Kecuali Area 8-10 Km dari GA, Status Bali Kini Waspada - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » , » Kecuali Area 8-10 Km dari GA, Status Bali Kini Waspada

Kecuali Area 8-10 Km dari GA, Status Bali Kini Waspada

Written By Dre@ming Post on Selasa, 19 Desember 2017 | 12/19/2017 02:19:00 PM

Para pemangku kepentingan pariwisata yang tergabung di Bali Tourism Board (BTB) membahas kondisi terkini di kantor BTB, Renon, Denpasar.
DENPASAR – Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya kemarin mendatangi Bali dan ingin mengetahui kondisi terkini Gunung Agung (GA) serta kondisi pariwisata di Bali.

Sejak Senin (18/12/2017) pukul 06.00 Wita, Arief bersama para pemangku kepentingan pariwisata yang tergabung di Bali Tourism Board (BTB) membahas kondisi terkini di kantor BTB, Renon, Denpasar.

“Kami membahas sejumlah hal, salah-satunya tentang rencana promosikan Bali besar-besaran. Ini didorong oleh keputusan pemerintah yang dinyatakan oleh Menteri Koordinator Kemaritiman pada 15 Desember lalu bahwa status Bali sekarang Waspada (Level II) kecuali area yang 8-10 Km dari pusat Gunung Agung. Jadi kita ubah statusnya,” kata Arief.

Dengan status Waspada ini, kata dia, maka industri pariwisata bisa mempromosikan Bali secara besar-besaran.

Sebab, jika statusnya masih Awas, maka secara etika tidak boleh lakukan promosi pariwisata besar-besaran.

Ia menegaskan, perubahan status ini didapatkan dari Menko Kemaritiman Luhut B. Panjaitan.

“Jadi PVMBG melapor ke kepalanya, dan kepalanya melapor ke Menteri ESDM, dan Menteri ESDM melapor kepada Menko Kemaritiman. Kenapa Menko Kemaritiman? Karena Menteri ESDM di bawah koordinasi Kemenko Kemaritiman. Kementerian Pariwisata juga bertanya ke Menteri Pariwisata maunya apa,” jelas Arief kepada media usai rapat tertutup.

Namun di luar isu tersebut, ia memastikan pelayanan kepada turis akan lebih baik ke depan.

“Semua mitigasi kami pikirkan. Jangan khawatir, saya sudah pikirkan,” tegasnya. Mengenai info kekacauan mitigasi, khususnya penanganan turis asing yang penerbangannya batal karena Bandara Ngurah Rai tutup akibat erupsi Gunung Agung pada 26 November lalu, Arief mengaku mitigasi ke depan sedang dibicarakan.

Ia mengakui, mitigasi erupsi Gunung Agung pada 26 November itu memang masih ada ketidaksempurnaan.

“Misal tentang akomodasi (menginap di hotel), kami sebetulnya imbau pada hari itu free (digratiskan), dan hari kedua hotel beri diskon. Sebagian besar hotel mengikuti imbauan kami, dan itu bagus. Tapi ada juga yang tidak mengikuti atau masih memungut tarif hotel ke turis yang tertunda kepulangannya karena bandara ditutup. Nah, hotel yang tidak memberi free sesuai imbauan Kemenpar sebaiknya tidak dipilh lagi oleh tamu,” kata Arief Arief

Arief mengungkapkan, sebagian besar hotel mengikuti imbauan itu sudah bagus.

“Nah yang tidak mengikuti tidak usah dipilih lagi (sebagai tempat menginap selama di Bali),” imbuhnya.

“Kedua akses, kami akan minta kepada Kemenhub plan B-nya, seandainya itu terjadi maka ada operasi terintegrasi antara Bandara Bali, Lombok, dan Banyuwangi,” jelasnya.

Ia harapkan Jumat nanti akan dilakukan rapat, dan menteri perhubungan (Menhub) hadir mengatur rencana mitigasi dalam hal transportasi.

Terutama dalam pemberian akses serta mengantar turis yang batal terbang ke Bandara Lombok dan Banyuwangi.

“Misalnya, dari transportasi hotel ke bandara bisa difasilitasi, dan soal dana sudah kami bicarakan. Jadi kalau bisa akan dibiayai oleh Kabupaten Badung untuk penyediaan transport gratis bagi wisman ke airport terdekat, yakni ke Banyuwangi atau Lombok,” katanya.

Jumlah bantuan dana ini diperkirakan total sekitar Rp 46 miliar, yang berasal baik dari pemerintah kabupaten, provinsi, atau pemerintah pusat.

“Dana ini untuk transportasi darat,” tegasnya.

Tentang Bali berstatus Waspada, kata Arief, hal itu untuk me-recovery, sebab telah diumumkan status Bali berada di level II bukan di level IV.

Anggarannya total Rp 100 miliar untuk promosi, dan lebih banyak dalam bentuk selling.

“Dengan selling diharapkan promosi itu langsung menjual, misal diskon 40 persen, diskon 50 persen,” katanya.

Dengan demikian, lebih banyak hard selling, dan dilakukan baik terhadap turis wilayah domestik maupun internasional.

Sementara untuk turis China, yang belakangan membatalkan semua kunjungannya ke Bali karena adanya erupsi, Arief mengatakan bahwa pihaknya akan segera bertemu dengan Konsulat Jenderal (Konjen) China di Bali. “Sebenarnya mereka akan datang lagi kalau travel warning-nya dicabut,” tegas Arief.

Travel warning ini, jelas dia, berasal dari status Awas (IV) Gunung Agung.

“Logikanya harus turun atau dicabut travel warning itu. Kalau gak turun, saya akan ke China dan langsung bertemu menteri pariwisata China untuk jelaskan kondisi Bali terkini,” katanya.

Turis China memang drop cukup besar, bahkan hampir nol ke Bali.

Jika berhasil berdiplomasi dengan Konjen China, Arief berharap Januari 2018 turis asal China akan segera datang.

“Travel warning bisa diperpanjang oleh China, tapi aneh kalau diperpanjang. Kan pemerintah Indonesia sudah menurunkan status Bali ke level II dan ini hampir normal,” katanya.

Target Bali sendiri untuk jumlah kedatangan wisman (wisatawan mancanegara)_ adalah 5,5 juta orang.

Tetapi Kemenpar menargetkan Bali bisa raih 6 juta turis asing tahun 2017 ini.

“Sampai Oktober sudah bagus, sudah 5 juta wisman. Rata-rata kunjungan per bulan sekitar 500 ribu wisman. Jadi semestinya tercapai 6 juta, karena saya proyeksi bulan Desember seharusnya Bali kedatangan sudah 750 ribu wisman,” katanya.

Namun, karena adanya erupsi Gunung Agung, ia memperkirakan kunjungan wisman ke Bali hanya 5,5 juta hingga tutup tahun.

Sementara untuk 2018, Arief Yahya menargetkan Bali akan didatangi 7 juta wisman.

“Target tidak boleh turun, walau ada status Gunung Agung ini di tahun 2017. Sebab kita masih kalah dengan negara lain, Malaysia itu 25 juta wisman, Thailand 32 juta, Bangkok sendirian saja mengalahkan Bali, karena dikunjungi sekitar 18 juta. Padahal Bangkok itu kota dan Bali pulau, jauh lebih lengkap dan jauh lebih dalma hal apapun Bali dibanding Bangkok,” tegasnya.

Total nasional kehilangan (loss) wisman akibat erupsi Gunung Agung adalah 1 juta orang, dan 1,2 miliar dolar atau sekitar Rp 15 triliun potensi pemasukan pun melayang.

Untuk Bali saja, loss akibat erupsi Gunung Agung sekitar Rp 250 miliar per hari.

“Mulai erupsi sampai akhir tahun kira-kira 36 hari, jadi sekitar Rp 9 triliun kerugian Bali saja. Kalau nasional kerugian sekitar Rp 15 triliun,” sebut Arief.

Namun ia melihat kunjungan sudah mulai bagus, dan laporan hari ini telah mencapai 11 ribu orang tiba di Bandara Ngurah Rai, dibandingkan sebelumnya yang hanya 3.000-6.000 kedatangan wisman per hari setelah erupsi.

“Jumlah wisatawan domestik ke Bali 1,5 kali lipat dari wisman. Total sekitar 9 juta orang,” katanya.

Gunung Tetap Awas

Sementara itu, laporan aktivitas Gunung Agung periode pengamatan pukul 18:00-24:00 Wita pada Senin (18/12/2017) menunjukkan bahwa asap kawah bertekanan sedang teramati berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tebal dan tinggi 1.500 meter di atas puncak kawah.

Teramati sinar api atau glow dari Pos Pantau di Rendang, yang berasal dari CCTV Pos Rendang dan CCTV Pos Batulompeh..

Terjadi hembusan sebanyak 19 kali dengan amplitudo 4-17 mm, dan durasi 35-80 detik.

Vulkanik dangkal berjumlah 6 kali dengan amplitudo 3-8 mm dan durasi 10-20 detik. Sedangkan tremor menerus (microtremor)terekam dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm)

Kesimpulannya, aktivitas Gunung Agung masih di Level IV atau Awas. Status Level IV (Awas) ini hanya berlaku pada radius 8-10 km dari puncak gunung. Di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman.






sumber : tribun
Share this article :

Visitors Today

Dr.KidS

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka