Kulkul Keramat Puri Klungkung Berbunyi, Gunung Agung Berpotensi Erupsi - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » , , » Kulkul Keramat Puri Klungkung Berbunyi, Gunung Agung Berpotensi Erupsi

Kulkul Keramat Puri Klungkung Berbunyi, Gunung Agung Berpotensi Erupsi

Written By Dre@ming Post on Minggu, 24 September 2017 | 9/24/2017 04:09:00 PM

Gunung Agung terlihat di kawasan Desa Rendang,Kabupaten Karangasem,Minggu (24/9/2017). (Gbr Latar Belakang)
Berbunyi, Kulkul Keramat Puri Agung Klungkung

SEMARAPURA - Kulkul keramat lanang-istri (laki-laki–perempuan) di Puri Agung Klungkung berbunyi secara gaib pada Jumat (22/9) malam.

Bercermin dari musibah bencana alam sebelumnya, diyakini jika kulkul itu berbunyi akan terjadi marabahaya atau musibah bencana alam. Oleh karena itu masyarakat diminta agar senantisa berdoa dan mengenakan benang tridatu pada pergelangan tangan kanan.

Kulkul keramat yang juga disebut Pajenengan itu merupakan stana Dewa Iswara. Keberadaannya sudah ada sejak zaman Kerajaan Klungkung. Diketahui kulkul tersebut berbunyi berbunyi secara gaib pada Jumat (22/9) sekitar pukul 23.00 Wita. Namun tidak sembarang orang bisa mendengar suara kulkul itu. Bunyi kulkul hanya bisa didengar oleh orang-orang tertentu saja.

Pamangku Pajenengan (Kulkul) di Puri Agung Klungkung, Jro Mangku Nyoman Sastrawan saat ditemui pada Sabtu (23/9) sore, mengakui kulkul tersebut telah berbunyi sendiri. “Sekitar pukul 23.00 Wita Ida Bhatara Pajenengan Puri Agung Klungkung bersuara gaib. Yang mendengarkan dari Puri Batan Bunut, Klungkung, Tjokorda Gde Agung dan Ketut Kuning, warga dari Kecamatan Dawan, Klungkung,” ujar Jro Mangku Sastrawan.

Warga yang mendengar bunyi kulkul itu langsung menyampakan kepada Jro Mangku Sastrawan. Kata dia, bunyi kulkul tersebut memang memiliki suara yang khas, yakni bunyinya ‘dang-dung, dang-dung’.

Disebutkan kalau kulkul keramat itu bersuara secara niskala, diyakini sebagai pertanda akan ada bencana alam. Oleh karena itu diharapkan agar umat/krama senantiasa bersembahyang. Di samping itu sesuai Sabda Ida Bhatara Pajenengan agar mengenakan benang tridatu di pergelangan tangan kanan untuk memohon keselamatan.

Pasca-bunyi kulkul di Puri Agung Klungkung pada Sabtu kemarin puluhan warga tangkil untuk sembahyang ke Pajenengan di Puri Agung Klungkung. Krama yang sembahyang juga diberikan benang tridatu untuk diikatkan di pergelangan tangan kanan. “Sudah banyak yang tangkil untuk sembahyang,” imbuh Jro Mangku Sastrawan.

Diakui kulkul itu sebelumnya sempat berbunyi pada Januari 2017 lalu, atau beberapa hari sebelum terjadinya musibah tanah longsor di tiga desa berbeda di Kecamatan Kintamani, Bangli, hingga mengakibatkan 12 nyawa melayang dan 9 korban terluka, Jumat (10/2) dini hari.

Lebih lanjut Jro Mangku Sastrawan menjelaskan, keberadaan kulkul itu sudah ada sejak zaman kerajaan di Klungkung. Ketika terjadi perang antara Belanda dengan Raja Klungkung atau Puputan Klungkung. Pajenengan itu diselamatkan dan dipindahkan ke Pura Dalem Kresek, di lingkungan Bendul, Klungkung, yang lokasinya tidak jauh dari Puri Agung Klungkung.

Ternyata beberapa waktu kemudian terjadi musibah di keluarga Puri Agung Klungkung. Kemudian seorang keluarga puri mendengar ada pawisik supaya Pajenengan itu dikembalikan lagi ke tempatnya semula, dan hal itu dilakukan. Kulkul itu memang pantang dibunyikan dan hanya dibiarkan bersuara secara alami. “Suaranya bisa terdengar hingga ke luar Pulau Bali,” tuturnya.

Berkaca Pada 1963, Letusan Gunung Agung 10 Kali Lipat Gunung Merapi

AMLAPURA - Gunung Agung memiliki indeks letusan atau Volcanic Explosivity Index (VEI) di angka dua sampai lima.

Saat meletus tahun 1963 punya indeks lima, sehingga kekuatan letusan Gunung Agung 10 kali lipat dari letusan Gunung Merapi pada tahun 2010.

Hal itu dikatakan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kasbani, saat rapat koordinasi tanggap darurat di Kantor Bupati Karangasem, Sabtu (23/9).

"Kami berkaca pada saat letusan tahun 1963. Gunung Agung itu punya indeks lima. Dan tahun 1963 Gunung Agung erupsi itu 10 kalinya dari letusan Gunung Merapi," ungkap Kasbani.

Volcanic Explosivity Index (VEI) atau indeks letusan gunung api adalah skala yang digunakan untuk mengukur kekuatan letusan gunung api.

Indeks yang pertama kali diciptakan di Smithsonian Institution, Washington D. C ini didasarkan pada dua hal, yaitu jumlah material yang dilontarkan atau dilepas saat letusan, dan ketinggian lontaran material tersebut ke atmosfer.

Ini adalah skala logaritmik, yang berarti bahwa setiap langkah perubahan merupakan urutan besarnya (atau 10 kali) meningkat selama langkah sebelumnya dalam hal amplitudo diukur.

Di Indonesia, Gunung Tambora (NTB) memiliki indeks terbesar yakni tujuh, disusul Gunung Krakatau (6), Gunung Agung (5), dan Gunung Merapi (4).

"Jadi dari empat ke lima itu selisih 10 kali. Tapi kita berharap bila meletus nanti, VEI Gunung Agung antara tiga sampai empat," terang Kasbani.

Menurut Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG, Gede Suantika, VEI 3 jika meletus maka tinggi volume kolom abu mencapai 5 km sampai 10 km dari puncak Gunung Agung.

Muntahan materialnya sekitar 0,83 kilometer kubik dikeluarkan dalam akumulasi setahun. Mengacu pada letusan Gung Agung tahun 1963.

"Itu keluarnya hampir satu tahun. Tapi apakah dikeluarkan semuanya atau bertahap. Kita belum bisa pastikan," katanya saat ditemui di Pos Pemantau Gunung Agung di Desa Rendang, Karangasem, kemarin.

Pada letusan tahun 1963, Gunung Agung memuntahkan 280 juta meter kubik material selama satu tahun. "Waktu itu Gunung Agung mengalami erupsi selama satu tahun," katanya.

Zat-zat atau unsur-unsur yang terkandung dalam magma Gunung Agung, kata Suantika, sangat banyak.

"Banyak sekali unsur-unsurnya, yang ada di alam ini, itu semuanya berasal dari magma. Ada bahan organik, logam, itu berasal dari magma. Untuk gas yang terkandung dalam magma ada gas vulkanik, termasuk CO CO2, H2S, SCO2, CN ,dan Sianida," terangnya.

Kasbani menambahkan, jika Gunung Agung meletus, kecepatan awan panas harus diantisipasi. Sesuai rekomendasi yang dikeluarkan, tidak boleh ada aktivitas di radius 9 hingga 12 kilometer dari kawah Gunung Agung.

Hal lainnya yang harus diwaspadai adanya lahar dingin. Biasanya material akan turun setelah adanya dorongan air dari atas misalnya setelah hujan.

"Material ke bawah akan timbul belakangan setelah terjadi erupsi," ujar pria yang menyelesaikan pendidikan S1 Teknologi di ITB Bandung dan S2 di Selandia Baru ini.

Namun ia mengaku belum mengetahui kapan erupsi terjadi. Yang pasti aktivitas kegempaan masih tinggi.

"Ibaratnya Gunung Agung ini seperti manusia, jantungnya dia sudah berdegup kencang. Kalau waktunya itu kapan kami tidak tahu. Tapi yang pasti aktivitas kegempaan saat ini cukup tinggi, sehingga kami menetapkan status Awas," jelasnya.

PVBMG menetapkan Gunung Agung dengan status Awas (Level IV) pada Jumat (22/9) pukul 20.30 Wita. Status Awas merupakan tingkatan tertinggi untuk gunung berapi. Dengan kata lain, kemungkinan untuk meletus sangat besar.

Kasbani menyampaikan, aktivitas Gunung Agung pada Sabtu kemarin masih tetap tinggi.

"Kondisi terakhir untuk Gunung Agung ya masih tetap tinggi aktivitasnya. Tetap stabil naik, konsisten naik. Dan untuk itu kita harus tetap perhatian," ungkapnya.







sumber : tribun, nusabali
Share this article :

Visitors Today

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka