Macang 1963 Aman, Walau Masuk KRB Warga Enggan Mengungsi - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » , , » Macang 1963 Aman, Walau Masuk KRB Warga Enggan Mengungsi

Macang 1963 Aman, Walau Masuk KRB Warga Enggan Mengungsi

Written By Dre@ming Post on Selasa, 17 Oktober 2017 | 10/17/2017 01:37:00 PM

Para petani warga sebuah desa, mengangkut sebuah rumah, untuk memindahkannya ke tempat lebih aman, melintasi abu dan debu yang dimuntahkan Gunung Agung 1963.
AMLAPURA - Ratusan warga dari tiga desa yang masuk daerah kawasan rawan bencana (KRB) mengungsi ke Desa Macang, Kecamatan Bebandem, Karangasem, Bali, yang secara geografis juga masuk zona rawan alias merah.

Macang ditetapkan sebagai KRB sejak 5 Oktober 2017.

Perbekel Macang Ni Putu Dwi Suryanti menyebut, warga yang mengungsi ke Desa Macang sebagian besar dari Desa Jungutan, Bhuana Giri, serta Desa Bebandem.

Jumlah pengungsi yang masih bertahan di Macang sekitar 325 orang/jiwa.

"Pengungsi datang ke Macang sejak tanggal 22 September. Sebelumnya, jumlah pengungsi hampir mencapai 750-800 orang dan terus meningkat," kata Dwi Suryanti, Senin (16/10/2017).

Sebagian warga memilih mengungsi ke Desa Macang lantaran bercermin dari letusan Gunung Agung tahun 1963.

Sebagian warga dari Jungutan, Buanagiri, dan Bebandem yakin Desa Macang tak kena dampak erupsi Gunung Agung seperti 54 tahun silam.

Saat ini, sudah ada berapa pengungsi yang kembali ke rumahnya.

Alasannya untuk melihat kondisi rumah, ternak, serta barang berharga lainnya.

Pengungsi akan kembali ke posko Desa Macang ketika malam hari, untuk antisipasi hal yang tak diinginkan.

Berdasarkan penuturan orangtua dulu, Desa Macang hanya terkena hujan abu serta lontaran krikil kecil, ditambah aliran lahar dingin yang mengalir saat musim hujan.

Macang tidak sampai terkena lahar panas, asap panas, dan material yang cukup berat atau besar.

"Walaupun Macang ditetapkan oleh pemerintah sebagai kawasan rawan bencana, tapi banyak warga dari desa lain yang mengungsi ke Macang.

Warga asli Macang juga tak ada yang mengungsi. Mereka yakin kondisinya aman," ujar Dwi Suryanti.

Ditambahkan, jalur evakuasi sudah ada di Macang jika seandainya kena letusan erupsi Gunung Agung.

Seandainya lahar panas atau abu panas sampai ke Macang, warga akan berlari untuk selamatkan diri ke atas bukit, perbatasan Desa Macang dengan Desa Tenganan.

Seandainya masih dianggap berbahaya, warga segera akan turun ke Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, yang masuk kawasan aman.

"Sampai saat ini warga aman. Pengungsi juga masih di Posko Pesucian Desa Macang," ungkap Suryanti.

Informasi dihimpun, selain ngungsi ke Macang berapa warga yang tinggal di kawasan rawan bencana juga mengungsi ke daerah zona merah.

Seperti ke Desa Ababi dan Pidpid di Kecamatan Abang, Budakeling, Sibetan, dan Desa Bebandem.

Kabag Humas Pemda Karangasem, I Gede Waskita Sutha Dewa, mengaku belum mengetahui secara detail kondisi tersebut.

Ia belum berani komentar terlalu jauh terkait pengungsi yang ngungsi ke daerah kawasan rawan bencana.

"Saya baru tahu hari ini jika ada pengungsi yang mengungsi ke desa kawasan rawan bencana. Bahaya kalau seperti ini. Besok saya akan turun melihat posko pengungsian di kawasan rawan bencana," janji Waskita.

Enggan Mengungsi

Sementara warga di Desa Nawakerti, Kecamatan Abang, enggan mengungsi karena khawatir dengan ternaknya.

Mereka baru mau mengungsi apabila ternaknya dijamin oleh pemerintah.

Mulai dari proses evakuasi, makanan, hingga kesehatan.

"Warga saya mau kok mengungsi asalkan ditanggung pemerintah daerah. Warga (Nawakerti) enggan mengungsi karena belum ada jaminan dari pemerintah, terutama ternaknya. Sampai sekarang mereka belum ada keputusan apapun," kata Perbekel Nawakerti, I Wayan Putu, kemarin.

Jumlah penduduk Nawakerti sebanyak 4.632 orang, yang mengungsi 80 orang.

Sisanya sekitar 4.552 orang masih bertahan di rumah.

Warga yang tak mengungsi masih tetap beraktivitas seperti biasanya.

Mencari rumput untuk ternak serta bercocok tanam.

Selain karena masalah ternak, peristiwa 1963 juga menjadi penyebab warga bertahan di rumah.

Warga yang tak ngungsi yakin dampak letusan Gunung Agung tak sampai ke Nawakerti.

Tahun 1963, warga tonton letusan gunung dari Desa Nawakerti karena aman.

Mereka juga khawatir dengan barang-barang berharga yang ada di dalam rumahnya seandainya ditinggal.

Siapa yang bertanggung jawab jika ada barang yang hilang dan ternaknya mati.

"Warga kami mau mengungsi asal pemerintah bisa menjamin," akunya.

Wayan Putu mengaku sudah berapa kali mengelar sosialisasi ke warga, tapi belum digubris. Baik dari Perbekel maupun Polres Karangasem. Masalah ini juga sudah disampaikan saat menggelar paruman.

Tapi, tetap saja warga bertahan di rumah.

Info di lapangan, beberapa warga yang masuk kawasan rawan bencana juga masih ada yang tinggal di rumah.

Jumlahnya cukup banyak.

Dari 185 ribu jumlah pengungsi dari 28 desa yang masuk KRB, baru 139 ribu yang mengungsi.

Pengungsi itu berasal dari desa aman maupun rawan.

2.164 Ternak

Selain warganya yang belum diungsikan, sebanyak 2.164 ekor ternak warga di Nawakerti juga belum dievakuasi Pemda Karangasem.

Rinciannya, sapi 808 ekor, dan babi 1.356 ekor.

Pemiliknya mencapai 604 orang, tersebar di berapa dusun.

Perbekel Wayan Putu mengaku, ternak warga yang belum dievakuasi hampir 99 persen.

Ternak yang sudah dievakuasi hanya 1-10 ekor. Itupun dilakukan secara mandiri, alias mengevakuasi sendiri dengan kendaraan yang dimiliki.

"Belum ada aksi dari pemerintah daerah. Kemarin sebatas mendata. Sosialisasi juga belum pernah sama sekali dari pemerintah, padahal Nawakerti masuk kawasan rawan," kata Wayan Putu.

Kepala Dinas Pertanian Peternakan (DPP) Karangasem, I Wayan Supandi, membenarkan kondisi tersebut.

Hampir sebagian daerah di kawasan rawan bencana (KRB) enggan ternaknya dievakuasi.

Petugas sering gelar sosialisasi di desa yang terdampak, namun hasilnya belum maksimal.

Sampai 14 Oktober, kata Supandi, ternak yang dievakuasi sebanyak 6.459 ekor.

Meliputi kambing 534 ekor, babi 207 ekor, sapi 5.718 ekor.

Sebanyak 24.374 ekor masih belum dievakuasi, alias tetap dipelihara di lahan warga walaupun masuk kawasan rawan.

Ternak yang belum dievakuasi yakni sapi 16.897 ekor, kambing 4.341 ekor, babi 3.136 ekor.

Tersebar di lima kecamatan, seperti Kecamatan Rendang, Kubu, Bebandem, Selat, serta Abang.

"Warga yang enggan ternaknya dievakuasi yakni seperti di Desa Nawakerti, Dampal, dan Datah Kecamatan Abang. Masih banyak ternak yang harus dievakuasi," kata Supandi.

Selain belum ada jaminan pemerintah akan nasib ternaknya, warga juga enggan mengevakuasi ternaknya lantaran belum percaya dengan status Gunung Agung yang masih belum pasti meletus.

Berapa warga juga merasa wilayahnya dalam zona aman lantaran

cermin dari peristiwa letusan gunung 1963.

"Seandainya ternak diungsikan, masyarakat khawatir tak tersedia pakan yang cukup untuk ternaknya," aku Supandi. Padahal stok pakan ternak, seperti konsentrat masih 106.2 ton.

Ada juga rumput gajah, jerami, serta hijauan makanan ternak lainnya.

Upaya yang telah dilakukan petugas untuk ternak-ternak yang belum dievakuasi.

Di antaranya pendataan ternak di kawasan KRB serta memberikan imbauan ke masyarakat untuk mengungsikan dirinya dan ternak ke zona aman.

Untuk ternak yang telah dievakuasi, sementara ditampung di berapa daerah aman.

Seperti kandang Simantri Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, Desa Pertima, Desa Bugbug, Tumbu, Subagan, Ulakan, Tianyar Tengah, Tista, Bunutan, Kertamandala, dan Desa Abang.








sumber : tribun
Share this article :

Visitors Today

Dr.KidS

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka