Dampak Erupsi Gunung Agung, Turis Di Bali Aman Di Ditanggung Pemerintah - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » , , , » Dampak Erupsi Gunung Agung, Turis Di Bali Aman Di Ditanggung Pemerintah

Dampak Erupsi Gunung Agung, Turis Di Bali Aman Di Ditanggung Pemerintah

Written By Dre@ming Post on Kamis, 05 Oktober 2017 | 10/05/2017 11:23:00 AM

Puluhan wisatawan mancanegara turun dari kapal di Pantai Sanur setelah berwisata ke Nusa Lembongan, Bali, Rabu (4/10/2017).
DENPASAR - Gubernur Made Mangku Pastika menegaskan bahwa kendati Gunung Agung masih berstatus Awas tapi aktivitas vulkaniknya mulai menurun.

Pastika juga mengatakan, ia sudah memberitahu lima negara untuk mencabut peringatan perjalanan (travel advisory) untuk Bali.

“Ada lima negara yang mengeluarkan travel advisory kepada warganya terkait bepergian ke Bali. Saya sudah meminta supaya dicabut saja travel advisory itu, dan mereka setuju,” jelas Pastika seusai pertemuan di ruang Praja Sabha Kantor Gubernur Bali, Denpasar.

Ia mengungkapkan, apabila Gunung Agung meletus, hanya desa-desa pada radius 12 km yang terdampak.

Itu berarti tidak semua daerah Karangasem akan terdampak, sebab hanya 28 desa yang ada dalam radius berbahaya.

Padahal, Bali memiliki 716 desa. Dengan demikian, jauh lebih banyak desa yang masih aman daripada desa yang berada di kawasan rawan bencana.

Ia menegaskan pula pemerintah Bali saat ini sangat siap untuk menanggulangi dampak letusan.

Tidak seperti pada tahun 1963.

“Saya jelaskan pada beliau-beliau jangan membandingkan situasi saat ini dengan situasi tahun 1963. Jangan pikir bahwa Bali itu primitif,” tendasnya.

Pastika menambahkan, apabila Gunung Agung meletus dan bandara terpaksa ditutup sehingga turis terjebak, maka mereka akan disediakan transportasi dan akomodasi gratis ke Surabaya dan Lombok baik lewat darat maupun laut.

Dari Surabaya atau Lombok, mereka kemudian bisa naik pesawat untuk pulang ke negaranya.

Diperkirakan akan ada 5.000 turis yang terjebak di Bali jika Gunung Agung meletus.

“Kalau terjadi Gunung Agung meletus dan bandara tutup, maka kira-kira ada 5.000 penumpang yang tidak bisa terbang pulang. Jika itu turis asing maka kita akan urus perpanjangan visanya dan akomodasinya. Nanti kita juga bantu urus tiketnya,dan gratis. Kira-kira ada 5.000 orang turis asing yang tertahan di Bali kalau sehari saja bandara ditutup,” katanya.

Ia menegaskan bahwa akibat panjang yang menyangkut penyediaan transportasi dan akomodasi akan diurus pemerintah, dan anggaran untuk itu sudah disiapkan ketika status Bali dalam darurat bencana.

“Banyak cara kita untuk atasi dampak letusan Gunung Agung jika memang letusan benar-benar terjadi. Tenang saja. Urusan ini kan urusan gotong royong, tapi kita siap, siap pun sudah berdasarkan pada perhitungan,” tandas Pastika.

Ketua Tim Crisis Centre Bali atau ditetapkan bernama resmi Tourism Hospitality Task Force, AA Gede Yuniartha Putra mengatakan bahwa pihaknya masih membuat standar dan prosedur operasi nanti kalau bandara tutup.

“Seluruh anggaran nanti dari pusat. Itu seperti ditegaskan oleh Presiden Jokowi sendiri,” kata Pastika.

Tim di Crisis Centre juga akan berupaya meluruskan berita-berita hoax dan tidak tepat mengenai perkembangan Gunung Agung.

Konsul Kehormatan Denmark, Ida Ayu R. Sutamaya, memberi apresiasi kepada pemerintah daerah Bali karena cepat tanggap menyikapi kondisi Gunung Agung.

Kata Sutamaya, turis asing yang terjebak tak bisa pulang karena bandara ditutup saat terjadi letusan, akan diberi kelonggaran izin untuk tinggal lebih lama di Bali.

Akomodasinya, ucap dia, juga akan ditanggung.

Bahkan transportasi ke luar Bali juga akan disediakan secara gratis

“Pemerintah terlihat sangat-sangat siap untuk menghadapi letusan Gunung Agung. Cukup menyenangkan pula bahwa pemerintah akan memberi izin tinggal lebih lama di Bali jika situasi belum stabil, dan menyediakan transportasi keluar dari Bali dengan gratis,” ujar Sutamaya usai pertemuan para konsul dengan Gubernur Bali.

Sutamaya mengatakan, memang ada penurunan jumlah warga Denmark ke Bali sekitar 30 sampai 40 persen sejak Gunung Agung dinyatakan status Awas pada 22 September lalu.

Hal itu, jelas Sutamaya, karena Denmark adalah negara kecil berpenduduk 6 juta jiwa yang tidak memiliki gunung api.

Pasca status Awas itu, warga Denmark yang datang ke Indonesia tidak sampai 1.000 orang, atau setiap hari datang 100 orang.

“Mereka (warga Negara Denmark) bukan tipe gampang ditenangkan karena mereka tidak punya gunung berapi di negaranya. Maka dari itu, setiap hari email dan twitter kita selalu ramai dengan pertanyaan tentang kondisi Gunung Agung,” kata Sutamaya.

“Mereka tahu bahwa Gunung Agung jauh dari Denpasar. Tetapi karena mereka tidak biasa menghadapi kondisi gunung berapi, maka banyak pertimbangan untuk pergi ke Bali dalam situasi saat ini,” jelas Sutamaya.

Hal berbeda dikatakan oleh Konsul Kehormatan Selandia Baru (New Zealand), Indy Siddik.

Siddik mengatakan, warga New Zealand di Bali tetap tenang menghadapi kondisi terkait Gunung Agung saat ini.

Padahal, pemerintah New Zealand telah mengeluarkan travel advisory terkait kunjungan ke Bali di tengah peningkatan aktivitas Gunung Agung.

“Kami tiga kali seminggu membawa 750 orang New Zealand ke Bali. Saat ini ada 1.100 warga New Zealand di Bali, Surabaya dan Lombok. Tidak ada penurunan jumlah mereka yang ke sini, karena di New Zealand juga sudah biasa terjadi gunung meletus. Mereka tidak kaget apalagi panik,” jelas Siddik.

Banyak Pembatalan

Walaupun belum terjadi erupsi, status Awas Gunung Agung sudah cukup memukul bisnis pariwisata di Bali.

Berdasarkan data yang diterima dari lapangan hingga 3 Oktober lalu, setidaknya ada 38 hotel bintang di Bali yang mengalami pembatalan (cancellation) kunjungan akibat berita Gunung Agung.

Data tersebut menunjukkan rata-rata cancellation turis asing ke Bali mulai 10-200 room night, bahkan ada yang mencapai di atas 1.000 room night.

Ketua PHRI Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati atau Cok Ace memperkirakan wisatawan yang batal ke Bali adalah kategori wisatawan MICE atau yang datang ke Bali untuk konferensi dan meeting.

“Dengan pernyataan Gubernur Bali di depan para konsul negara-negara sahabat, saya berharap angka pembatalan berkurang. Kami berharap angka pembatalan tidak akan melebihi angka pertumbuhan yang rata-rata dari tahun 2016-2017 sekitar 22 persen,” kata Cok Ace kemarin.

Sementara itu, puluhan krama mengelar upacara Nedungan Ida Bhatara dan Mapepada di Pura Penataran Agung Besakih, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Rabu (4/10/2017) sekitar pukul 08.00 Wita.

Ritual hanya diikuti warga dan prajuru Desa Adat Besakih.

Upacara Nedungan Ida Batara dan Mepepada merupakan rangkaian pujawali Purnama Kapat yang akan digelar pada Kamis (5/10) hari ini.

Acara ini dihadiri berapa orang karena status Gunung Agung masih Awas.

Ritual diawali dengan Nedungan Ida Bhatara.

Dilanjutkan Mepepada memakai dua ekor kambing warna hitam, seekor kerbau, serta seekor penyu.

Setelah Mepepada, puluhan krama langsung menggelar persembahyangan untuk memohon keselamatan dan keamanan jagat.

Pemangku Pura Penataran Agung Besakih, Gusti Jro Mangku Jana mengatakan bahwa Nedunan Ida Bhatara dan Mepepada digelar dalam rangka upacara karya aci kapat yang digelar setiap tahun, tepatnya pada Purnama Sasih Kapat. Ini adalah rangkaian dari upacara catur loka pala.

"Upacara ini rangkaian dari upacara catur loka pala yakni karya pengenteg jagat, karya pengurip gumi. Upacara di padma 3, menaung bayu, dan payabrahma," kata Jro Mangku.










sumber : tribun
Share this article :

Visitors Today

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka