Mungkinkah Status Gunung Agung Kembali Turun ke Level II? - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » , » Mungkinkah Status Gunung Agung Kembali Turun ke Level II?

Mungkinkah Status Gunung Agung Kembali Turun ke Level II?

Written By Dre@ming Post on Minggu, 19 November 2017 | 11/19/2017 08:42:00 PM

Tim Aero Terrascan Bandung bersama PVMBG menerbangkan drone di Lapangan Selat, Desa Selat, Karangasem, Sabtu (18/11). Drone diterbangkan untuk mengambil sampel gas kawah Gunung Agung.
Aktivitas Gunung Agung Terpantau Terus Menurun, Soal Munculnya Asap Begini Penjelasan PVMBG

AMLAPURA - Aktivitas vulkanik Gunung Agung dalam seminggu terakhir terus mengalami penurunan.

Intensitas kegempaan dan pergerakan magma cenderung menurun, sedang deformasi (pengembungan) menunjukkan pola stasioner. Namun status Gunung Agung masih tetap Level III (Siaga).

Hal tersebut disampaikan Kepala Sub Bidang Mitigasi Bencana Indonesia Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana, saat menjelaskan ringkasan aktivitas Gunung Agung selama satu minggu, Sabtu (18/11).

Berdasarkan hasil pemantauan PVMBG, kegempaan di Gunung Agung sejak 12 November 2017 hingga 19 November 2017 mengalami penurunan.

Beberapa kegempaan sangat dangkal seperti low frekuensi dan hembusan terekam dalam periode satu minggu terakhir, namun dengan jumlah belum signifikan.

Gempa tremor spasmodik masih terekam mengindikasikan masih adanya aliran fluida magmatik dari kedalaman, namun jumlahnya juga masih belum signifikan.

Untuk deformasi (perubahan bentuk gunung/pengembungan), cenderung menunjukkan pola stasioner.

Belum teramati lagi pola deformasi signifikan baik itu inflasi maupun deflasi yang sebelumnya teramati jelas pada periode Agustus-Oktober 2017.

Melalui pantauan satelit, energi termal masih dapat teramati di permukaan kawah, namun masih belum mengalami perubahan yang signifikan. Satelit pada 14 November merekam adanya sedikit pelebaran di salah satu lubang keluarnya asap saat ini (pada koordinat - 8.3436, 115.5093).

Hasil pengukuran temperatur air di mata air di sekitar Gunung Agung juga belum menunjukkan adanya perubahan signifikan.

Sementara secara visual, asap yang keluar di kawah dalam seminggu terakhir teramati hingga mencapai ketinggian 700 m. Sebelumnya rata-rata berkisar 50-200 meter.

Menurut Devy, hal ini dapat diakibatkan dua hal. Pertama faktor internal, seiring dengan adanya kemunculan gempa low frekuensi dan hembusan memanifestasikan aliran fluida panas dari magma ke permukaan yang masih terus terjadi.

Kedua, faktor eksternal seperti hujan dapat mempengaruhi ketebalan/ketinggian asap yang teramati.

"Asap terjadi karena ada pemanasan oleh uap magma ke permukaan. Uap magma yang panas ini jika berinteraksi dengan air tanah maupun rembesan air hujan maka akan menghasilkan asap berwarna putih. Gas vulkanik seperti CO2 kemungkinan dapat keluar juga bersama dengan asap ini," ujar Devy, kemarin.

PVMBG menyimpulkan, pergerakan magma di dalam tubuh Gunung Agung masih teramati secara visual dan terekam secara instrumental. Namun intensitasnya cenderung menurun dalam seminggu terakhir.

Status Masih Siaga

Apakah dengan kecendrungan aktivitas ini memungkinkan status Gunung Agung kembali turun ke Level II (Waspada)? Devy belum berani memastikan. Semua tergantung aktivitas Gunung Agung. Perubahan status, kata dia, tidak bisa dijadwalkan.

"Status Gunung Agung saat ini masih di Level III (Siaga) namun status terus dievaluasi setiap hari secara hati-hati dan dapat berubah sesuai dengan tingkat aktivitas dan ancaman bahaya letusan Gunungapi Agung," terangnya.

Ditambahkan, terkait perubahan status akan dilihat berdasarkan stabilitas dari trend data pengamatan secara keseluruhan.

"Sebelum tanggal 8 (November) lalu gempa sempat konsisten menurun, tapi trend-nya berubah karena ada gempa magnitudo 5. Nah kita masih tunggu sampai trend menurun teramati lagi kalau akan menurunkan (status), begitu pun saat akan menaikkan, trend meningkat harus teramati juga. Jadi lihat saja ke depan, semua bergantung keinginan gunungnya," jelasnya.

Cari Data Gas

Sementara itu, tim pesawat tak berawak atau drone dari Aero Terrascan Bandung kembali diterbangkan untuk mencari data tentang gas yang dikeluarkan kawah Gunung Agung.

Penerbangan drone digelar di Lapangan Selat, Desa/Kecamatan Selat, Karangasem, Sabtu pukul 07.00 Wita.

Flight Direktor Aero Terrascan, Feri Ametia Pratama, menjelaskan, penerbangan drone ke kawah Gunung Agung dinyatakan berhasil dengan waktu sekitar 30 menit.

Dalam penerbangan kali ini, drone jenis AI 450 membawa alat multi gas yang dilengkapi dengan sensor.

Sensor multi gas ini berfungsi untuk mengambil sampel gas yang dikeluarkan dari kawah Gunung Agung. Kemudian kandungan gas dibaca oleh sensor, dan data tersebut nantinya digunakan untuk menganalisa keaktifan gunung.

Berapa contoh gas yang diambil yakni CO2, H2O, dan XO2.

"Alat sensor multi gas ini dari USGS, Amerika Serikat. Alat ini dipasang di pesawat. Nanti alat ini akan menyedot gas lewat pipa. Di dalam alat ini, sensor akan membaca gas yang disedot oleh alat ini," kata Feri Ametia Pratama saat ditemui di lokasi penerbangan.

Dari pembacaan sensor, katanya, sekilas dilihat ada data yang trbaca. Berapa jenis gas yang disedot perlu diolah lagi datanya. Dari grafik memang ada perbedaan.

"Terkait ini akan dianalisa oleh tim PVMBG bersama tim dari USGS. Ini segera akan dianalisa untuk mengetahui aktivitas gunung," ujarnya.

Ia menyebutkan penerbangan drone ini tujuan utamanya untuk pengambilan sampel gas.

"Bahan ini akan digunakan untuk dianalisa, sehingga mendapat gambaran tentang aktivitas Gunung Agung terkini. Sebelumnya sudah kita melakukan penerbangan, tapi hanya ambil gambar dan video saja," akunya.

Devy membenarkan penerbangan drone untuk mengetahui kadar gas di kawah Gunung Agung. Penerbangan berjalan lancar tetapi hasilnya belum maksimal.

"Meskipun drone berhasil berkeliling di atas Gunung Agung, namun kami belum mengenai sasaran asapnya. Besok (hari ini, red) pemantauan dengan drone akan kembali dilakukan," terangnya.

Drone Gagal Ambil Sampel Gas Gunung Agung, Ada Rekaman Video Gunung Agung dari Drone Ini

Tim AeroTerrascan, kembali terbangkan pesawat tidak berawak atau drone, setelah gagal peroleh sampel gas untuk membaca aktivitas Gunung Agung.

Tim kembali menerbangkn drone dari Lapangan Selat, Desa/Kecamatan Selat, Minggu (19/11/2017) siang hari.

Staff PVMBG yang mendampingi tim drone, Ugan Saing mengatakan, tim kembali terbangkan drone lantaran belum mendapat sampel gas yang diinginkan.

Seperti CO2 (Karbondioksida), XO2 (Sulfurdioksida), serta H2O (Uap air).

Saat penerbangan pertama, alat sensor gas hanya peroleh uap air.

“Sekarang kita coba lagi mengambil sampel gas dengan cara menerbangkan drone, dengan dilengkapi alat sensor gas. Tadi sudah 2 kali kita coba tapi gagal. Rencana kita coba yang ke 3 kalinya tapi cuaca tidak mendukung. Awan terlalu tebal, sangat menganggu penerbangan,” kata Saing.

Staff Ahli Madia PVMBG, Umar Rosidi menjelaskan, Tim Aero Terrascan hari ini sudah dua kali menerbangkan drone AI 450.

Sayangnya drone tak sampai ke puncak gunung, hanya ketinggian 1.200 MDPL.

Kendalanya karena baterai mulai melemah, serta alami noise saat penerbangan.

“Kemarin penerbangan memang sampai atas kawah. Cuma kita belum dapat sampel gas. Kemarin pesawatnya tidak disertai kamera, hanya alat sensor gas. Sehinga kita tidak tahu pesawat sudah sampai di kawah atau belum. Sekarang pesawat sudah disertai dengan kamera,” kata Umar.

Umar Rosidi berharap, penerbangan selanjutnya tidak ada masalah dan bisa terbang hingga ketinggian 3.300 MDPL dan dapat mengelilingi sekitar kawah gunung, serta mengambil komposisi gas yang dibutuhkan.

Sehingga petugas dari PVMBG segera menganalisa aktivitas Gunung Agung terkini.

Tim Desain dari Aero Terrascan, Dirgantara Purnama mengaku, penerbangan terhambat lantaran cuaca yang tidak bersahabat.

Mendung cukup tebal, dan gerimis di sekitar Gunung Agung.

Angin diatas tidak menentu, jadi pergerakan pesawat mengalami tambling, dan sangat membahayakan.

“Tadi sudah dua kali drone diterbangkan. Karena awan tebal dan angin kencang jadi pesawat dipulangkan. Kalau hujan juga tak bagus, karena akan pengaruhi komposisi gas yang diperoleh,” kata Dirgantara Purnama.

Flight Direktor Aero Terrascan, Feri mengatakan, akan terus berusaha memperoleh komposisi gas yang dibutuhkan PVMBG.

Sehingga petugas vulkanologi bisa menganalisa dengan cepat.

Kemarin, akuinya, alat sensor gas sempat mebaca.

Tapi, sampel gas yang didapat kebanyakan uap air.

“Kalau hari ini cuaca tak memungkinkan, penerbangan kita lanjutkan besok pagi. Harapannya, gas yang dikeluarkan kawah gunung agung bisa didapat, dan dijadikan bahan evaluasi oleh PVMBG,” harap Feri.









sumber : tribun
Share this article :

Visitors Today

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka