Kadar Belerang Mulai Terdeteksi di Sekitar Kawah GA - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » , » Kadar Belerang Mulai Terdeteksi di Sekitar Kawah GA

Kadar Belerang Mulai Terdeteksi di Sekitar Kawah GA

Written By Dre@ming Post on Jumat, 24 November 2017 | 11/24/2017 12:04:00 PM

Gunung Agung. Insert: Tim Drone PVMBG menerbangkan drone untuk memantau kadar SO2 (belerang) dan CO2 (karbondioksida) di sekitar kawah Gunung Agung, Kamis (23/11/2017) pagi.
AMLAPURA - Lapangan umum Selat, Karangasem, Bali, dipadati oleh masyarakat pada Kamis pagi (23/11/2017).

Perhatian mereka tertuju pada tim PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) yang tampak sibuk mempersiapkan dua unit drone (pesawat tak berawak), yang akan diterbangkan untuk memantau kawah Gunung Agung (GA).

Ketua tim drone PVMBG Umar Rosadi menjelaskan, penerbangan yang dilakukan Kamis (23/11/2017) menggunakan satu unit drone, yaknk jenis Ai 450.

Drone jenis ini memiliki ukuran lebih besar daripada Ai 300 yang selama ini biasa digunakan untuk mengambil gambar kondisi kawah Gunung Agung.

Sebelum diterbangkan, drone Ai 450 tersebut dipasangi sensor yang akan fokus untuk mendeteksi kadar sulfurdioksida (SO2) dan karbondioksida (CO2) yang dihasilkan Gunung Agung setelah mengalami peningkatan aktivitas vulkanik pada 21 November lalu.

"Drone ini akan terbang ke atas kawah, dengan menyisir sisi selatan Gunung Agung. Penerbangan drone hari ini akan fokus untuk mendeteksi kadar belerang (SO2) dan karbondioksida (CO2) pasca Gunung Agung mengalami erupsi freatik pada Selasa sore yang lalu," jelas Umar Rosadi.

Penerbangan drone dimulai sekitar pukul 09.00 Wita.

Penerbangan awalnya dilakukan beberapa kali, tapi ternyata terkendala cuaca.

Penerbangan pertama berlangsung lancar, dan drone mampu terbang selama 29 menit untuk menangkap kadar SO2 dan CO2 di sekitar bibir kawah.

Drone tersebut mampu terbang hingga ketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan mengitari bibir kawah.

Kondisi cuaca membuat penerbangan drone tersebut hanya dilakukan sekali.

Sekitar pukul 10.00 Wita, cuaca mulai mendung dan mulai turun hujan sehingga penerbangan lanjutan tidak bisa dilakukan.

Berdasarkan hasil pengamatan dengan drone tersebut, sudah mulai terekam konsentrasi SO2 (belerang) di sekitar kawah Gunung Agung dengan konsentrasi 0,4-0,6 ppm, dan konsentrasi CO2 (karbondioksida) terdeteksi 70 ppm.

Sedangkan rasio antara CO2 terhadap SO2 sebesar 82.

Data tersebut menandakan sudah mulai terekam kadar belerang di kawah Gunung Agung pasca gunung mengalami erupsi freatik Selasa (21/11/2017) sore

Selasa pagi (21/11/2017), tim PVMBG juga sempat melakukan pengujian dengan metode serupa pada kawah Gunung Agung.

Saat itu tidak terdeteksi kadar SO2 pada Gunung Agung, dan kadar CO2 sebesar 35 dengan rasio antara CO2 dan SO2 lebih dari 100.

"Jadi pasca erupsi freatik, di sekitar kawah Gunung Agung mulai terdeteksi kadar belerang. Logikanya, semakin kecil angka rasio CO2 dan SO2 menandakan magma semakin dekat. Angka rasio 82 hari ini itu masih cukup jauh. Dalam catatan-catatan ahli vulkanologi dunia, jika rasio CO2 dan SO2 terdeteksi di angka 1 hingga 2, biasanya seminggu kemudian sudah erupsi magmatik," jelas Umar Rosadi

Rencananya tim PVMBG akan kembali menerbangkan drone pada Jumat (24/11/2017) hari ini untuk mendeteksi kadar H2S (Hidrogen Sulfida) di sekitar kawah gunung.

Sementara itu, Kepala PVMBG Kasbani menjelaskan, seluruh gas yang ditimbulkan oleh aktivitas vulkanik sangat bahaya jika sampai terhirup.

Namun, konsentrasi gas vulkanik saat ini baru terdeteksi di sekitar kawah Gunung Agung.

Ia meminta masyarakat untuk tidak beraktivitas di zona yang telah direkomendasikan PVMBG, yakni 6 kilometer sektoral 7,5 kilometer dari kawah Gunung Agung.

Mangku Yasa (60), warga Banjar Gede, Desa Selat yang sedang memanen ubi jalar di lahan pertanian miliknya, Kamis pagi (23/11/2017) mengaku tidak khawatir meskipun Gunung Agung mengalami erupsi freatik.

Padahal kediaman dari Mangku Yasa berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) II, dan bahkan pernah mengungsi saat aktivitas vulkanik Gunung Agung berstatus Awas.

"Saya beraktivitas seperti biasa. Walau sudah meletus, tapi kan letusannya kecil. Selain itu tidak ada gempa juga. Jadi sampai saat ini lebih baik tetap tinggal di rumah," ujar Mangku Yasa.

Gunung Agung tampak sangat jelas dari tempat Mangku Yasa memanen ubinya.

Tremor menerus yang dialami Gunung Agung juga tidak membuatnya khawatir.

Ia hanya akan mengungsi jika sudah ada instruksi resmi dari pemerintah.

"Sebelumnya saya mengungsi dan tinggal dengan kerabat di Panjer, Denpasar. Setelah hari Galungan, saya kembali karena status Gunung Agung sudah aman. Walau katanya ada tremor, tapi kami tidak merasakannya. Kami sudah tidak merasakan gempa seperti dulu," jelasnya.

Tremor Menerus

Sementara itu, alat seismograf tim PVMBG di Pos Pantau Gunung Api Agung di Desa/Kecamatan Rendang, Karangasem, Kamis (23/11/2017) kembali merekam tremor menerus (microtremor) pada periode pengamatan 00.00 Wita- 06.00 Wita.

Tremor menerus yang terekam sebanyak tiga kali, yakni pukul 00:20 - 01:04 Wita, kemudian pukul 01:30 - 03:30 Wita dan pukul 03:57 - 04:28 Wita dengan amplitudo 2-4 mm (dominan: 2 mm).

"Tremor itu indikasi pergerakan fluida di permukaan. Manifestasinya kita lihat berupa hembusan asap putih yang mengandung uap air yang membumbung tinggi hingga 700 meter seperti saat ini. Tapi amlitudo tremor yang terekam relatif masih kecil," jelas Kasbani ketika ditemui di Pos Pengamatan Gunung Agung di Desa/Kecamatan Rendang, Karangasem.

Tremor menerus ini mulai intens terekam pasca Gunung Agung mengalami erupsi freatik pada Selasa sore (21/11/2017).

Meskipun tremor makin intens terekam, namun PVMBG sejauh ini belum berencana untuk kembali meningkatkam status Gunung Agung dari level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas).

Tremor menerus berhenti pada periode pengamatan pukul 06.00 Wita sampai 18.00 Wita kemarin.

Gempa vulkanik pun terekam berjumlah 10 kali. Hanya saja Gunung Agung masih tetap mengeluarkan hembusan asap putih yang dominan mengandung uap air dengan ketinggian 200-400 meter dari kawah.

" Kita akan pantau terus perkembangannya seperti apa. Kita akan cocokkan dengan parameter lainnya. Tingkat gempa vulkaniknya juga masih belum signifikan, begitu juga deformasi gunung yang masih belum ada peningkatan signifikan. Jadi statusnya masih di level III atau Siaga," jelas Kasbani.







sumber : tribun
Share this article :

Visitors Today

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka