Sudah Di-lukat, Tabrak Jembatan Drone Pemantau Kawah GA Hancur - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » , , » Sudah Di-lukat, Tabrak Jembatan Drone Pemantau Kawah GA Hancur

Sudah Di-lukat, Tabrak Jembatan Drone Pemantau Kawah GA Hancur

Written By Dre@ming Post on Jumat, 13 Oktober 2017 | 10/13/2017 07:51:00 PM

Ida Rsi Satya Artha Dharma Sadu Para Dwija Para dari Griya Shanti, Kubu, memimpin upacara penyucian drone sebelum diterbangkan di Kawasan Galian C, Tulamben, Karangasem, Kamis (12/10/2017). Inzet: Drone tampak hancur usai menabrak jembatan.
Drone Pemantau Kawah Gunung Agung Hancur Tabrak Jembatan, Sebelumnya Sudah Di-lukat

AMLAPURA - Tim dari Carita Boat Indonesia, BNPB, didampingi PVMBG kembali berupaya menerbangkan pesawat tanpa awak atau drone jenis Koax 3.0 di Kawasan Galian C, Tulamben, Kecamatan Kubu, Karangasem, Bali, Kamis (12/10/2017).

Namun, upaya di hari kedua ini ternyata juga belum berjalan mulus.

Drone buatan Tangerang tersebut tidak dapat take off dengan sempurna dan bahkan menabrak jembatan yang berada tidak jauh dari landasan.

Akibatnya drone tersebut mengalami kerusakan parah.

Bahkan sampai terlihat hancur di bagian depan.

Tim pilot drone dari Carita Indonesia tiba di lokasi Kawasan Galian C, Tulamben, sekitar pukul 13.00 Wita dengan membawa drone jenis Koax.

Upaya penerbangan drone tersebut merupakan upaya kedua, setelah sehari sebelumnya, Rabu (11/10/2017), gagal karena drone mengalami kerusakan pada kamera saat terbang di ketinggian 1.800 meter.

Tim tersebut juga menempuh jalur niskala agar misi mereka hari itu berjalan lancar.

Masyarakat setempat percaya jika Gunung Agung (GA) merupakan gunung yang amat sakral dan disucikan.

Apapun yang melintas di sekitarnya harus bersih dan suci.

Karena itu, sebelum take off, drone tersebut terlebih dahulu dibuatkan upacara pengelukatan oleh seorang sulinggih di desa setempat.

“Tujuan doa dan dipercikannya tirta ini untuk membersihkan alat yang akan terbang menuju Gunung Agung. Kita percaya, Gunung Agung sangat disakralkan. Apapun yang menuju ke Gunung Agung harus bersih dan suci. Saya lakukan upaya ini agar semuanya lancar, dan upaya hari ini dari para tim dapat berjalan mulus. Dapat mengambil gambar di kawah dengan baik,” ujar sulinggih yang memimpin upacara penyucian drone tersebut, Ida Rsi Satya Artha Dharma Sadu Para Dwija Para, dari Griya Shanti, Desa Kubu, kemarin.

Setelah diupacarai, tim pun bersiap untuk menerbangkan drone yang memiliki kapasitas jelajah hingga ketinggian 4.000 meter tersebut.

Percobaan pertama dilakukan, drone tampak melaju lambat di lintasan yang berbatu dan bergelombang.

Drone pun zig-zag dan tidak berhasil untuk take off.

“Jadi speed minimal untuk dapat take off adalah di kecepatan 60 km/jam. Karena landasan berbatu dan bergelombang, drone jadi tidak stabil dan daya dorong juga berkurang sehingga tidak mampu untuk take off,” ujar pilot dari Carita Indonesia yang bertugas menerbangkan drone tersebut, Agus.

Gagal di percobaan pertama, tim kembali mencoba untuk kali kedua.

Drone tersebut tampak mulai lebih kencang saat melaju di lintasan.

Sempat berhasil take off, namun drone tersebut tidak dapat dikendalikan.

Pilot kehilangan kendali, hingga drone tersebut menabrak baja jembatan di Desa Dukuh, Kubu, yang terletak tidak jauh dari landasan pacu drone.

Hal ini pun menyebabkan drone Koax mengalami kerusakan cukup parah.

Baling-baling patah, kamera rusak, dan badan drone juga tampak mengalami kerusakan.

“Mungkin kerapatan udara di sini tipis, dan membuat daya dorong berkurang. Kita mungkin selanjutnya akan coba pagi hari, saat ketebalan udara tebal. Namun, saat pagi hari biasanya cuaca kurang cerah, sehingga pengambilan gambar kurang maksimal,” kata Agus yang tampak masih bimbang.

Sebelumya tim ini pernah menjalankan misi yang sama di Gunung Sinabung, Sumatera Utara.

Mereka berhasil menjelajahi dan menangkap visual kondisi kawah Gunung Sinabung.

Tim ini rencananya akan kembali melakuakn uji coba penerbangan drone untuk mengamati kawah Gunung Agung, Jumat (14/10/2017).

Meeka masih memiliki drone lain yang disiapkan khusus untuk mengambil gambar visual di kawah Gunung Agung.

BNPB mengerahkan lima unit drone dengan spesifikasi berbeda.

Tiga unit drone fixed wing yaitu Koax 3:0, Tawon 1.8 dan Mavic, sedangkan dua unit drone jenis rotary wing adalah multi rotor M600 dan Dji Phantom.

Mengingat tinggi Gunung Agung sekitar 10.400 kaki maka diperlukan drone yang memiliki kemampuan terbang tinggi seperti jenis Koax dan Tawon.

Drone Koax 3.0 dan Tawon 1.8 memiliki kemampuan terbang hingga 13.000 kaki.

Mesin menggunakan bahan bakar ethanol agar dapat terbang tinggi.

Drone ini diperuntukkan mengambil dokumentasi berupa video dan foto di sekitar kawah Gunung Agung.

Sementara drone rotary wing mampu terbang ketinggian 500 meter digunakan untuk memetakan pemukiman dan alur-alur sungai.

Untuk mendukung semua itu digunakan Ground Control Station yang mobile.

“Dengan adanya drone ini, kami berharap mendapatkan satu hasil lebih presisi atau lebih dekat kawah. Dengan drone kita bisa dapat visual secara continue, karena jika dengan satelit kita bisanya dapat laporannya lima hari sekali, itupun kurang maksimal. Tapi tidak mudah untuk terbangkan drone di Gunung Agung karena kondisi medan yang sulit, kecepatan angin yang tinggi, dan ketinggian Gunung Agung yang juga relatif tinggi, sehingga butuh upaya lebih. Kita sampai saat ini belum berhasil mendapatkan visual kawah,” kata Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pemantauan Gunungapi Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana.

Mistis, Seseorang Membawa Benda Ini Ke Gunung Agung Kemudian Merasa Lumpuh

Pulau Dewata tak pernah lepas dari kesan mistis.

Tak terkecuali di Gunung Agung, yang saat ini berstatus awas.

Gunung Agung bahkan menjadi salah satu tempat yang paling disakralkan umat Hindu di Bali.

"Kami umat Hindu meyakini bahwa Gunung Agung adalah istananya dewa dan dewi, serta roh leluhur yang sudah meninggal," tutur Koordinator Pemandu Pendakian Gunung Agung, Komang Kayun kepada KompasTravel.

Di sisi barat daya Gunung Agung terdapat Pura Agung Besakih, salah satu tempat beribadat yang juga paling sakral.

Tak jauh dari pura terdapat Tirta Giri Kusuma dan Pura Pengubengan.

"Di Tirta Giri Kusuma kami umat Hindu mengambil air suci untuk menyempurnakan yadnya (upacara persembahan) yang mereka lakukan. Setiap desa yang melakukan yadnya yang besar itu diharuskan nuwur tirta (mengambil air suci) dengan meminta izin dan menaruh persembahan untuk dewa," papar Komang Kayun.

Namun, orang yang mendaki Gunung Agung tak hanya umat Hindu di Bali.

Para pendaki bisa mencapai puncak gunung sakral ini lewat dua jalur populer, yakni Pura Agung Besakih dan Pura Pasar Agung.

Rupanya, Komang Kayun menjelaskan, tak sedikit orang yang melanggar tata krama dan peraturan adat.

Hal itu berujung pada terjadinya hal-hal mistis di luar nalar.

"Saya sering lihat sendiri (hal mistis) muncul. Misalnya (pendaki) membawa daging sapi. Itu angin menghalangi kita naik. Seperti sampai tak bisa jalan," kisahnya.

Ada pula pendaki yang membawa emas, tubuhnya seperti lumpuh.

"Kelelahan luar biasa. Bukan seperti kram, tapi kelelahan sampai tak bisa gerak. Keajaiban ini kami (para pemandu Gunung Agung) yang menyaksikan, bukan saya sendiri," tambah Komang.

Kejadian mistis seperti itu pernah dialami oleh Ayu N Surya.

Pendaki wanita itu mengadakan event Trail Running di Gunung Agung dengan rute Pura Pasar Agung - Puncak - Pura Besakih

Salah satu peserta tersesat setelah melewati puncak.

Beruntung sepanjang pendakian terdapat sinyal ponsel, sehingga pendaki tersebut melapor kepada panitia dan memberitahukan posisinya.

"Hampir 24 jam pencarian, dari cuaca yang awalnya cerah, tiba-tiba hujan deras dan tertutup kabut. Kami melakukan sembahyang di Pura Besakih, memohon agar dipermudah dan dilancarkan proses evakuasi," kisah Ayu kepada KompasTravel.

Menurut salah satu pemangku adat, upacara harus dilakukan di dua pura yang mengapit Gunung Agung (Besakih dan Pasar Agung).

Namun mengingat dana yang terbatas, Ayu dan kawan-kawan memang hanya melakukan upacara di area Pura Pasar Agung.

Sedangkan musibah yang terjadi masuk dalam wilayah Pura Besakih.

"Kalau sampai kenapa-kenapa atau amit-amit si korban meninggal, panitia harus menyiapkan dana yang lebih besar untuk upacara pembersihan," tutur Ayu.

Awalnya Ayu dan kawan-kawan tidak percaya akan hal mistis semacam itu.

"Namun setelah kejadian itu, jadi percaya kalau setiap agama punya kepercayaan masing-masing yang agama lain tidak bisa bantah," jelasnya.

Korban akhirnya berhasil dievakuasi.

Ia bercerita bahwa usai melewati puncak, tiba-tiba kabut menghadang.

Ia terpeleset dan terus mengarah ke jalur yang tidak semestinya.

"Oh ya, kata pemangku adat, biasanya kalau ada orang hilang atau celaka di Gunung Agung biasanya karena orang itu kotor. Entah kotor seperti apa yang dimaksud. Mungkin salah satunya niatnya tidak baik, atau berbuat yg enggak-enggak," tutup Ayu.






sumber : tribun
Share this article :

Visitors Today

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka