Kondisi Pedesaan di Lereng GA Kini Sepi Bak Tanpa Kehidupan - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » , » Kondisi Pedesaan di Lereng GA Kini Sepi Bak Tanpa Kehidupan

Kondisi Pedesaan di Lereng GA Kini Sepi Bak Tanpa Kehidupan

Written By Dre@ming Post on Senin, 04 Desember 2017 | 12/04/2017 12:05:00 PM

Tumbuhan di Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem, Bali mulai berguguran. Kondisi ini terjadi sejak erupsi 21 November 2017.
Tumbuhan dan hewan di sejumlah desa di KRB (Kawasan Rawan Bencana) III mulai mati dan berguguran terdampak erupsi pada akhir November lalu.

Tumbuh-tumbuhan yang mati itu tersebar di lokasi seluas ratusan hektare.

Sedangkan jumlah hewan yang mati mencapai puluhan ekor.

Keadaan itu terjadi antara lain di Desa Dukuh Kecamatan Kubu, serta Desa Sebudi Kecamatan Selat, Karangasem, Bali.

Minggu (3/12/2017), Perbekel Desa Dukuh I Gede Sumiarsa mengatakan, pohon milik warga layu dan mati pasca erupsi Gunung Agung (GA) tanggal 25 November.

Awalnya sedikit yang terkena dampak.

Namun lama kelamaan semakin banyak hingga ke area hutan.

Daun-daun kering pepohonan memenuhi jalan, rumput dan batang pohon mengering.

"Tadi saya sempat pantau desa. Pohon jati, gamal, dan mangga gundul. Tak ada daunnya. Kondisi di Dukuh memprihatinkan. Seperti sudah tak ada kehidupan," kata I Gede Sumiarsa. Ditambahkan, hewan liar seperti anjing dan ayam juga banyak yang mati di Desa Dukuh.

Sumiarsa mengaku, tadi pagi melihat 3 ekor anjing mati. Sebelumnya beberapa ekor ayam bernasib sama.

Untuk ternak belum ada laporan berapa yang mati.

Sebelum erupsi, warga telah mengevakuasi ternaknya ke lokasi pengungsian di Desa Tembok, Buleleng.

Sapi, babi, kambing dan beberapa ayam warga selamat.

"Lokasi pohon-pohon yang gugur dan hewan yang mati sekitar 4 - 5 kilometer dari kawah Gunung Agung," imbuhnya.

Juru bicara Pura Pasar Agung Sebudi, Desa Sebudi Kecamatan Selat, Wayan Suara Arsana juga mengutarakan pohon-pohon yang semula tumbuh subur di wilayah itu kini gugur.

Kemungkinan, sebagian binatang di atas gunung bernasib sama, yaitu mati di tempat.

Cuma warga sekitar belum ada yang tahu.

"Masalah hewan mati, belum ada info. Mungkin sudah ada yang mati, cuma belum ada yang tahu. Di Sebudi sekarang sepi. Tak ada orang beraktivitas di sana. Kalau pepohonan di Desa Sebudi rontok. Hampir semuanya," akui Wayan Suara Arsana.

I Gede Sumiarsa menduga, kejadian ini karena suhu panas di sekitar lereng Gunung Agung meningkat.

Belerang tercium cukup keras, dan hujan abu vulkanik sangat tebal sehingga tumbuhan dan binatang tidak kuat bertahan.

Sumiarsa menduga, binatang yang berada di dekat puncak Gunung Agung kemungkinan sudah mati di tempat.

Cuaca di Dukuh, akui Sumiarsa, sangat berbeda dengan sebelumnya.

Jam 09.00 Wita, suhu di Dukuh sudah panas seperti siang hari.

"Sebelumnya pukul 09.00 Wita, udara di Dukuh sejuk. Sekarang panas. Tadi cuma beberapa menit pantau desa, sudah tidak kuat sehingga langsung balik," imbuh Sumiarsa.

Seperti diketahui, Desa Sebudi dan Dukuh berada di KRB III.

Lokasinya berada sekitar 4 - 6 kilometer dari kawah Gunung Agung.

Seluruh warganya kini telah mengungsi.

Sementara itu, Kepala Sub Bidang Mitigasi Pemantauan Gunungapi Wilayah Timur PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Devy Kamil Syahbana menyebut, bahwa dari luar kondisi Gunung Agung beberapa hari ini terlihat kalem dan tenang.

Namun di dalam tubuh gunung, Devy mengumpakan, kondisinya bergolak.

"Mudah-mudahan gunung masih mampu menahan gejolaknya, dan jangan sampai dimuntahkan seluruh gejolaknya," tulis Devy.

Pasca erupsi 21 November sampai 28 November 2017 terjadi gempa tremor menerus dan gempa overscale (melebihi angka ukuran di alat pencatat gempa atau seismograf).

Kemudian secara visual Gunung Agung tampak tenang, tidak mengeluarkan asap tebal, hanya terlihat kepulan asap putih tipis.

Namun di balik ketenangannya, kata Devy, Gunung Agung tengah gelisah.

Itu ditandai dengan masih terekamnya gempa vulkanik yang cukup signifikan. Artinya, dari segi amplitudo gempa, dia besar. Ini mengisyaratkan masih adanya akumulasi tekanan di dalam tubuh Gunung Agung.

"Sampai hari ini (kemarin, red), secara visual kalau kita lihat memang tidak teramati lagi konsentrasi abu di atas kawah Gunung Agung. Asap yang keluar dominan berupa S2O atau uap air. Walaupun secara visual uap air itu tidak signifikan, tapi ini bertolak belakang dengan apa yang kami rekam di seismik kegempaan," jelas Devy, Minggu (3/12/2017), saat ditemui di Pos Pengamatan Gunungapi Agung, Rendang, Karangasem.

Devy mengungkapkan, teramati sejak pukul 20.00 Wita kemarin, terekam gempa vulkanik yang cukup signifikan.

Artinya dalam segi amplitudo yang terekam cukup besar.

80 Jembatan di Karangasem Perlu di Cek Sebelum Diterjang Lahar Hujan Gunung Agung

Deputi I BNPB (Badan Nasional Penanggulangan bencana), Wisnu Widjaja mengatakan bahwa jembatan-jembatan yang terancam ambruk sekitar 80 buah seandainya erupsi Gunung Agung terjadi lagi.

Sebagian besar jembatan itu berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III, II, I serta ada juga jembatan di kawasan aman.

Semua jembatan di Kabupaten Karangasem.

Jembatan-jembatan yang rawan ambruk diterjang lahar dingin itu tersebar di Kecamatan Rendang, Selat, Kubu, Karangasem, Manggis, serta Sidemen.

Wisnu menambahkan, Pemerintah Daerah (Pemda) Karangasem harus cek kondisi jembatan yang menjadi penghubung antar Kecamatan dan jembatan kehadirannya sangat mendesak.

Digunakan sebagai jalur evakuasi warga serta pendistribusian logistik ke posko pengungsian, jika jembatan terputus, maka petugas kesulitan evakuasi.

"Jembatan itu sangat mendesak. Sebelum terjadi erupsi, pejabat daerah harus mengecek kondisinya. Kalau aliran lahar sekunder (hujan) deras, jembatan itu bisa ambruk. Menurut data BNPB, 80 jembatan harus segera dicek. Jangan menunggu lahar hujan datang," tambah Wisnu.

Sementara itu, satu diantaranya jembatan yang bisa terdampak lahar hujan adalah Jembatan Tukad Yeh Sah, Kecamatan Selat.

Kepala Dinas (Kadis) Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Karangasem, Ketut Sedana Merta mengakui Jembatan Tukad Yeh Sah rawan.

Jembatan yang berusia belasan tahun itu akan dialiri lahar hujan seandainya erupsi besar terjadi.

Jika volume lahar yang mengalir cukup banyak, itu berpengaruh pada pondasi jembatan.

"Katanya jembatan goyang saat diterjang lahar hujan pada 28 November yang lalu. Karena itu, petugas Dinas Pekerjaan Umum Bali langsung pantau ke lokasi," kata Sedana Merta, Minggu (3/12/2017)

Mantan Kepala Bappeda Karangasem ini menjelaskan, jembatan yang menghubungkan Kecamatan Selat dan Rendang ini pancangnya akan diperkuat.

Alirannya dibagi 2 agar pondasi jembatan tidak diterjang lahar hujan. Harapannya, masyarakat tetap bisa melewati jembatan jika erupsi, sehingga warga tak terisolasi.

"Pancang jembatan sudah ditumpuki batu biar tambah kuat. Alirannya di bagi dua biar pancang jembatan tak dihantam lahar hujan. Ini sudah cukup kuat jika lahar dingin menerjang jembatan," terang Sedana Merta.

Untuk jembatan-jembatan yang lain, kata dia, masih dianggap aman dan pondasi jembatan masih kuat.

Pemerintah saat ini fokus pada jembatan yang rawan ambruk jika terkena lahar dingin.

Mengenai berapa jumlah jembatan yang terancam ambruk diterjang lahar hujan jika erupsi, Sedana Merta belum bisa pastikan dengan alasan belum mendapat laporan.











sumber : tribun
Share this article :

Visitors Today

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka