Hujan Abu GA Bulat Seperti Mutiara, Warga Bingung Pertanda Apa? - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » , , » Hujan Abu GA Bulat Seperti Mutiara, Warga Bingung Pertanda Apa?

Hujan Abu GA Bulat Seperti Mutiara, Warga Bingung Pertanda Apa?

Written By Dre@ming Post on Sabtu, 09 Desember 2017 | 12/09/2017 03:27:00 PM

Gunung Agung Saat Mengeluarkan Asap Pekat, Sabtu (9/12/2017) pukul 09.50 WITA (kiri). Abu di Gunung Agung turun di Desa Ban, Karangasem, Bali, Sabtu (9/12/2017) berbentuk butiran seperti mutiara (tengah, kanan)
Warga Desa Ban Merasakan Hujan Abu Seperti Mutiara Turun Dari Gunung Agung

Hujan abu vulkanik kembali melanda Kecamatan Kubu, tepatnya di Desa Ban, Karangasem, Bali, Sabtu (9/12/2017) sekitar pukul 08.00 Wita.

Hanya saja hujan abu sekarang dirasa aneh.

Bentuk abunya berbeda dengan abu yang turun saat erupsi sebelumnya.

Perbekel Desa Ban, I Wayan Potag mengatakan, bentuk abu yang keluar dari Gunung Agung (GA) bulat seperti mutiara.

Cuma diameternya lebih kecil dari mutiara.

Hujan abu tadi menyisir seluruh Banjar di Desa Ban. Kemungkinan juga menyisir desa lain di Kubu.

"Kejadiannya saat saya sedang di rumah. Hujan abu tadi lumayan. Tapi tak ada korban. Warga Ban di KRB III dan II sudah kosong, sepi. Yang masih bertahan yakni warga Ban KRB I. Seperti Banjar Ban, Panek, dan Manik Aji," katanya.

Ditambahkan, hujan abu hari ini memang aneh.

Banyak warga yang bertanya karena bentuk abunya bulat seperti mutiara.

Bunyinya cukup keras saat jatuh ke rumah warga beratapkan seng.

Seperti bunyi hujan jatuh ke rumah beratapkan seng.

"Kita belum tahu ini hujan apa. Aneh sekali. pertanda apa?, kita juga belum tahu.Masalah ini sudah dikomunikasikan dengan pasemetonan jaga baya (pasebaya)," tambah I Wayan Potag.

Seperti diketahui, Desa Ban terdiri dari 15 Banjar Dinas. Sebanyak 6 Banjar Dinas masuk KRB III, 6 Banjar Dinas masuk KRB II, dan 3 Banjar Dinas masuk KRB I.

Untuk warga di KRB III dan II semua mengungsi. Sedangkn KRB I masih bertahan di rumah.

Hujan Abu Guyur Desa Ban Hingga Atap Bersuara, PVMBG Menduga Itu Lapili

Hujan lapili mulai mengguyur Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem, Bali, Sabtu (9/12/2017).

Hujan Lapili terjadi sekitar pukul 08.30 Wita, atau sesaat setelah gunung Agung mengalami erupsi dan mengeluarkan asap pekat setinggi sekitar 2000 meter.

Perbekel Desa Ban, Kubu, I Wayan Potag menjelaskan, hujan lapili tersebut sempat mengagetkan masyarakat dirinya.

Hujan lapili bahkan sampai membuat atap seng di kediamannya bersuara.

"Seperti hujan abu, tapi lebih besar. Bentuknya bulat, dan menyerupai seperti pelor. Membuat atap seng sampai berbunyi. Setelah diambil dan diremukan, dia jadi debu," ujar Wayan Potag

Hujan lapili tersebut berlangsung singkat, atau kurang dari 1 menit mengikuti awan.

Lapili itupun lalu diambil oleh Wayan Potag, dan dimasukannya ke dalam plastik.

"Saya sudah masukan ke dalam plastik. Nanti biar bisa dicek oleh petugas, ini sebenarnya apa," jelasnya.

Sementara, Kepala Bidang Mitigasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi I Gede Suantika menjelaskan, kemungkinan besar benda yang jatuh di Desa Ban yang berjarak 3 Km dari puncak gunung Agung tersebut adalah Lapili.

Lapili adalah material vulkanik berupa abu, namun memiliki ukuran yang lebih besar.

"Kemungkinan besar itu Lapili, itu lumrah keluar saat gunung mengalami erupsi. Tapi nanti akan kita pastikan lagi, dan kita ambil sampelnya," jelas Gede Suantika.

Sementara, Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pemantauan Gunung api Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana menjelaskan, butiran berwarna abu berbentuk bundar produk erupsi Gunung Agung di atas dalam istilah vulkanologi dinamakan Accretionary Lapilli.

Ini dapat terbentuk pada kolom erupsi karena kondisi kelembaban dan gaya elektrostatis.

Kondisi yg dimaksud terjadi di saat material abu berinteraksi dengan air, bisa air dari kawah (sehingga ini sering diasosiasikan dengan letusan freatomagmatik).

Tapi kelembaban ini juga bisa bersumber pada kondisi meteorologis, misal, abu yang disemburkan berinteraksi dengan awan hujan.

"Nah saat kondisi-kondisi itu terpenuhi maka kumpulan abu tersebut menjadi berbentuk bulat. Jadi itu sebenarnya masih abu tapi terkumpul jadi berbentuk granule," Jelas Devy

Warga Bingung Pertanda Apa

Hujan abu vulkanik kembali melanda Kecamatan Kubu, tepatnya di Desa Ban, Karangasem, Bali, Sabtu (9/12/2017) sekitar pukul 08.00 Wita.

Hanya saja hujan abu sekarang dirasa aneh.

Bentuk abunya berbeda dengan abu yang turun saat erupsi sebelumnya.

Perbekel Desa Ban, I Wayan Potag mengatakan, bentuk abu yang keluar dari Gunung Agung bulat seperti mutiara.

Cuma diameternya lebih kecil dari mutiara.

Hujan abu tadi menyisir seluruh Banjar di Desa Ban. Kemungkinan juga menyisir desa lain di Kubu.

"Kejadiannya saat saya sedang di rumah. Hujan abu tadi lumayan. Tapi tak ada korban. Warga Ban di KRB III dan II sudah kosong, sepi. Yang masih bertahan yakni warga Ban KRB I. Seperti Banjar Ban, Panek, dan Manik Aji," katanya.

Ditambahkan, hujan abu hari ini memang aneh.

Banyak warga yang bertanya karena bentuk abunya bulat seperti mutiara.

Bunyinya cukup keras saat jatuh ke rumah warga beratapkan seng.

Seperti bunyi hujan jatuh ke rumah beratapkan seng.

"Kita blum tahu ini hujan apa. Aneh sekali. pertanda apa ?, kita juga belum tahu.Masalah ini sudah dikomunikasikan dengan pasemetonan jaga baya (pasebaya)," tambah I Wayan Potag.

Seperti diketahui, Desa Ban terdiri dari 15 Banjar Dinas. Sebanyak 6 Banjar Dinas masuk KRB III, 6 Banjar Dinas masuk KRB II, dan 3 Banjar Dinas masuk KRB I.

Untuk warga di KRB III dan II semua mengungsi. Sedangkn KRB I masih bertahan di rumah.

12 Jam Terakhir, Angin Sempat Terbangkan Abu Vulkanik ke Lereng Utara Gunung Agung

Cuaca tampak cerah di Pos Pantau Gunung Api Agung di Desa/Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali, Sabtu (9/12/2017).

Gunung Agung yang terletak di sisi utara Pos Pantau, terlihat begitu jelas.

Gunung Agung pun menunjukan aktivitas vulkaniknya.

Berdasarkan pantuan tim PVMBG, sejak pukul 00.00 Wita hingga 12.00 Wita Sabtu (9/12/2017), Gunung Agung sudah 8 kali mengalami letusan.

"Gunung Agung masih mengalami erupsi efusif, yang berlangsung secara sporadis. Artinya abu keluarnya berlangsung fluktuatif. Jika letusannya cukup besar, abu akan terlontar ke atas kawah dan memunculkan asap pekat berwarna kelabu," ujar Kepala Bidang Mitigasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, I Gede Suantika, Sabtu (9/12/2017).

Letusan yang terjadi mengakibatkan asap bercampur abu vulkanik, dengan ketinggian maksimum 2.100 meter di atas puncak Gunung Agung.

Angin membawa abu vulkanik terbang ke lereng utara Gunung Agung, dan jatuh di wilayah Kecamatan Kubu, Karangasem dan sekitarnya.

"Kami terima laporan, hujan abu mengguyur wilayah di lereng utara Gunung Agung," Jelasnya.









sumber : tribun
Share this article :

Visitors Today

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka