Siswa Pengungsi 5.076 Orang, Sirine Peringatan Erupsi Dipasang - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » , , , » Siswa Pengungsi 5.076 Orang, Sirine Peringatan Erupsi Dipasang

Siswa Pengungsi 5.076 Orang, Sirine Peringatan Erupsi Dipasang

Written By Dre@ming Post on Kamis, 28 September 2017 | 9/28/2017 09:04:00 AM

Gending Lara Para Pengungsi Jadi Viral

GIANYAR - Diciptakan oleh AA Raka Sidan, terinspirasi dari musibah erupsi Gunung Agung

Musisi kenamaan Bali, AA Raka Sidan menciptakan lagu berjudul ‘Gending Lara Para Pengungsi”. Lagu yang terinspirasi dari musibah erupsi Gunung Agung yang mengharuskan 90 ribu jiwa lebih warga Karangasem mengungsi ke tempat yang lebih aman itu diciptakan secara spontanitas.

Sontak, sejak diunggah pertama kali melalui akun Facebooknya lagu yang dibagikan secara cuma-cuma lewat Mp3 langsung viral. Hingga Rabu (27/9) kemarin, lagu yang diaransemen oleh Dek Artha itu sudah tayang lebih dari 350.946 kali.

Komentar dari para nitizen pun beragam, dominan mengacungkan jempol dan turut merasakan kesedihan. Salah satunya diungkapkan akun Facebook atas nama Pak Marsya.

“Bikin sedih dumogi ida shang hyang widhi stata ngicen jagat Bali kerahayuan.punika taler semeton ring Karangasem tabah.kita d seluruh Bali merasakan ap yg semeton ring Karangasem rasakan,” komentarnya.

Sementara dalam unggahannya, Raka Sidan mengatakan hanya perlu waktu satu jam untuk menyelesaikan lirik lagu ini. “Astungkara tumben tityang bikin lagu cuma 1 jam tentang pengungsi Karangasem dengan judul "GENDING LARA PARA PENGUNGSI",” ujarnya.

Lagu yang mengisahkan tentang ancaman bencana erupsi Gunung Agung dengan intensitas gempa yang terjadi sepanjang hari ini, katanya dipersembahkan kepada seluruh masyarakat. Penyanyi yang hits dengan lagu Song Brerong ini pun membagikan secara cuma-cuma lagu ini via Whatsapp.

“Lagu niki tityang persembahkan buat ida dane sami silahkan nanti didownload atau dibagikan mp3 nya. Tityang akan shoot secepatnya sambil membagikan bantuan dipengungsi...suksma,” ungkapnya.

Di sisi lain, Raka Sidan mengaku sampai meneteskan air mata ketika rekaman lagu ini. “Baru saja take vokal, tityang sampai meneteskan air mata. Mungkin karena terlalu menghayati. Dumogi secepatnya bisa kita sebarkan, supaya terketuk hati para donatur. Didengarkan dulu ya, nanti tyang bagikan Mp3 lewat WA,” ujarnya.

Raka Sidan pun menegaskan, lagu ini tidak untuk dijual tapi untuk dibagikan. Pihaknya berharap, bala bantuan tidak hanya lancar pada pra bencana, melainkan juga saat bencana dan pasca bencana.

Ribuan Krama Mohon Karahayuan

SEMARAPURA - Kulkul Lanang-Istri (laki-perempuan) di Pura Pajenengan Puri Agung Klungkung, berbunyi secara gaib, Jumat (22/9) malam. Kini ribuan pamedek dari pelbagai daerah di Bali tangkil (datang bersembahyang) ke Pura Pajenengan. Karena, seperti pengalaman tahun-tahun silan, jika kulkul keramat itu berbunyi secara gaib, maka diyakini sebagai tanda-tanda akan terjadi musibah.

Pamedek yang tangkil ke Pura Pajenengan itu mulai ramai tangkil sehari setelah kulkul itu berbunyi. Mereka mohon karahayuan (keselamatan) dengan nunas (mohon) tirta wangsuh pada (pembersih secara niskala) dan benang tri datu untuk dipasang pada tangan kanan. Hal itu berdasarkan sabda (petunjuk gaib) Ida Bhatara di Pura Pajenengan yang disampaikan secara niskala kepada Pamangku di Pura Pajenengan yakni Jro Mangku Nyoman Sastrawan.

Untuk di masing-masing mrajan atau sanggah umat, di Rong Tiga agar dihaturkan banten pejati putih, segehan sor ulam bawang jahe dan sajeng rateng. Di tengah pekarangan dihaturkan ajengan cacahan maura, taluh ceplok, dan api takep. Ajengan cacah maura (berantakan) di atasnya berisi taluh ceplok digoreng.

“Untuk nunas tirta maupun nunas benang tri datu bisa tangkil ke Pura Pajenengan Puri,” ujar Jro Mangku Sastrawan.

Disebutkan, kulkul keramat itu berbunyi secara gaib, Jumat (22/9) malam. Bercermin dari musibah bencana alam sebelumnya. Diyakini jika kulkul itu berbunyi akan terjadi marabahaya. Oleh karena itu masyarakat diminta agar senantisa berdoa dan mengenakan benang tridatu pada tangan kanan.

Pajenengan merupakan sthana Dewa Iswara, sudah ada sejak zaman Kerajaan Klungkung. Namun tidak sembarang orang bisa mendengar suara kulkul itu atau hanya bisa didengar oleh orang-orang tertentu saja.

“Sekitar pukul 23.00 Wita Ida Bhatara Pajenengan bersuara gaib yang mendengarkan dari Puri Batan Bunut, Klungkung, Tjokorda Gde Agung dan Ketut Kuning warga dari Kecamatan Dawan, Klungkung,” ujarnya.

Warga yang mendengar bunyi Kulkul itu langsung menyampakan kepada Jro Mangku Sastrawan. Kata dia, bunyi kulkul tersebut memang memiliki suara yang khas, yakni bunyinya dang-dung, dang-dung.

Sebagian Sulinggih Enggan Mengungsi

AMLAPURA - Sebagian besar dari 107 sulinggih yang tinggal di kawasan rawan bencana (KRB) masih enggan mengungsi, meskipun Gunung Agung sudah berstatus awas.

Sedangkan untuk 22 sulinggih yang berada di KRB III sudah mengungsi semua.Data yang diperoleh, Rabu (27/9), wilayah KRB III yang meliputi enam desa, dihuni 22 sulinggih dan semuanya sudah mengungsih ke daerah aman. Keenam desa tersebut masing-masing Desa Ban (Kecamatan Kubu), Desa Dukuh (Kecamatan Kubu), Desa Sebudi (Kecamatan Selat), Desa Buana Giri (Kecamatan Bebandem), dan Desa Jungutan (Kecamatan Bebandem).

Sedangkan wilayah KRB II meliputi 5 desa, yakni Desa Pempatan (Kecamatan Ren-dang), Desa Tulamben (Kecamatan Kubu), Desa Datah (Kecamatan Abang), Desa Pidpid (Kecamatan Abang), dan Desa Amerta Bhuana (Kecamatan Selat). Di kawasan ini tidak ada sulinggih.

Sementara wilayah KRB I yang meliputi 21 desa/kelurahan, dihuni 85 sulinggih. Rinciannya, Desa Duda (Kecamatan Selat/dihuni 14 sulinggih), Desa Selat (Kecamatan Selat/2 sulinggih), Desa Muncan (Kecamatan Selat/8 sulinggih), Desa Duda Timur (Kecamatan Selat/5 sulinggih), Desa Sibetan (Kecamatan Bebandem/13 sulinggih), Desa Bebandem (Kecamatan Bebandem/3 sulinggih), Desa Budakeling (Kecamatan Bebandem/14 sulinggih), Desa Ababi (Kecamatan Abang/6 sulinggih), Desa Menanga (Kecamatan Rendang/4 sulinggih), Kelurahan Subagan (Kecamatan Karangasem/12 sulinggih), dan Kelurahan Padangkerta (Kecamatan Karangasem/sulinggih).

Para sulinggih yang tinggal di KRB I inilah yang kabarnya masih enggan untuk me-ngungsi. Sebaliknya, seluruh 22 sulinggih di KRB III sudah mengungsi ke tempat aman. Hal ini juga diakui tokoh dari Gria Ulon, Banjar/Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem, IB Oka Gunastawa.

"Semua Ida Pedanda dari Desa Jungutan telah mengungsi ke luar Karangasem. Saya sendiri mengajak tiga sulinggih ke Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Gianyar," jelas Oka Gunastawa yang juga Ketua DPW NasDem Bali.

Sementara itu, para sulinggih di Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem yang berjumlah 14 orang, masih enggan mengungsi. Mereka kompak menggelar doa setiap hari, guna mencegah terjadinya erupsi Gunung Agung. Pengalaman bencana Gunung Agung meletus tahun 1963 membuktikan, kekuatan doa seluruh Ida Pedanda di Desa Budakeling mampu membelokkan aliran lahan panas dari desa tersebut.

Bendesa Pakraman Budakeling, Ida Wayan Jelantik Oyo, mengatakan atas dasar pengalaman 1963 itu, sejauh ini belum ada warga Desa Budakeling yang mengungsi. Para sulinggih di Desa Budakeling juga belum ada yang mengungsi. “Belum ada yang mengungsi,” ujar Jelantik Oyo, menegaskan saat dihubungi di Griya Sukayasa, Banjar Triwangsa, Desa Budakeling, Senin (25/9) lalu.

Menurut Jelantik Oyo, 14 pedanda kompak khusyuk berdoa setiap hari dengan menggelar ritual Nyurya Sewana di Pura Kahyangan Tiga, Pura Dang Kahyangan Taman Sari, dan pura lainnya. Mereka menggelar ritrual bersama krama dan Ida Mangku, untuk mendoakan agar semesta ini selamat, seluruh umat sedharma terhindar dari bahaya. "Makanya kami tidak gungsi, seluruh warga tidak ngungsi, begitu juga Ida Pedanda pilih berdoa setiap hari," katanya.

Siswa Pengungsi Tembus 5.076 Orang

DENPASAR - Jumlah siswa asal Karangasem yang kini mengungsi akibat bencana Gu-nung Agung mencapai 5.076 orang. Klungkung Berdayakan Guru Pengungsi

Siswa mulai jenang SD, SMP, SMA/SMK, hingga SLB ini ngungsi menyebar di 9 kabupaten/kota se-Bali dan kini mengikuti proses belajar di sekolah-sekolah dekat pengungsiannya. Pemprov Bali berupaya agar ribuan siswa ini jangan sampai putus sekolah.

Berdasarkan data yang dibeber Biro Humas Setda Provinsi Bali, Rabu (27/9), jumlah siswa jenjang SD yang mengungsi mencapai 2.343 orang. Sedangkan jumlah siswa SMP di pengungsian sebanyak 1.262, disusul siswa SMA sebanyak 1.221, siswa SMK sebanyak 248, sementara siswa SLB (Sekolah Luar Biasa) hanya 2 orang. Mereka terbanyak mengungsi di wilayah Kabupaten Klungkung mencapai 2.740 siswa, disusul di Buleleng 720 siswa, dan di Bangli 595 siswa (Selengkapnya, lihat tabel).

Menurut Karo Humas Setda Provinsi Bali, Desa Gede Mahendra Putra, jumlah total 5.076 siswa yang mengungsi tersebut merupakan data terakhir hingga Selasa (26/9). Jumlah ini diperkirakan masih fluktuatif, mengingat pendataan masih terus dilakukan, khususnya pengungsi mandiri yang tinggal di rumah sanak saudara mereka. Untuk siskronisasi dan validasi data, dalam waktu dekat Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Bali akan menggelar rakor dengan Disdik Kabupaten/Kota se-Bali.

Dewa Mahendra menyatakan, Pemprov Bali melalui Dinas Pendidikan menaruh perhatian atas keberlanjutan pendidikan para siswa yang mengungsi bersama keluarganya ini. “Pemprov Bali pun telah melakukan antisipasi dan konsolidasi, guna memastikan tidak ada anak pengungsi yang sampai putus sekolah,” jelas Dewa Mahendra seusai berkoodinasi dengan Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Bali, I Wayan Serinah, di Denpasar, Rabu kemarin.

Terkait keberlanjutan pendidikan para siswa di pengungsin ini, kata Dewa Mahendra, Pemprov Bali telah melakukan antisipasi sejak Gunung Agung masih berstatus waspada (level III). Pemprov Bali langsung mengeluarkan Surat Edaran (SE) yang ditujukan kepada para kepala sekolah (Kasek) di wilayah KRB, para Kasek di luar KRB, Dinas Pendidikan, dan UPT Disdik di Kabupaten/Kota se-Bali, 22 September 2017 lalu. Dalam SE tersebut, para Kasek beserta seluruh jajarannya diminta mendata peserta didik yang sudah mengungsi dan yang kemungkinan akan mengungsi, termasuk lokasi tujuan mereka mengungsi.

Selain itu, para Kasek dan jajarannya juga diminta melakukan persiapan penyelamatan dan pengamanan dokumen penting serta aset sekolah. Sedangkan sekolah yang lokasinya di luar KRB diminta berperan aktif dalam penanganan bencana yang diakibatkan peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Agung. Mereka diminta mendata siswa yang mengungsi di lingkungan sekolah masing-masing dan memfasilitasi anak-anak pengungsi agar mendapatkan kelanjutan pendidikan sesuai jen-jangnya. “Intinya, siswa yang mengungsi wajib diterima di sekolah terdekat lokasi pengungsian, baik negeri maupun swasta,” tandas Dewa Mahendra.

Sejauh ini, kata dia, upaya menjamin keberlanjutan pendidikan bagi siswa pengungsi telah berjalan cukup baik. Pihaknya mengapresiasi sikap proaktif yang ditunjukkan Dinas Pendidikan dan para Kasek di kabupaten/kota. Setelah memastikan seluruh siswa pengungsi mendapat tempat belajar, langkah selanjutnya adalah memenuhi kebutuhan sekolah mereka seperti buku, seragam, dan lainnya. “Kami berharap masyarakat juga ikut proaktif memfaslitasi anak pengungsi untuk kembali berseko-lah,” katanya.

Sementara itu, Dinas Pendidikan (Disdik) Klungkung tidak hanya mendata pengungsi yang berstatus pelajar, namun juga menyasar para pengungsi kalangan guru. Nantinya, para guru ini akan diberdayakan mengajar di sekolah dekat lokasinya mengungsi, mengingat jumlah siswa pengungsi di Klungkung mencapai ribuan orang.

“Kita tengah mendata guru-guru dari Karangasem yang ikut mengungsi ke Klungkung. Saat ini, masih kita rekap datanya,” ujar Kadis Pendidikan Klungkung, Dewa Gde Darmawan, di Semarapura, Rabu kemarin.

Dewa Darmawan menyebutkan, hingga saat ini sudah tercatat 27 guru asal Karangasem yang mengungsi di Klungkung. Rinciannya, 8 guru TK, 6 guru SD, 19 guru SMP, dan 4 guru SMA/SMK. Dalam pendataan ini, Disdik Klungkung menggunakan sistem jemput bola, dengan mengubungi langsung guru-guru bersangkutan. Di samping itu, ada pula guru yang secara sukarela datang mendaftarkan diri ke Posko Pengungsian.

Menurut Dewa Darmawan, masih ada beberapa guru yang yang tersebar di beberapa Posko Pengungsian yang tengah didata. “Kami sudah minta agar mereka saling menghubungi satu sama lain,” ujar Dewa Darmawan.

Setelah pendataan, para guru pengungsi tersebut nantinya akan disebar mengajar ke masing-masing sekolah terutama yang menerima siswa pengungsi cukup banyak, selain ke sekolah yang memang kekurangan guru. Hal ini juga akan dikoordinasikan kepada Disdik Karangasem. “Sehingga guru yang ikut mengajar ini juga bisa dihitung jam mengajarnya.

Sirine Peringatan Erupsi Sudah Dipasang

AMLAPURA - PVMBG telah keluarkan peringatan level orange untuk jalur penerbangan terkait status awas Gunung Agung

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sudah pasang sirine peringatan dini sebagai penanda terjadinya erupsi Gunung Agung di Karangasem, Rabu (27/9) pagi. Jika sirine berbunyi, itu peringatan kepada masyarakat agar mereka segera menjah dan menghindar dari bahaya letusan Gunung Agung.

Sirine peringatan dini erupsi Gunung Agung yang sudah dipasang, Rabu pagi, berada di Pura Bale Agung, Desa Pakraman Selat, Kecamatan Selat, Karangasem, persis di depan Mapolsek Selat. Rencananya, total ada lima unit sirine peringatan dini atau early warning system (EWS) yang akan dipasang BNPB. Empat titik pemasangan lagi, antara lain, di sekitar Mapolsek Kubu, Pos Polisi Tianyar (Kecamatan Kubu), dan Polsek Rendang.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karangasem, Ida Bagus Ketut Arimbawa, mengungkapkan EWS yang akan dipasang di lima titik ini berfungsi memberitahukan kepada masyarakat terkait terjadinya bencana erupsi Gunung Agung. Jika erupsi terjadi, sirine akan berbunyi selama 2 jam, hingga masyarakat punya waktu menyelamatkan diri.

"Peringatan dini sangat penting, makanya dipasang EWS. Begitu sirine dari EWS berbunyi, masyarakat mesti langsung menjauh, karena dalam keadaan darurat," ungkap IB Arimbawa, Rabu kemarin. Disebutkan, EWS yang terpasang memantau perkembangan Gunung Agung selama 24 jam dari jarak sekitar 6 kilometer. Selain itu, kata Arimbawa, EWS juga dipasang di Banjar Sega, Desa Bunutan, Kecamatan Abang, Karangasem yang fungsinya khusus untuk mendeteksi pergerakan tanah.

Sementara, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, membenarkan pemasangan sirine peringatran dini di lima titik. Menurut Sutopo, sirine dipasang sebagai sarana peringatan kepada masyarakat agar segera menjauh dari bahaya letusan Gunung Agung.

Sirine yang dipasang ini, kata Sutopo, mempunyai kekuatan bunyi yang bisa didengar dalam radius 2 kilometer. "Sirine dibunyikan secara manual oleh petugas jaga yang terhubung Pos Komando Utama di Karangasem," ujar Sutopo dilansir Antara secara terpish dari Pos Pengamatan Gunungapi di Desa/Kecamatan Rendang, Rabu kemarin.

Selain sirine, kata Sutopo, BNPB juga memasang rambu-rambu evakuasi yang me-nginformasikan posisi di lapangan dari radius berbahaya. Peta radius berbahaya letusan Gunung Agung ditetapkan di peta dengan bertuliskan ‘Anda saat ini berada di radius 9 kilometer dari puncak kawah Gunung Agung’.

Sedangkan Kepala Badan Geologi Pusat Volkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Kasbani, menyatakan setelah Gunung Agung berstatus awas, radius 9 kilometer dari kawah puncak mesti mengungsi. Ini ditambah perluasan sektoral ke utara, timur laut, tenggara, selatan, dan barat daya sejauh 12 kilometer.

Saat ini, kata Kasbani, aktivitas vulkanik Gunung Agung cenderung meningkat. Selama seharian kemarin dari pukul 00.00 Wita hingga petang pukul 18.00 Wita, terjadi 329 kali gempa vulkanik dangkal dan 444 gempa vulkanik dalam. Sedangkan pergerakan magma terus ke permukaan (kawah) Gunung Agung. "Peluang gunung meletus sangat besar, hanya saja belum dipastikan kapan erupsi," jelas Kasbani saat menerima kunjungan Menteri Sosial Kofifah Indar Parawansa di Pos Pengamatan Gunung Api Gunung Agung di Banjar Rendang Dangin Pasar, Desa/Kecamatan Rendang, Rabu kemarin.

PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM telah mengeluarkan peringatan level orange untuk jalur penerbangan terkait status awas Gunung Agung, karena berpotensi terjadi letusan dengan estimasi ketinggian 5-10 kilometer. Menurut Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG, Gede Suantika, peringatan level orange tersebut telah dikeluarkan melalui laman Vulcano Observatory Notice to Aviation (VONA), Selasa (26/9) malam. Dengan level tersebut, para pilot agar menghindari penerbangan di jalur atas Gunung Agung.

"Untuk Gunung Agung, kami mengeluarkan level VONA orange. Disebutkan dalam VONA orange ini tinggi abu masih nol. Tapi, karena status Gunung Agung level IV (awas), kami pasang alat levelnya di orange," jelas Gede Suantika, Rabu kemarin.

Menurut Suantika, peningkatan level VONA orange ini karena adanya gejala di per-mukaan Gunung Agung. "Jadi hanya gejala di permukaan saja yang kita umumkan kepada pilot, bahwa level VONA nya sudah naik dari kuning ke orange. Setiap saat Gunung Agung bisa meletus dengan melontarkan abu ke atas setinggi 5-10 kilometer," tandas Suantika.

Suantika menegaskan, level VONA orange lebih lanjut diterjemahkan pihak otoritas penerbangan, di mana mereka akan menganalisis sejauh mana bisa terbang. Caranya, dengan mengamati gunung bersangkutan. Khusus untuk Gunung Agung, berlaku larangan terbang di bawah ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (Dpl). Menurut Suantika, level orange tidak berlaku bagi penerbangan militer.

Sementara itu, Gubernur Made Mangku Pastika kembali menegaskan pariwisata di Bali masih aman untuk wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Namun, Gubernur Pastika menyayangkan adanya oknum agen perjalanan yang masih menawarkan paket wisata melihat Gunung Agung. Padahal, Gunung Agung sudah awas.

"Jadi pariwisata mestinya oke. Untuk saudara dan saudari dari luar negeri, Bali masih aman. Area bahaya hanya 12 km dari kawah. Jadi, jika erupsi terjadi, bahaya hanya dalam radius itu," tandas Pastika di Pos Pengungsian GOR Swacepura, Desa Gelgel, Kecamatan Klungkung, Rabu kemarin.

Pastika mengingatkan, objek wisata yang terdampak Gunung Agung kurang dari se-tengahnya. Khusus di Karangasem, ada 64 objek wisata yang masih aman dari wilayah terdampak. "Bali tidak hanya Gunung Agung. Bahkan, di Karangasem masih ada 64 objek pariwisata yang aman di antara 80-an objek wisata di kabupaten tempat Gunung Agung itu," katanya.

Meski begitu, Pastika menyatakan sebaran abu vulkanik bisa saja terbawa ke kabupaten lainnya hingga mempengaruhi pariwisata di Bali. Sebaran abu vulkanik juga bergantung tiupan angin. "Kalau terjebak karena abu vulkanik, tentu berbahaya untuk penerbangan. Tapi, itu kan tergantung arah angin. Harapannya, jika erupsi terjadi sekarang, itu belum tentu berdampak ke Bandara Ngurah Rai," ujar Pastika.






sumber : nusabali
Share this article :

Visitors Today

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka