PVMBG: Jika Meletus, Lontaran Batuan Berpasir 6 Km Radial, Diprediksi Luar Biasa - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » , , , » PVMBG: Jika Meletus, Lontaran Batuan Berpasir 6 Km Radial, Diprediksi Luar Biasa

PVMBG: Jika Meletus, Lontaran Batuan Berpasir 6 Km Radial, Diprediksi Luar Biasa

Written By Dre@ming Post on Minggu, 01 Oktober 2017 | 10/01/2017 08:39:00 PM

Puncak Gunung Agung diselimuti awan putih, Sabtu (30/9/2017) (atas). Ratusan sulinggih menggelar ritual Puja Bhasmangkuram Bajra Wakyam di Pura Er Jeruk, Sukawati, Minggu (1/10/2017) (bawah)
Kawah Gunung Agung Alami Rekahan Selebar 900 Meter, Diprediksi Sebagai Jalur Keluarnya Fluida

AMLAPURA - Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Ir Kasbani MSc menyatakan bahwa dari informasi satelit terlihat adanya rekahan di dalam kawah Gunung Agung.

Rekahan itu, menurut Kasbani, kemungkinan digunakan untuk jalur keluarnya fluida atau sejenis cairan dari perut gunung.

"Rekahan bisa dilihat kalau kita berada di atas kawah. Tapi dari informasi satelit memang ada rekahan di dalam kawah. Rekahan itu mungkin digunakan untuk jalur fluida dan asap," jelas Kasbani, Sabtu (30/9), saat ditemui di Pos Pengamatan Gunungapi Agung, Desa Rendang, Karangasem.

"Kita memang tidak tahu persis apakah fluida atau asap memang lewat rekahan itu. Yang jelas, rekahan ada di dalam kawah. Artinya ada saluran untuk fluida, termasuk embusan asap yang di dalamnya mungkin ada uap air atau gas," terang Kasbani, yang lulusan S2 Ilmu Geologi dari New Zealand University.

“Ada beberapa titik rekahan yang terlihat seperti satu garis. Ini kan di dalam kawah, kawah itu kan zona lemah, sehingga di mana pun itu (rekahan) bisa terjadi. Fluida bisa lewat rekahan, apakah itu uap atau gas bisa lewat di situ," paparnya.

Dari analisis satelit, kata Kasbani, panjang garis rekahan sekitar 80 meter dan lebarnya sekitar 900 meter.

“Perkiraan dari analisis melalui satelit, panjang rekahan 80 meter dan lebarnya 900 meter. Garis rekahan mengarah ke timur laut dan barat daya," jelas Kasbani yang asal Banyuwangi.

Dari pantauan PVMBG pada pukul 12.00 - 18.00 Wita, Sabtu (30/9), tercatat jumlah gempa vulkanik dalam mencapai 147 kali, vulkanik dangkal 73 kali dan gempa tektonik mencapai 7 kali. Hingga tadi malam Gunung Agung masih berstatus awas yang membuat sekitar 143.840 jiwa mengungsi, yang tersebar di 471 titik di seluruh Bali.

Pengungsi di Zona Merah Ikut Pulang, Sudarita Khawatir Warga Salah Paham Oleh Arahan Gubernur Bali

DENPASAR - Sebanyak 17 warga asal Desa Duda, Kecamatan Selat, Karangasem yang mengungsi di Denpasar memilih pulang ke kampung halamannya.

Warga yang wilayahnya masuk zona merah (zona berbahaya) ancaman letusan Gunung Agung ini mengaku pulang untuk mempersiapkan upacara persembahyangan yang bakal digelar pada 5 Oktober 2017.

Hal ini diungkapkan oleh Koordinator Posko Induk GOR Kompyang Sujana, Denpasar, I Nyoman Sudarita.

“Ada yang kemarin menginformasikan ingin pulang ke kampungnya. Mereka bilangnya sih mau sembahyang. Kami belum tahu apakah akan balik atau tidak, yang jelas kami sudah tandai,” kata Sudarita, Sabtu (30/9).

Sudarita khawatir apa yang menjadi arahan Gubernur Bali Made Mangku Pastika soal memulangkan pengungsi di luar zona merah, disalahartikan oleh warga pengungsi.

Dia pun menegaskan bahwa yang diminta pulang adalah pengungsi yang tinggal di luar zona Kawasan Rawan Bencana (KRB) dengan radius 9 km, dan 12 km dari puncak Gunung Agung.

“Yang dimaksud oleh Bapak Gubernur itu kan di luar 12 km, biar tidak terlalu membeludak di Denpasar. Jadi warga di luar radius 12 km diminta pulang agar kembali bekerja. Nah saya khawatir masyarakat salah mengartikannya,” katanya.

Sebelumnya, Gubernur Pastika menegaskan hanya ada 27 desa yang warganya diwajibkan untuk mengungsi sesuai peta kawasan rawan bencana (KRB) Gunung Agung.

Total jumlah mereka sekitar 70 ribu orang.

Kenyataannya jumlah pengungsi seluruhnya saat ini 144.389 orang atau lebih dua kali lipat dari semestinya. Para pengungsi di luar warga dari 27 desa KRB itu diyakini sebagai pengungsi panik.

Mereka sebetulnya tinggal di zona aman atau di luar radius 12 Km dari puncak Gunung Agung, tetapi ikut mengungsi karena kekhawatiran yang berlebihan akan dampak letusan.

Para pengungsi selain dari 27 desa itulah yang diperintahkan Gubernur Pastika untuk kembali pulang.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusdalops BPBD Kota Denpasar, Made Suprapta mengatakan, untuk saat ini pihaknya belum menemukan pengungsi di Denpasar yang tinggal di luar zona merah. Namun, ia mengaku seluruh petugas masih mendata ulang para pengungsi di Denpasar.

“Sampai saat ini belum ada. Sebab, kami baru mendata lagi siapa yang berasal dari luar 27 desa yang masuk KRB. Sejauh ini, dari para pengungsi itu belum ada yang berasal dari luar zona bahaya,” kata Suprapta.

Dari data yang dihimpun, jumlah warga Karangasem yang mengungsi ke Kota Denpasar terus mengalami peningkatan. Hingga Jumat (29/9), tercatat jumlah pengungsi di Denpasar sudah sebanyak 13.014 jiwa.

Namun, saat ini Pemkot Denpasar harus memutar otak ekstra keras karena sebagian besar pengungsi di Denpasar tidak mau tinggal di posko pengungsian. Tetapi, mereka meminta logistik ke pemerintah. Sebagian besar pengungsi memilih tinggal berdesakan di rumah kontrakan.

“Seperti hari ini (kemarin) kami tiba-tiba kedatangan banyak pengungsi mandiri yang tinggal di rumah keluarganya di Denpasar. Ada yang kontrak, dan kos. Mereka tiba-tiba datang minta logistik. Tapi disuruh tinggal di posko tidak mau, jadinya kami kewalahan mengaturnya,” kata I Nyoman Sudarita.

Kisah Saksi Mata Letusan Gunung Agung Tahun 1963, Terdengar Suara Misterius ini dari Puncak

AMLAPURA - Sejak status Gunung Agung ditetapkan menjadi awas pada Jumat (22/9/2017), sudah 144.489 jiwa warga yang tinggal di zona merah mengungsi.

Langkah tersebut sebagai bentuk antisipasi karena letusan Gunung Agung pada tahun 1963 pernah memakan korban hingga ratusan jiwa meninggal dunia.

Data Pos Pengamatan Gunungapi Agung mencatat, pada 19 Februari 1963 letusan Gunung Agung pertama kali terjadi.

Sekitar pukul 01.00 WITA terlihat asap bergumpal dan masyarakat sudah mulai mencium belerang.

Selama beberapa hari turun hujan abu dan lelehan lava disertai letusan.

Itu terlihat pada 21 Februari 1963.

Di hari yang sama terlihat awan panas yang meluncur ke arah lereng sebelah timur melewati Tukad Barak dan Tukad Daya.

Pada tangal 17 Maret 1963, terjadi letusan paroksima dan awan letusannya mencapai ketinggian lebih kurang 5 kilometer dan gumpalan asap tebal dan awan panas mengendap di lereng selatan dan utara.

Endapan abu letusan bahkan mencapai Pulau Madura.

Letusan paroksima kembali terjadi pada 16 Mei 1963 dan endapan abu letusan mencapai Pulau Kangean.

Kegiatan erupsi Gunung Agung berlangsung hampir setahun sejak 19 Februari 1963 hingga 27 Januari 1964.

Korban yang meninggal akibat awan panas sebanyak 280 jiwa dan yang terluka sebanyak 59 orang.

Sedangkan yang meninggal karena piroklastika sebanyak 163 jiwa dan yang terluka sebanyak 201 orang.

Selain itu ada 165 orang yang meninggal akibat lahar panas dan 36 yang terluka.

Letusan Gunung Agung pada tahun 1963 terjadi setelah Gunung Agung "tertidur" selama hampir 120 tahun.

Sejarah mencatat, Gunung Agung pernah meletus sebanyak empat kali, yaitu pada 1808, 1821, 1843, dan 1963.

I Gusti Ketut Rai (67), warga yang tinggal di Besakih menceritakan, saat kejadian dia masih berusia 13 tahun.

Ia dan keluarganya tinggal di bawah kaki Gunung Agung.

Sebelum meletus pertama kali, ia sering mendengar suara seperti piring pecah dari arah Gunung Agung.

Belum lagi, dia menyaksikan banyak binatang hutan turun ke pemukiman serta pepohonan yang ada di sekitar lereng gunung terlihat layu.

"Suara seperti piring pecah itu saya dengar sekitar 3 hari sebelum letusan pertama. Selain itu juga gempa naik turun dan besar sekali," katanya kepada Kompas.com, Jumat (29/9/2017).

Ketika jam 3 dini hari dia dan seluruh warga yang tinggal di Besakih keluar rumah setelah mendengar suara dentuman keras dan melihat ada percikan api dari puncak Gunung Agung.

"Jam 6 pagi saat matahari terbit tidak ada cahaya sama sekali. Gelap dan kami mengungsi membawa obor. Asap hitam. Bumi Hitam. Semua gelap. Penuh dengan abu," kata Ketut Rai.

Hal senada diceritakan Jero Mangku Suwenten (75).

Perempuan yang menjadi pengayah di Pura Besakih sejak tahun 1971 tersebut bercerita, saat Gunung Agung meletus dia berusia 21 tahun.

Dia melihat langsung hujan batu di tempat tinggalnya. Bahkan saat mengungsi, dia dan keluarganya harus melindungi kepala mereka dengan menggunakan alat rumah tangga.

"Ada batu yang sebesar kepala bayi. Dari jauh juga terlihat percikan api. Jika tidak dilindungi kepala bisa luka. Kami berjalan kaki saat mengungsi. Sudah tidak tahu apakah sudah malam atau masih siang. Jalan saja terus. Selama beberapa hari gelap gulita," jelasnya.

Jero Mangku Suwenten dan keluarga kembali ke rumahnya setelah suasana aman.

Selama tujuh keturunan, keluarganya menjadi pengayah di Pura Besakih yang berada di radius 6 kilometer dari puncak Gunung Agung.

Pengayah bertugas untuk mempersiapkan jika ada masyarakat yang bersembayang di Pura Besakih.

"Rumah saya di sana. Lihat kan ada rumah-rumah di lereng Gunung Agung. Itu di sana," katanya sambil menujuk arah Gunung Agung.

Saat status Gunung Agung meningkat, dia dijemput oleh keluarganya untuk tinggal di rumah anaknya yang berjarak 12 kilometer dari puncak Gunung Agung.

Ketika cuaca cerah dan Gunung Agung terlihat jelas seperti pada Jumat (29/9/2017), ia mengajak anak dan cucunya ke pos pemantau dan menceritakan peristiwa yang ia alami pada tahun 1963 lalu.

"Sekarang hanya perlu menunggu dengan sabar. Dulu banyak korban karena tidak ada teknologi seperti sekarang. Tiba-tiba meletus saja. Ada pertanda tapi kita tidak menyadari. Saya bilang ke keluarga dan kerabat ikuti kata petugas. Jangan dilanggar mereka yang lebih tahu ilmunya," kata perempuan yang masih terlihat sehat di usianya yang sudah senja.

Dia juga menyakini jika Gunung Agung akan memberikan kebaikan untuk masyarakat Bali.

"Sekarang kita kasih kesempatan kepada Gunung Agung untuk sendiri. Saya meyakini Ida Sanghyang Widhi Wasa akan melindungai semuanya," pungkasnya.

PVMBG: Jika Meletus, Letusan ‘Pembuka’ Gunung Agung akan Luar Biasa, Gempa akan Terasa Cukup Lama

AMLAPURA – Hingga Minggu (1/10/2017), Aktivitas Gunung Agung masih dinyatakan level IV awas.

Artinya Gunung Agung dalam keadaan kritis.

Kabid Mitigasi Gunungapi PVMBG Kementerian ESDM, I Gede Suantika menjelaskan, hingga saat ini kegempaan masih fluktuatif.

“Kegempaan sudah, ukuran lab deformasi masih menunjukan adanya penggemukan. Kemudian, asap soflatara sampai saat ini belum terlihat. Tapi terakhir, perkembangannya memang berubah dari tanggal 13 September sampai hari ini,” Jelas Suantika, Minggu (1/10/2017).

Jika berkaca pada letusan Gunung Agung tahun 1963, Suantika mengatakan ketika itu gempa terasa selama tiga hari terakhir sebelum akhirnya meletus.

Namun, kondisi Gunung Agung saat ini, gempa telah terasa hampir 15 hari.

“Itu mungkin yang membedakan,” kata Suantika.

Selain itu pada letusan tahun 1963, sempat terjadi gempa berkekuatan 4,7 SR, hingga saat ini gempa terbesar hanya berkekuatan 4,2 SR.

Suantika menjelaskan, dirinya memprediksi tekanan magma hingga saat ini masih tetap, tetapi kekuatan batuan di permukaan semakin melemah.

“Itu yang kami khawatirkan,” kata Suantika.

Ia menjelaskan, jika saat ini Gunung Agung meletus maka gempa-gempa akan lebih dominan dibandingkan saat letusan 1963.

“Memang kondisinya berbeda dibandingkan letusan 1963. Jika nanti Gunung Agung meletus, prekusor tentunya akan lebih banyak di sini. Prekusor itu tanda letusan berupa gempa-gempa terasa cukup lama. Cukup aneh juga,” jelas Suantika.

“Mungkin nanti kalau awal letusan sama. Walaupun sama, Gunung Agung kan lama tidak meletus. Sekali meletus pembuka memungkinkan ada lontaran batuan-batuan berpasir sejauh 6 km radial. Diprediksi akan luar biasa,”.

Bungaya Kangin Resmi Masuk Kawasan Rawan Bencana Erupsi Gunung Agung

Pemerintah Kabupaten Karangasem kembali merilis daerah yang masuk kawasan rawan bencana erupsi Gunung Agung.

Dari 78 desa/kelurahan di Karangasem, 28 desa ataupun kelurahan dinyatakan masuk kawasan rawan bencana.

Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika menjelaskan, daerah yang kena dampak jika erupsi Gunung Agung bertambah satu desa lagi, yakni, Desa Bungaya Kangin, Kecamatan Bebandem, Karangasem.

"Desa Bungaya Kangin masuk daerah rawan,"kata Pastika, Minggu (1/10/2017) .

Untuk diketahui, 28 Desa yang masuk kawasan rawan bencana tersebar di 6 Kecamatan.

Di Kecamatan Kubu ada Desa Tulamben, Kubu, Dukuh, Baturinggit, Sukadana, Ban, dan Tianyar.

Kecamatan Abang, Desa Pidpid bagian atas, Nawakerti, Kesimpar, Datah, dan Ababi bagian atas.

Kecamatan Karangasem ada Kelurahan Subagan selain Desa Adat Jasri, Kelurahan Padang Kerta kecuali Desa Adat Peladung dan Desa Adat Temaga, dan Kelurahan Karangasemyang berdekatan dan dialiri dengan Tukad (sungai) Janga.

Kecamatan Bebandem ada Desa Buana Giri, Budekeling dekat sungai embah api, Bebandem bagian atas, Desa Jungutan, dan Desa Bungaya Kangin.

Kecamatan Rendang ada Desa Besakih, Desa Pempatan bagian atas, serta Desa Menanga bagian atas seperti pemuteran dan sekitar.

Untuk Kecamatan Selat sebanyak 5 desa, yakni Desa Duda Utara, Desa Amerta Bhuana, Desa Sebudi, Desa Peringsari bagian atas seperti lusuh dan padang aji, serta Desa Muncan bagian atas sperti pejeng dan berapa banjar di daerah sekitarannya.

Aura Magis Begitu Terasa, Seratus Sulinggih Memohon Pengampunan Terkait Kondisi Gunung Agung

GIANYAR– Suasana hening di Pura Er Jeruk, Desa/Kecamatan Sukawati, Gianyar, seketika riuh dengan alunan mantra dan lentingan suara genta, Minggu (1/10/2017).

Sebanyak 100 orang suling Siwa-Bhuda tampak khusyuk dalam doanya.

Dalam ritual Puja Bhasmangkuram Bajra Wakyam itu, para seulinggih beserta ratusan umat Hindu memohon penngampunan, karena tidak bisa menjaga keseimbangan alam, sehingga terjadi ancaman erupsi Gunung Agung.

Aura magis sangat kental dalam prosesi ini.

Karena ini, sejumlah umat yang bhatinnya tidak kuat, tampak menitikkan air mata.

Bahkan ada pula yang bengong tanpa berkata apapun, hanya fokus pada pemujaan.

Mereka tampak menghayati setiap lantuan doa yang disuarakan para pedanda.

“Kami mohon pengampunan Ratu Bhatara, ampuni kami yang tidak bisa menjaga alam ini. Mohon ampunan-Mu. Maafkan kebodohan kami selama ini, yang tidak bisa menjaga karunia-Mu,” ujar seorang umat sembari menitikkan air mata.

Selain meminta pengampunan, dalam ritual tersebut para sulinggih melakukan pengelukatan massal untuk para umat.

Hal tersebut bertujuan supaya saat Gunung Agung mengalami erupsi, mereka terhindar dari bencana alam.

Ketua Panitia Ritual Puja Bhasmangkuram Bajra Wakyam, Ida Bagus Putu Wirawan mengatakan, ritual ini dilakukan untuk meminta pengampunan atas dosa umat dan leluhur, yang telah mengusik keseimbangan alam.

Menurut dia, ancaman erupsi Gunung Agung merupakan bentuk peringatan dari Ida Sang Hyangan Widhi karena abai terhadap Konsep Tri Hita Karana.

Karena itu, melalui ritual ini, umat meminta pengampunan.

Namun, jika nantinya letusan Gunung Agung tidak bisa dihindarkan.

Melalui ritual yang digelar ini, diharapkan Tuhan menyelamatkan umat dari ancaman bencana alam yang menjadi dampak dari erupsi.

“Dengan pengelukatan jasmani dan rohani umat diharpkan senantiasa bersih hingga dapat menghadapi peringatan alam tanpa adanya korban berjatuhan,” ujar Gus Wirawan.

Menurut Gus Wirawan, melalui ritual ini pula para sulinggi menunjukkan rasa bhaktinya terhadap Ida Bhatara Lelangit.

Selain itu juga memohon pengapunan atas kesalahan para leluhur, yang diduga menjadi cikal dari ancaman erupsi Gunung Agung.

“Selain memohon pengampunan atas perilaku umat sekarang, juga memohon pengampunan atas kesalahan leluhur terdahulu, yang mengakibatkan murkanya Ida Bhatara. Pada kesempatan ini juga untuk lebih mengenal dekat pelinggih atau stana Ida Bhatara Lelangit,” terangnya.








sumber : tribun
Share this article :

Visitors Today

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka