Lava Memenuhi Sepertiga Kawah GA Bisa Bertambah Atau Terhenti - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » , » Lava Memenuhi Sepertiga Kawah GA Bisa Bertambah Atau Terhenti

Lava Memenuhi Sepertiga Kawah GA Bisa Bertambah Atau Terhenti

Written By Dre@ming Post on Sabtu, 02 Desember 2017 | 12/02/2017 09:33:00 AM

Gunung Agung, Kamis (30/11/2017) dini hari pukul 09.30 WITA dari Bukit Abang, Karangasem, Bali
AMLAPURA – Gunung Agung (GA) sepanjang Jumat (1/12) terpantau berbeda dari beberapa hari sebelumnya.

Jika dua hari terakhir, Gunung Agung terlihat mengeluarkan asap tebal berwarna pekat yang membumbung tinggi, kini situasi semburan asap relatif lebih sedikit dari sebelumnya.

Kendati demikian, status dari Gunung Agung masih dalam level Awas, atau level tertinggi yang telah ditetapkan oleh PVMBG.

Selain kondisi Gunung Agung yang masih fluktuatif, sejumlah laporan terkini mengenai dampak vulkanik Gunung Agung mulai dilaporkan oleh pihak terkait.

Terkini, Pasemetonan Pasebaya melaporkan adanya sejumlah dampak dari abu vulkanik Gunung Agung di wilayah terdampak. Begini selengkapnya.

Laporan dari Pasebaya 1 Desember 2017 pemantauan bersama Kapolda Bali dengan Ketua Pasebaya:

1. Tanaman keras seperti kopi, cempaka, boni, sengon, manggis dan lainnya semua berguguran daunnya dan ada yang mati akibat hujan abu yang mengadung zat blerang.

2. Rerumputan dari Dusun Sogra menuju pura pasar agung yang radiusnya 5 km dari bibir kawah mengering semua.

3. Beberapa ekor hewan seperti anjing yang ditinggal dirumah ada yang mati, akibat kelaparan atau tidak kuat menghirup bau belerang.

4. Suara binatang kelaparan seperti kera masih terdengar di parkir bawah akibat buah yang biasa dimakan oleh kera tidak ada lagi.

5. Jalan menuju pura pasar agung penuh lumpur dan atau sisa debu vulkanik dan daun daunan berserakan di aspal yang mengakibatkan jalan licin dan bisa menyebabkan kecelakaan apabila di lalui kendaraan.

6. Bau belerang sangat keras dan terasa yang mengakibatkan sakit kepala dan pusing apabila terus menghirupnya.

Dengan beberapa catatan di atas Kami imbau kepada semua masyarakat di KRB 3 dan 2 untuk tidak ada aktivitas apapun dan atau memasuki zona berbahaya tersebut.

Tak hanya itu, rasa cemas juga mulai dirasakan oleh warga. Satu diantaranya adalah I Wayan Suyasa, warga Desa Selat, Karangasem, Kamis (30/11). Ia khawatir lahan pertaniannya yang terletak di tepi sungai Yeh Sah ikut diterjang banjir lahar dingin yang terjadi sejak Rabu malam (29/11).

Terlebih lahan pertaniannya tersebut saat ini ditumbuhi padi yang sudah siap panen.

"Sawah saya di sini 20 are. Semoga saja lahar dingin tidak meluber ke persawahan seperti di hulu. Kalau sekarang saya belum berani panen, nanti takut laharnya tiba-tiba besar," ujar Wayan Suyasa.

Curah hujan tinggi yang mengguyur Gunung Agung membuat sungai Yeh Sah yang membentang dari hulu di Desa Sebudi hingga berhilir di Sungai Unda Klungkung kembali diterjang banjir lahar dingin. Fenomena alam ini pun menjadi tontonan ratusan warga.

Warga memadati jembatan Sungai Yeh Sah, Desa Muncan, Selat sejak pagi hari. Banjir bahkan kian membesar pukul 10.14 Wita.

Fenomena ini bukan membuat warga menjauh tapi malah mendekat karena rasa penasaran.

Warga berduyun-duyun menyaksikan hal tersebut dari dekat. Tampak banjir membawa berbagai material seperti batu dan lumpur. Batu-batu besar juga hanyut terbawah arus lahar dari hulu.

Aliran lahar dingin ini sangat kuat. Saking kuatnya, jembatan terasa bergoyang diterjang lahar saat berada di atasnya. Banjir lahar dingin ini sudah terjadi sejak Rabu malam (29/11). Namun warga baru berbondong-bondong datang menyaksikannya di pagi kemarin

"Sudah dari tadi pagi di sini. Saya ke sini karena ingin tahu aja terjangan lahar dingin ini," jelas Sumarjaya, seorang warga Menanga.

Bau belerang pun tercium di sekitar lokasi banjir lahar dingin. Namun bau lumpur masih lebih dominan. Tidak hanya mengalir di sungai, banjir lahar dingin tampak meluber hingga ke tengah sawah. Tampak sungai dan sawah rata dengan aliran lumpur. Hal ini mengakibatkan tanaman pertanian mengalami kerusakan.

Kepala PVMBG Kasbani menjelaskan, pihaknya menerima informasi bahwa terjangan lahar dingin atau lahar hujan pada Kamis (30/11) terjadi di sungai Sabuh dan sungai Yeh Sah. Lahar hujan atau yang lumrah disebut lahar dingin ini sangat berpotensi terjadi, karena Gunung Agung telah mengeluarkan material vulkanik dan diguyur hujan deras seJak Rabu malam (29/11).

"Selain warga di radius bahaya 8 sampai 10 kilometer, kita himbau masyarakat untuk sementara waktu tidak beraktivitas di sungai. Mengingat curah hujan dari hulu atau dari lereng Gunung Agung masih cukup tinggi," jelas Kasbani.

Lahar yang menerjang sungai tersebut membawa material piroklastik berupa debu, kerikil, dan lumpur. Ancaman bahaya dari terjangan lahar dingin ini pun dapat merusak apapun yang diterjangnya.

"Ancaman bahayanya lebih ke fisik. Memang ada aroma belerang, tapi setelah sampai di hilir kadarnya sudah tidak berbahaya. Sementara waktu, hindari beraktivitas di sungai," jelas Kasbani.

Ancam 25.680 Hektare Sawah

Sementara itu, kemarin Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai memetakan lahan pertanian yang terancam dampak erupsi seandainya terjadi letusan besar Gunung Agung.

Deputi I BNPB, Wisnu Widjaja mengatakan, lahan pertanian yang terancam jumlahnya sekitar 25.680,52 haktare.

"Ini hanya sektor pertanian dan perkebunan. Tidak termasuk permukiman warga dan tempat kegiatan lain seperti sekolah, kantor pemerintahan, puskesmas, dan tempat beribadah," kata Wisnu Widjaja saat ditemui di ruangannya, Kamis (30/11) kemarin.

Puluhan ribu lahan pertanian yang terancam kena erupsi adalah yang berada di radius 8-10 kilometer dari puncak gunung. Diantaranya sawah seluas 26,49 ha, sawah tadah hujan 905,56 ha, perkebunan 4.622 ha, tegalan 8.017 ha, hutan rimba 4.436.67 ha, padang rumput 2.139 ha, semak belukar 5.158 ha, dan sisanya vegetasi non budidaya.

Dari sejumlah jenis lahan pertanian, kemungkinan yang banyak alami kerugian yakni sawah dan perkebunan. Di sana banyak tanaman warga, seperti padi, kacang-kacangan, umbi-umbian, serta tanaman buah. Sedangkan semak belukar, hutan rimba, dan padang rumput, jumlah kerugian diperkirakan sangat dikit.

Jika dinominalkan, kata Wisnu Widjaja, kerugian di sektor pertanian bisa mencapai Rp 10 - 20 miliar. Kerugian ini tidak termasuk infrastruktur milik pemerintah dan perumahan warga sekitar KRB (Kawasan Rawan Bencana) III dan II.

"Kalau dihitung kerugian di semua sector ya sampai triliun. Kerugian yang dialami lahan pertanian itu baru perkiraan kita, belum pasti,"akuinya.

Lahan pertanian yang terkena dampak erupsi kemungkinan proses pemulihannya lama. Material erupsi yang dibawa air hujan memiliki dampak cukup signifikan terhadap tingkat kesuburan tanah.

Sedangkan banjir lumpur yang terjadi sekarang, dan mengaliri sawah warga belum begitu bahaya, menurut Wisnu Widjaja. Tanaman masih bisa dipanen.

"Kita sudah membuat rencana pra letusan (pre-disaster plan). Artinya sebelum kejadian kita sudah pikirkan dampaknya. Karena kemungkinan yang terdampak sudah ada. Seperti sawah kena lahar sehingga tidak bisa dipakai. Penggantiannya seperti apa, itu sudah disiapkan. Masalah ini harus dipikirkan," kata pria kelahiran Singaraja ini.

Ditambahkan, sawah yang kena lahar dingin kemungkinan lama dikembalikan jadi persawahan. Waktu pemulihan 4 - 5 tahun lebih. Pihaknya berencana koordinasi dengan Dinas Pertanian soal penanganan bahaya lahar dingin yang mengaliri sawah."Harapannya biar warga tak rugi banyak," jelas Wisnu Widjaja.

Seperti diketahui, sejumlah sawah warga di Karangasem dialiri lumpur yang dibawa hujan. Itu terjadi di sawah-sawah di beberapa desa di Kecamatan Selat, Bebandem, serta Rendang. Sawah warga yang berada di pinggir jalan pun turut terkena lumpur. Sebagian petani memanen tanamannya lebih awal.

Sebelumnya, Direktur Pemulihan Peningkatan Sosial Ekonomi BNPB, Agus Wibowo memprediksi, kerugian total akibat erupsi Gunung Agung di kawasan rawan bencana (KRB) ditaksir mencapai sekitar Rp 4 sampai 5 triliun. Kerugian meliputi kerusakan rumah warga di KRB, sekolah, puskesmas, tempat ibadah, serta kerugian di sektor pertanian.

Pria asli Yogjakarta menjelaskan, kerusakan bangunan diperkirakan mencapai ribuan unit yang tersebar di kawasn rawan.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), rumah yang berada di zona rawan berjumlah 52.229 unit. Gedung kesehatan sebanyak 287 unit, yang meliputi puskesmas, posyandu, serta poliklinik

Masjid sebanyak 2 unit dan pura 407 unit. Bangunan sekolah sekitar 139 unit yang meliputi TK, SD, SMP dan SMA / SMK. Jumlah jembatan yang diperkirakan rusak sebanyak 98 unit ukuran besar dan kecil. Panjang jalan yang berada sekitar kawasan rawan 43.108 kilometer, tersebar di tujuh kecamatan di Karangasem.


Gempa 3,5 SR Guncang Karangasem, Begini Rekomendasi PVMBG

 Gempa berkekuatan 3,5 skala richter kembali dilaporkan terjadi di wilayah Timur Laut Karangasem-Bali dengan kedalaman 6 Kilometer, Jumat (1/12/2017).

Gempa yang terjadi sekitar pukul 21.54 Wita langsung dikabarkan oleh PVMBG dan merekomendasikan kesiapsiagaannya terkait aktivitas Gunungapi Agung.

Bahkan, PVMBG meminta seluruh warga untuk tidak beraktivitas di kawasan rawan bencana (KRB) radius 8-10 kilometer terkait gempa yang baru saja terjadi.

“Berkaitan dengan Gempa Terasa Magnitudo 3.5 SR kedalaman 6 km pada 1 Desember 2017 pukul 21:54 WITA tadi, dimohon agar meningkatkan kesiapsiagaan terkait aktivitas Gunungapi Agung dan agar tidak beraktivitas di dalam radius 8 km dan sektoral 10 km dari puncak ke arah Utara-Timurlaut, Tenggara dan Selatan-Baratdaya. Terima kasih atas kerjasamanya. Pos Pengamatan Gunungapi Agung,” jelas Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pemantauan Gunung api Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana.

PGR 3 Bali:

info Gempa Mag:3.5 SR, 01-Dec-17 20:54:45 WIB,Lok: 8.27 LS - 115.64 BT (17 km TimurLaut KARANGASEM-BALI), Kedlmn: 6 Km ::BMKG

Seperti dikabarkan sebelumnya, sepanjang hari ini, asap abu vulkanik yang keluar dari kawah gunung Agung tampak mereda yakni dengan ketinggian 1500-2000 meter di puncak kawah gunung Agung dengan arah terbangan abu ke arah tenggara.

Selain itu, sejak pukul 00.00 Wita hingga 11.55 Wita juga tidak ada tremor yang terekam oleh alat Seismograf PVMBG

" Penurunan itensitas asap ini fluktuatif. Walau kepulan asap menipis, kita tidak bisa menilai gunung Agung dalam kondisi sudah aman. Data kita menunjukan aktivitas vulkanik gunung Agung masih tinggi," Ujar Kepala Bidang Mitigasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi I Gede Suantika, Jumat (1/12)

Ia menjelaskan, berdasarkan data perekaman sesimik, deformasi, citra satelit dan geokimia, saat ini magma terus keluar untuk memenuhi magma. Sering terlihatnya cahaya glow di atas kawah, juga mengindikasikan magma di kawah masih sangat panas.

Berdasarkan data tersebut, pihak PVMBG juga mengestimasi jika kawah sudah memenuhi 1/3 dari kawah gunung Agung yang memilki diameter luas 900 meter dan kedalaman 200 meter.

"Kita masih merekam gempa vulkanik, yang juga mengindikasikan adanya laju lava yang rata-rata pergerakannya masih stabil. Saat ini kondisi gunung masih dalam fase kritis," jelas Suantika.

Walau mereda, potensi erupsi selanjutnya pun masih tetap ada.

Gunung Agung masih dalam status awas (level IV), sehingga tidak boleh ada aktivitas apapun di radius 8 km, perluasan sektoral 10 kilometer di sisi arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya.

" Kita pantau terus perkembangnya. Walau sekarang relatif menurun, kita tidak bisa menilai gunung Agung sudah mereda sepenuhnya. Harus diikuti dengan data-data lainnya secara berlahan. Hari ini statusnya masih Awas," jelas Suantika.

Kondisi ini pun berlanjut hingga sore hari. Namun sekitar pukul 16.42 Wita, terjadi tremor dengan amplitudo yang cukup tinggi yakni 23 mm, atau 1 mm di bawah overscale.

Tremor ini berdurasi selama 34 menit hingga tremor kembali mengecil pukul 17:16 Wita. Namun kali ini tim PVMBG menemukan beberapa hal yang cukup signifikan, yakni banyak terekamnya gempa low frekuensi yang mencapai 19 kali.

Hal ini mengindikasikan semakin banyak dan semakin cepatnya suplai magma yang berusaha merangsek menuju permukaan.

"Hal yang baru sore ini adalah semakin banyaknya kita rekam gempa low frekuensi yang mencapai 19 kali. Ini artinya adanya aliran fluida magmatik ke permukaan. Atau dengan kata lain, semakin besar suplai magma menuju permukaan," jelas Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pemantauan Gunung api Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana.

Berdasarkan informasi dari data citra satelit yang diterima Rabu (29/11), rata-rata pergerakan magma ke permukaan kawah gunung Agung mencapai 36 meter kubik per detik.

Sehingga jumlah lava di kawah gunung Agung diestimasi sudah berjumlah 20 juta meter kubik, dari total kapasitas kawah gunung Agung yang mencapai 30 juta meter kubik.

"Ini artinya lava sementara baru memenuhi sepertiga kawah gunung Agung. Masih cukup jauh untuk memenuhi hingga bibir kawah. Kita lihat saja pertumbuhan magma ini kedepannya, bisa bertambah, bisa melambat, bisa juga terhenti sama sekali," terang Devy.





sumber : tribun
Share this article :

Visitors Today

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka