Tetaplah Percaya PVMBG!, 1000 Pemedek di Besakih Doakan GA Tidak Meletus - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » , , » Tetaplah Percaya PVMBG!, 1000 Pemedek di Besakih Doakan GA Tidak Meletus

Tetaplah Percaya PVMBG!, 1000 Pemedek di Besakih Doakan GA Tidak Meletus

Written By Dre@ming Post on Kamis, 02 November 2017 | 11/02/2017 08:15:00 PM

Gunung Agung dan Devy Kamil Syahbana, Kasubid Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG. (Kanan). Sejumlah umat Hindu usai melaksanakan sembahyang Hari Raya Galungan di Pura Besakih, Karangasem, Rabu (1/11). (kiri)
Adakah yang Salah dalam Penetapan Status Awas Gunung Agung?

AMLAPURA - Mengomentari komentar dari orang-orang yang tidak ikut melihat dan menganalisis perkembangan data aktivitas Gunung Agung (GA) secara komprehensif tentu adalah hal yang percuma saja.

Kami pun belum pernah melihat analisis para komentator itu terhadap data yang ada. Kecuali jika memang ada analisisnya, maka itu akan kami pelajari.

Dari awal selalu disampaikan bahwa PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) hanya berbicara sesuai tugas dan fungsinya untuk pemantauan aktivitas gunung api dan potensi ancaman bahayanya.

Tidak mau lebih, dan tidak boleh kurang. Tapi ternyata penjelasan memang diperlukan, karena bisa terjadi salah persepsi atau salah paham.

Jujur saja saya agak gemas dengan pemberitaan di sebuah surat kabar nasional, dan terkesan pemberitaan itu kurang obyektif dan memiliki tendensi untuk menunjukkan bahwa PVMBG era sekarang telah salah dalam mengambil keputusan untuk menetapkan status Awas Gunung Agung.

Sedihnya, penulis tidak melakukan penelitian yang mendalam dan terlalu mudah menyimpulkan di permukaan.

Keputusan naik ke status Awas tentu diambil berdasarkan data-data yang kami olah secara hati-hati dengan prosedur yang sama seperti dalam pengambilan keputusan untuk gunungapi-gunungapi lain sebelumnya.

Kalau karena pemberitaan ini nanti masyarakat sampai pada titik dimana mereka akhirnya tidak mau lagi mempercayai PVMBG karena beranggapan keputusan PVMBG tidak tepat, maka ke depan jika terjadi bencana yang diakibatkan karena masyarakat sudah tidak mau lagi mengikuti rekomendasi PVMBG, bagaimana nanti pertanggungjawaban moral penulis dan para komentator itu?

Perlu diingat, episode krisis Gunung Agung saat ini belum selesai betul. Euforia Gunung Agung kembali (berstatus) Normal belum saatnya digaungkan, meskipun tentu kita sama-sama mendoakan agar aktivitas gunung itu segera reda sepenuhnya.

Promosi bahwa Bali Aman tentu sah saja. Kan setiap siaran pers PVMBG selalu mengatakan bahwa masih aman untuk berwisata atau berkunjung ke Bali asal tidak memasuki radius bahaya.

Silakan cek dengan teliti semua siaran pers kami. Kami tidak menakut-nakuti orang untuk tidak datang ke Bali.

Menurut saya, saat ini belum waktu yang tepat mengedepankan persoalan salah dan benar dalam keputusan menaikkan status ke Awas.

Jika memang itu yang dibutuhkan, bisa dilakukan nanti setelah krisis di Gunung Agung ini telah benar-benar berakhir.. Yaitu setelah aktivitas Gunung Agung sudah benar-benar kembali normal, dan jika diperlukan, kita bahas secara internasional dengan mendengar pendapat dari para ahli di dunia.

Untuk informasi saja, meski krisis Gunung Agung ini belum selesai, PVMBG sudah diundang untuk berbicara di forum COV 10 di Napoli, Italia tahun depan.

Aneh ya, justru dunia internasional yang sangat mengapresiasi pekerjaan PVMBG yang dilakukan di Gunung Agung, bahkan disebutnya PVMBG telah berhasil melakukan pekerjaannya dengan baik (mereka menyebutnya “remarkable works") dan mengedepankan upaya pengurangan risiko bencana sebelum bencana terjadi.

Ahli dunia dari Amerika Serikat (misalnya Kepala VDAP-USGS John Pallister) yang tergabung dalam forum diskusi ahli gunungapi dunia untuk Gunung Agung pun sepakat dan menganggap bahwa alasan PVMBG menaikkan status ke Awas adalah hal yang masuk akal dan tepat.

Ahli penginderaan jarak jauh (remote sensing) dari 8 negara maju di dunia juga menunjukkan bahwa hasil pemantauan satelit sejalan dengan data PVMBG.

Jadi tidak ada alasan meragukan validitas data kami yang sudah diverifikasi ahli di dunia, kecuali jika ada ahli lain di Indonesia yang bisa menunjukkan dimana tidak validnya. Nanti setelah saya kembali ke Pos Pemantauan Gunungapi Agung di Rendang, saya akan tunjukkan email-email dari mereka.

Saat ini, menurut saya, hal yang paling tepat dilakukan adalah mendidik dan menginformasikan ke semua pihak, instansi maupun masyarakat, bahwa peringatan dini gunung api merupakan hal yang bersifat probabilistik dimana unsur ketidakpastian selalu dimasukkan.

Saat status naik ke Awas, kami menyampaikan ke masyarakat secara jujur bahwa probabilitas untuk terjadi letusan saat itu lebih tinggi daripada tidak terjadi letusan. Dan probabilitas itu bisa berubah terhadap waktu, tergantung kemauan gunungnya. Probabilitas itu dihitung dan bukan diterawang.

Ahli vulkanologi manapun tidak ada yang mampu memastikan kapan terjadinya letusan. Saat probabilitas untuk letusan sudah lebih tinggi daripada tidak meletus, maka kita harus mengambil keputusan yang tidak mengorbankan masyarakat.

Lalu lihatlah surat penurunan status, dibaca dengan hati-hati, PVMBG betul-betul menunggu tren menurun, bukan sekali turun langsung turun status. Kami analisis secara komprehensif, karena kami paham bahwa ini berkaitan dengan nyawa manusia.

Mengenai kerugian ekonomi yang terjadi, seharusnya perlu diselidiki dengan teliti kenapa sebegitu banyak kerugian yang terjadi padahal letusan belum terjadi? Apakah karena semata keputusan PVMBG menaikkan status ke Awas? Atau karena tata ruang bagi permukiman, obyek wisata, industri, kegiatan perekonomian lain dll yang belum mempertimbangkan Peta Kawasan Rawan Bencana sebagai dasarnya? Atau karena kegagalan menyampaikan informasi yang tepat?

Tapi tentu kita jangan saling tuding. Kita ini sebangsa, tujuannya sama baiknya. Kita justru perlu saling menguatkan bukan saling melemahkan. Menunjukkan kelemahan pihak lain tidak akan membuktikan bahwa kita lebih kuat dan hebat.

Perlu diketahui, panduan kami untuk menaikkan ke status Awas tertera pada Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 15 Tahun 2011. Isinya, Level IV (Awas) artinya adalah: Berdasarkan hasil pengamatan secara visual dan/atau instrumental teramati peningkatan kegiatan yang semakin nyata atau dapat berupa erupsi yang mengancam permukiman di sekitar gunungapi berdasarkan karakteristik masing-masing gunungapi.

Karakteristik letusan Gunung Agung bisa dilihat dari jejaknya, yakni sangat eksplosif. Untuk memodelkan bahaya pada krisis kali ini, kami tidak menggunakan skenario 1963 (VEI 5). Hal ini berdasarkan pertimbangan teknis dan data pemantauan kami.

Kami saat itu 'hanya' menggunakan skenario VEI 3. Tapi sebetulnya kami menyiapkan semua skenario. Dengan skenario VEI 3, dengan asumsi bahwa volume dalam satu kali lontaran letusan sebesar 10 juta m3, maka area yang dapat terlanda adalah seperti rekomendasi Awas tempo hari (radius 9 km dan perluasan 12 km).

Saat kami menurunkan status, kami juga menggunakan skenario lain, yaitu volume 2,5 juta m3. Dengan volume tersebut, jika terjadi letusan maka yang berpotensi terlanda adalah radius 6 km dan perluasan 7,5 km.

Anda silakan buat profil topografi dari puncak sampai lereng Gunung Agung, sangat curam sekali. Lereng Gunung Agung itu lebih curam daripada Gunung Sinabung.

Untuk ke sektor selatan, hampir sama dengan profil Merapi yang ke arah Kali Gendol. Tapi untuk dari Puncak Gunung Agung ke Utara, gunung Agung lebih curam lagi. Itulah sebabnya mengapa area bahayanya bisa luas sekali.

Setelah PVMBG mendeklarasikan status Awas, seluruh instansi baru memulai koordinasi, membangun jaringan komunikasi yang sebelumnya tidak ada, menyiapkan infrastruktur baru (sirine dll) dan banyak hal lain untuk meningkatkan kesiapsiagaan.

Lalu setelah lama belum juga meletus, sebagian orang justru kecewa letusan belum juga terjadi. Seolah letusan harus terjadi kalau status Awas sudah dideklarasikan. Bahkan ada yang mengatakan paling lama 2 minggu (setelah status Awas) seharusnya sudah meletus. Itu sebuah argumen yang tidak tepat, yang tidak akan keluar dari ahli gunung api (volcanologist) manapun di dunia, karena menyebut 2 minggu itu sangat deterministik sekali. Padahal vulkanologi adalah sains probabilistik.

Saya pikir kalau memang diminta dalam tempo maksimum 2 minggu setelah dinyatakan Awas itu harus meletus, maka lain kali PVMBG hanya akan menaikkan status ke Awas kalau tremor menerus sudah muncul, supaya lebih menjamin bahwa kemungkinan besar letusan terjadi dalam waktu yang tidak lama lagi (bisa hitungan menit, jam dan kalau beruntung hitungan hari sampai minggu). Mudah sekali bagi kami kalau memang diminta demikian!

Kami kemarin tidak melakukan itu karena kami tidak ingin kita semua terlambat untuk bersiap. Siapa yang berkomentar tidak setuju ke kami langsung pada saat kenaikan status Awas saat itu? Tidak ada !

Baru ada yang komentar kan saat ini, setelah melihat data menurun. Tapi biarlah. kami tidak punya waktu untuk mendendam. Kami hanya fokus pada pekerjaan, serta berniat dan berupaya yang terbaik.

Seharusnya kita bersyukur, karena meskipun telah dibombardir lebih dari 27 ribu gempa, Gunung Agung masih memberi kedamaian untuk kita. Kita ambil hikmah baiknya bahwa sekarang kita sudah lebih siap secara infrastruktur untuk komunikasi dan koordinasi jika suatu saat Gunung Agung naik kembali aktivitasnya.

O iya, saya barusan membuat ringkasan timeline aktivitas Gunung Agung, yang sebetulnya sudah termuat di surat (PVMBG) tentang perubahan status.

Saya ubah ke visualisasi kartun, karena biasanya kalau dalam kartun bisa lebih dipahami. Mudah-mudahan kartun itu bisa bermanfaat untuk memahami krisis.

Rayakan Galungan Seribu Pemedek Berdoa di Pura Besakih, Pemedek Doakan Gunung Agung tidak meletus

AMLAPURA - Sekitar seribu pemedek datang bersembahyang ke pura Besakih di Desa Adat Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, serangkaian perayaan Galungan, Rabu (1/11).

Gusti Ngurah Alit, pemedek sekaligus tokoh Desa Adat Besakih mengatakan, krama berdatangan ke Pura Besakih untuk sembahyang sejak pukul 07.00 Wita.

Menurut perhitungan dia, jumlah pemedek tak sama dengan Hari Raya Galungan sebelumnya. Pemedek yang tangkil diperkirakan mencapai 500 hingga 1.000 orang.

Pria yang berprofesi sebagai tukang kebun ini mengaku, sebagian pemedek yang tangkil belum tahu bahwa Pura Besakih masuk zona merah.

Sehingga sebagian besar pemedek tidak merasa khawatir. Mereka bersembahyang dengan khusyuk.

“Warga saya di Banjar Palak, Desa Besakih, hampir sebagian belum tahu Pura Besakih masuk kawasan merah. Tadi hampir seluruh KK ke Pura Besakih demi sembahyang di Pura Merajan (dadia). Tadi warga nggak berangkat barengan, sendiri–sendiri,” kata Ngurah Alit, Kelian Banjar Adat Palak.

Ni Ketut Sumiati, pemedek asal Desa Kapal, Kabupaten Badung mengutarakan alasan sama. Wanita paruh baya datang karena mengira Besakih berada di kawasan aman.

Tapi, dia berkeyakinan erupsi tak terjadi saat ini karena status gunung sudah diturunkan dari level IV (awas) jadi level III (siaga).

“Saat sembahyang saya tidak begitu khawatir. Saya sempat doakan agar Gunung Agung tidak meletus. Semoga kondisi tetap membaik, dan gempa turun,” harap Sumiati.

Bandesa Adat Besakih, Jro Mangku Widiarta juga mengaku bersyukur status Gunung Agung diturunkan, sehingga krama bisa menggelar hari raya Galungan, walaupun jumlah pemedek yang datang sedikit banding 6 bulan lalu. ”Semoga statusnya turun lagi ke level II (waspada),” harap Mangku Widiarta.

Melalui puja bakti ini, katanya, nantinya diberikan sinyal baik terkait status Gunung Agung. Setidaknya kembali ada penurunan status dari siaga (level III) menjadi waspada. Sehingga masyakarat di Desa Besakih yang masih berada di pengungsian bisa kembali ke kampung halamannya.

“Warga di sini (Besakih) masih banyak yang ngungsi. Ada sebagian yang sudah pulang, dan tinggal di rumah karena status Gunung Agung diturunkan. Kita semua bersyukur dengan penurunan ini,” kata Mangku Widiarta.

Perayaan Hari Suci Galungan di Pura terbesar di Bali itu dirayakan seperti biasa. Tidak ada perbedaan pelaksanaan Galungan saat ini dibandingkan enam bulan lalu ketika Gunung Agung masih berstatus aman.

Puluhan petugas ritual upacara melaksanakan aktivitas seperti biasa begitu juga dengan krama yang bersembahyang. Besakih memang sempat sepi ketika status awas Gunung Agung, namun para pemangku tetap melaksanakan aktivitas seperti biasa.

Di tempat terpisah, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali Prof Dr I Gusti Ngurah Sudiana mengatakan Hari Suci Galungan merupakan momentum bagi umat Hindu untuk memusatkan pikiran dan mengevaluasi diri.

"Galungan mempunyai makna yang mendalam bagi umat Hindu, karena dalam rangkaian persiapan Galungan, tidak hanya diperlukan persiapan fisik, tetapi juga batin," kata Sudiana, di Denpasar, Rabu.

Umat Hindu pada Rabu (1/11) merayakan Hari Suci Galungan yang jatuh setiap 210 hari sekali. Dalam merayakannya, umat Hindu akan bersembahyang ke sejumlah tempat suci mulai dari lingkungan keluarga hingga pura di kawasan desa (Pura Kahyangan Tiga), serta berbagai pura lainnya dalam skup yang lebih luas.

"Umat, kami rasa sudah mulai memahami makna Galungan, sehingga tidak hanya terjebak dalam pelaksanaan seremonial ritual. Namun, kami akan terus berupaya untuk memperdalam pemahaman umat," ucapnya yang juga Rektor Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar itu.

Sudiana menambahkan rangkaian Galungan sejatinya sudah dimulai dari saat Tumpek Wariga yakni 25 hari sebelum Galungan. Tumpek Wariga mengingatkan umat Hindu untuk memelihara alam dengan baik, sehingga pohon-pohon dapat berbuah dengan lebat untuk digunakan sesajen saat Galungan.

Rangkaian selanjutnya adalah Hari Sugihan Jawa (H-6 Galungan) sebagai simbolis pembersihan alam semesta. Sedangkan Sugihan Bali (H-5 Galungan), diharapkan agar umat Hindu berkontemplasi dan melihat diri ke dalam, sebagai bentuk persiapan diri menghadapi persembahyangan Galungan.

"Sementara itu, tiga hari sebelum Galungan diyakini sebagai waktu turunnya Bhuta Kala Tiga atau tiga kekuatan yang datang ke dunia untuk mengganggu umat manusia yakni Kala Dungulan, Kala Amangkurat, dan Kala Galungan," ujarnya.

Oleh karena itu pada hari Minggu (H-3 Galungan) yang di Bali dikenal dengan Hari Panyekeban, umat Hindu semestinya mematangkan diri agar kuat melawan hawa nafsu.

Pada Penyajaan (H-2 Galungan) mengingatkan umat agar menang dalam menghadapi musuh-musuh dalam diri. Sedangkan saat Penampahan (H-1 Galungan), bermakna bahwa umat sudah siap untuk menyambut Galungan.

Jadi, ketika umat bisa melawan godaan hawa nafsu, kekuasaan, kesombongan dan egoisme, maka telah menang melawan sifat-sifat adharma (sifat buruk), kata Sudiana.

Galungan, ujar Sudiana, menjadi perlambang dan momentum bahwa manusia bisa melawan musuh-musuhnya, baik musuh dalam diri dan di luar diri. Dalam diri itu diantaranya hawa nafsu, kebencian, kemabukan dan kebingungan. Sedangkan musuh luar diri adalah kemiskinan, kebodohan, penyakit dan sebagainya.










sumber : tribun
Share this article :

Visitors Today

Dr.KidS

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka