di luar kawasan 10 km, yakni 12 km sampai 13 km, tanaman pertanian mereka sudah mati semua karena erupsi Gunung Agung.

“Pakan ternak tidak ada, dan pasti ternak dijual, sehingga mereka semakin tidak punya apa-apa,” ujar politikus asal Karangasem ini.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika menyadari bahwa Bali sangat tergantung pada pariwisata. Oleh karena itu, perlu disiapkan social safety net jika erupsi Gunung Agung ternyata berkelanjutan. Terutama untuk mengantisipasi pengangguran yang timbul dari sektor pariwisata.

“Kalau ini kondisi tak menentu ini berkelanjutan bagaimana anak-anak yang kerja di pariwisata tidak nganggur? Mungkin ini momentum kita kembali lagi ke pertanian. Anak-anak kita yang tidak bisa bekerja itu, mungkin saatnya dia pulang kampung menggarap tanahnya, piara ayam atau bebek,” ujar Pastika.

Ia menambahkan, saat ini wisman yang datang ke Bali didominasi oleh wisatawan China. Namun, pemerintah China telah membatalkan semua penerbangan dari China ke Bali sampai 31 Januari 2018.

“Turis asal China itu nomor satu sekarang jumlahnya di Bali, apalagi menjelang Tahun Baru. Kalau sampai tanggal 31 Januari mereka dilarang ke Bali, ya habislah ini,” keluhnya.

Ia berencana akan segera mengundang kembali para konsul jenderal (konjen) negara-negara sahabat yang ada di Bali.

Nanti khusus konjen China akan dimintanya untuk menganulir pembatalan penerbangan ke Pulau Dewata.

Paling tidak sikap China diharapkan seperti sikap negara-negara lain, yakni hanya mengeluarkan travel advisory dan bukan larangan bepergian (travel ban) ke Bali. Sebab, apa yang dilakukan pemerintah China sekarang sudah seperti sebuah travel ban.

Selain itu Pastika juga diminta berbicara dengan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) mengenai kredit bank.

Baik kredit di bidang pariwisata maupun yang lainnya, karena dari wilayah KRB juga banyak usaha kecil mengagunkan sertifikatnya di bank dan tidak bisa bayar.

“Ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Ide-ide telah banyak disampaikan kepada saya. Bahkan saya mau kita (eksekutif dan legislatif) ramai-ramai sembahyang di Pura Besakih. Walaupun KRB kan lihat-lihat. Kita tunggu seminggu karena hitung-hitungan mereka (PVMBG) seminggu menurun. Kalau meningkat lagi nanti ya jangan celaka nanti kita,” ujar Pastika yang membuat hadirin tertawa.

Asap Bercampur Abu Vulkanik Keluar Dari Gunung Agung Tiap 20 Menit

Cuaca cerah tampak di kawasan Gunung Agung yang terletak di Kabupaten Karangasem, Bali, Selasa (12/12/2017) pagi.

Wajah sang Giri Tohlangkir pun terlihat jelas dari Pos Pengamatan Gunungapi Agung, Desa Rendang, Karangasem.

Hingga saat ini, gunung terbesar di Bali ini masih rutin mengeluarkan asap pekat yang bercampur abu vulkanik.

Asap dengan campuran abu dengan intensitas kecil itu terus keluar sekitar 20-30 menit sekali.

"Itu abu yang keluar. Tapi intensitasnya kecil," kata Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pengamatan Gunung Api Wilayah Barat, Kristianto.

Hasil pengamatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM periode 00.00-06.00 WITA, Gunung Agung masih didominasi oleh hembusan.

"Enam jam terakhir terekam 12 kali hembusan. Secara visual juga sama. Pas hembusan juga terlihat asap berwarna putih kelabu. Biasanya diikuti oleh abu vulkanik," jelas Kristianto.

Kristianto mengatakan bahwa sampai saat ini aktivitas Gunung Agung masih tinggi.

Hal ini diindikasikan oleh gempa-gempa vulkanik yang masih terekam dari alat seismograf PVMBG.

"Intinya kita melihat dari gempa-gempa tersebut terutama gempa vulkanik masih kami rekam. (Dari kemarin malam) Sampai pagi ini ada 6 gempa vulkanik. Vulkanik Dangkal 2, dalam 4 kali," papar Kristianto.

Masih adanya gempa-gempa vulkanik di tubuh sang giri Tohlangkir mengindikasikan bahwa masih adanya suplai magma yang menuju ke permukaan.

"Jadi aktivitasnya masih ada, masih tinggi, Sehingga sampai saat ini kami masih menetapkan status gunung Agung awas," kata Kristianto.

Hasil pengamatan dari PVMBG periode 18.00-24.00 WITA kemarin, Gunung Agung kembali teramati mengeluarkan sinar api atau dalam istilah Vulkanologi disebut sinar glow.

Sinar glow ini berhasil diabadikan oleh tim PVMBG dari CCTV Pos Rendang, dan Pos Batulompeh, Karangasem.

Pada periode 18.00-24.00 WITA, tercatat Gunung Agung mengeluarkan hembusan sebanyak 14 kali.

Sedang, pada periode 00.00-06.00 WITA, terjadi 12 hembusan.

Sementara itu, gempa Low Frekuensi tercatat sebanyak 7 kali pada periode 18.00-24.00 WITA dan 6 kali pada periode 24.00-06.00 WITA.

Hujan Abu Vulkanik Melanda Kawasan Pura Besakih, Kadek Junitri: Tadi Keras Hujan Abunya

Hujan abu kembali melanda kawasan yang berada di sekitar Gunung Agung, Karangasem, Selasa (12/12/2017) pagi.

Salah satu wilayah yang terkena hujan abu sejak pukul 07.30 wita sampai pukul 10.00 Wita adalah kawasan dekat Pura Besakih, Karangasem.

"Tadi keras hujan abunya. Dari setengah delapan sampai jam sepuluh tadi," kata Kadek Junitri, warga Banjar Batu Madeg, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem.

Hujan abu bahkan sampai di Pos Pengamatan Gunung Api Agung Desa Rendang Karangasem pada pukul 11.30 Wita.

Seluruh pengendara yang melintas di seputaran Pos Pengamatan akhirnya menggunakan masker.

Murid-murid yang bersekolah di kawasan radius 8, sampai 12 kilometer tampak mengenakan masker.

Hujan abu ini terjadi lantaran sejak pagi pukul 06.00 Wita, gunung Agung mengeluarkan asap pekat yang berwarna putih kelabu.

Asap pekat terlihat mengepul beberapa kali dari puncak gunung Agung.










sumber : tribun
Share this article :

Visitors Today

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka