Kalau Sudah Gempa Tremor Dipastikan Gunung Agung Akan Meletus - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » , , , , , » Kalau Sudah Gempa Tremor Dipastikan Gunung Agung Akan Meletus

Kalau Sudah Gempa Tremor Dipastikan Gunung Agung Akan Meletus

Written By Dre@ming Post on Jumat, 29 September 2017 | 9/29/2017 09:41:00 PM

Kawah Gunung Agung Retak 80 Meter

AMLAPURA - Gubernur Pastika yakin pariwisata Bali tidak akan terganggu meskipun terjadi bencana erupsi Gunung Agung. Polisi Dilatih Operasikan Sirine Bahaya Gunung Agung.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) temukan ada retakan sepanjang 50-80 meter di kawah Gunung Agung. Selain itu, terdeteksi hotspot (areal panas) seluas 120 meter persegi di dalam kawah gunung setinggi 3.141 meter di atas permukaan laut (Dpl) ini.

Menurut Kasubbid Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM, Devy Kamil, retakan 60-80 meter dan hotspot 120 meter persegi itu terdeteksi melalui pencitraan terakhir menggunakan satelit khusus, 27 September 2017. "Di sisi timur ada citra panas, bahkan di tengah kawah sudah muncul retakan baru berukuran 60-80 meter. Kalau hotspotnya sekitar 120 meter persegi," ujar Devy Kamil kepada detikcom di Pos Pengamatan Gunung Agung kawasan Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Karangasem, Kamis (28/9).

Devy Kamil menyatakan, hotspot tersebut merupakan ventilasi asap kawah keluar yang teramati, Kamis pagi. Sementara di retakan belum tampak panas yang terekam kamera thermal satelit. "Kita gunakan citra satelit khusus yang dapat mengambil citra, baik foto udara maupun thermal. Tapi, ini kan indikasi magma di bawah Gunung Agung semakin kuat," ujar Devy.

Citra satelit ini menjadi sangat penting untuk mengamati perkembangan di kawah Gunung Agung. Foto-foto kawah dari satelit bisa disandingkan dengan data-data seismik dan deformasi dari Gunung Agung. "Dari satelit kan kita sudah melihat perubahan energi thermal dan luas area panas. Jadi, dari situ sudah kita lihat ada perubahan signifikan sejak pertengahan September 2017 dan sejalan dengan seismik yang kita alami," katanya.

Sementara, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sudah tuntas pasang 5 unit early warning system (sistem peringatan dini) untuk mengetahui awal memulainya erupsi Gunung Agung, Kamis kemarin. Lokasi terpasangnya EWS di titik strategis yang langsung berhubungan ke Gunung Agung.

Kelima EWS setinggi masing-masing 5 meter itu dipasang di Polsek Kubu, Pos Polisi Kubu (di Banjar Eka Adnyana, Desa Tianyar Timur, Kecamatan Kubu, Karangasem), Polsek Rendang (di Banjar Menanga Kawan, Desa Menanga, Kecamatan Rendang, Karangasem), Koramil Karangasem (di Lingkungan Belong, Kelurahan Karangasem), dan jaba Pura Bale Agung Desa Pakraman Selat (Kecamatan Selat, Karangasem). Khusus sirene peringatan dini di Pura Bale Agung Desa Pakraman Selat terpasang paling awal, Rabu (27/9) pagi.

Semua EWS yang dipasang ini mengarah ke puncak Gunung Agung. Dengan demikian, embusan asap tipis yang mulai mengepul terlihat dari peralat tersebut. "Alat itu (EWS) tidak otomatis berbunyi jika telah terjadi erupsi. Nanti petugas Polsek Rendang bersama petugas BPBD yang membunyikan jika Gunung Agung erupsi," ungkap Kapolsek Rendang, Kompol I Nengah Berata, saat dikonfirmasi, Kamis kemarin.

Menurut Kompol Berata, petugas Polsek Rendang sudah dilatih pihak BPBD untuk mengoperasikan alat EWS tersebut jika Gunung Agung benar-benar telah erupsi. Nantinya, sirine akan dibunyikan selama 2 jam dan terdengar nyaring dalam radius 2 kilometer, sehingga warga sekitar sempat bersiap menyelamatkan diri dari bahaya Gunung Agung meletus.

Paparan senada juga disampaikan Danramil Karangasem, Kapten Caj I Nyoman Mangku. Menurut Kapten Mangku, petugas Koramil Karangasem juga sudah dilatih pihak BPBD tata cara mengoperasikan sirine jika telah terlihat adanya erupsi Gunung Agung. “Peralatan ini dijaga full 24 jam secara bergantian,” tandas Kapten Mangku.

Sementara itu, Presiden Jokowi gelar rapat terbatas soal bencana Gunung Agung di Istana Negara Jakarta, Kamis kemarin. Dari rapat tersebut, Presiden Jokowi perintahkan Gubernur Bali Made Mangku Pastika segera melakukan langkah-langkah tindakan. "Presiden sudah perintahkan kepada Pak Gubernur untuk segera melakukan langkah-langkah tindakan berkaitan dengan hal-hal yang perlu kita lakukan dalam waktu yang tidak pasti ini," ujar Menko Pembangunan Manusia dan Kebu-dayaan (PMK), Puan Maharani, seusai rapat kemarin.

Menurut Puan, berbagai kebutuhan berkaitan dengan aktivitas Gunung Agung tersebut juga udah disiapkan. Puan mengatakan, yang perlu ditekankan saat ini yakni peningkatan aktivitas Gunung Agung tidak berkaitan dengan pariwisata di Bali. Pemerintah telah menyiapkan skenario berkenaan dengan masalah pariwisata di Bali.

"Perlu kami tekankan, tidak ada masalah berkaitan dengan pariwisata. Sudah dilakukan strategi bagaimana kemudian memang terjadi dampak yang lebih luas berkaitan dengan transportasi. Semuanya aman, karena memang tidak semua desa atau wilayah terdampak secara luas. Hanya beberapa desa di Karangasem yang terdampak erupsi. Namun, memang kalau kita lihat radiusnya secara keseluruhan memang sudah semua 9 kabupaten kota di Bali yang terkena dampaknya," tandas Puan.

Sedangkan Gubernur Bali Made Mangku Pastika meyakini pariwisata di Pulau Dewata tidak akan terganggu meski bencana erupsi Gunung Agung terjadi. Maksimal dampak dari erupsi Gunung Agung di luar debu vulkanik hanya sekitar 12 km. "Jadi, jangan dipikirkan ini dahsyat betul, sehingga menjadi semacam ancaman bagi pariwisata dan kehidupan masyarakat Bali," ujar Gubernur Pastika seusai rapat terbatas di Istana Negara kemarin.

Pastika menyebutkan, dampak letusan Gunung Agung diperkirakan terjadi hanya di sekitar Kabupaten Karangasem. Dan, tidak semua desa di Karangasem terkena dampak. "Itu kan Kabupaten Karangasem, 64 desa itu aman. Ini bupatinya masih tenang-tenang saja kok. Apalagi Denpasar, Nusa Dua, jauh banget," papar Pastika, yang kemarin hadiri rapat di Istana Negara bersama Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumatri dan Bupati Klungkung, Nyoman Suwirta.

Pastika juga memaparkan angka kunjungan wisata ke Bali setelah meningkatnya aktivitas Gunung Agung masih tinggi. Sejauh ini, belum terjadi penurunan angka kunjungan wisata ke Bali, meskipun beberapa negara sudah mengeluarkan travel warning. Penerbangan dan hotel di Bali juga masih penuh.

"Belum ada (penurunan). Walaupun ada travel warning, apa pun tetap saja penuh pesawat. Hotel juga tetap penuh. Saya kira mereka lihat sendiri apa yang terjadi di Bali. Memang kadang berita itu kan gede-gede banget, serem-serem amat. Menurut saya nggak serem amat sih."

Meski demikian, Pastika mengingatkan wisatawan petualang untuk tidak mendekati Gunung Agung. "Pariwisata masih penuh, hanya yang saya anjurkan jangan mendekati tempat bahaya, itu saja. Masih ada itu, saya lihat. Tapi, saya imbau kepada mereka semua, terutama yang senang wisata petualangan," tandas mantan Kapolda Bali dan Kalakhar BNN berpangkat Komisaris Jenderal Polisi (Purn) ini.

Gambaran Tentang Gempa Tremor dan Potensi Letusan Gunung Agung

Tremor adalah gempa yang dicirikan bentuk dari amplitudonya besar dan terus menerus.

Jadi, seperti sinyal yang tinggi dan terus menerus.

Bedanya dengan gempa biasa, terletak pada garis di seismograf dan layar monitor gempa.

Pada gempa biasa, terlihat grafik yang naik turun.

Nah sedangkan grafik tremor naik terus dalam posisi yang sama secara terus-menerus.

Biasanya kalau ada gempa tremor itu diiringi dengan letusan.

Bisa berlangsung berjam-jam.

Dan itu biasanya terjadi bisa juga pendek.

Hitungan menit dari mulainya tremor ke letusan, bisa juga hitungan jam.

Jadi dalam satu jam frekuensinya baik dan terus begitu. Tidak ada naik turunnya.

Ini bisa dirasakan, bisa tidak. Yang jelas teramati oleh alat. Rata-rata yang terjadi pada gunung berapi adalah dalam hitungan jam, setelah tremor dia meletus.

Biasanya selalu diiringi tremor kalau letusan besar.

Kalau letusan kecil bisa jadi tidak ada tremor.

Bisa jadi hanya ‘duar’ langsung. Kalau letusan besar, itu rombongan magmanya banyak yang mendesak keluar.

Kalau di sini (Bali), sudah disiapkan sirine.

Kalau sudah ada tremor, dari sini kan akan diumumkan ke radio yang sudah siaga ke seluruh sirine.

Nanti, kalau sudah waktunya akan berbunyi.

Di sini juga ada radio kontak, kalau ada tremor kami akan umumkan ke pos sirine masing-masing.

Nah mengapa kita tidak menunggu tremor?

Kami menakutkan jarak tremor dengan letusan hanya dalam hitungan menit.

Jadi apabila menunggu tremor baru dinyatakan bahaya itu semua pasti panik.

Dan pada kondisi itu bisa jadi akan lebih banyak korban, karena bisa jadi kejadiannya malam, dan saat orang-orang masih tidur.

Saat meletus, gunung akan memuntahkan material.

Ada lontaran batu, lava pijar dan segala jenis material gunung api yang lain juga akan dilontarkan.

Abu dan debu, bukanlah ancaman yang langsung dapat membunuh, tapi abu dan debu itu bisa menimbulkan infeksi.

Terlebih jika yang keluar dan terpapar sedemikian besar juga bisa menyebabkan makhluk hidup meninggal dunia.

Untuk itu, disarankan agar seluruh masyarakat menyiapakkan masker di rumah masing-masing.

Toh kalau tidak jadi kan juga tidak apa-apa. Daripada sudah meletus baru berdesakan ke minimarket.

Kalau kekuatan erupsinya besar, gempa tremor bisa terasa dari jarak yang sangat jauh.

Namun saya tidak menunggu tremor. Karena aktivitasnya kan masih tinggi.

Truk Dilarang Masuk ke Galian C

SINGARAJA - Operasional truk dinilai bisa menghambat manakala dilakukan evakuasi saat Gunung Agung erupsi.

Truk angkutan material galian C dari wilayah Buleleng dan Jembrana mulai dilarang masuk ke lokasi galian. Pelarangan ini berlaku sejak Kamis (28/9) pukul 13.00 Wita. Seluruh truk yang datang dari arah Singaraja dihentikan di perbatasan wilayah

Karangasem-Singaraja. Sopir truk diminta balik oleh aparat kepolisian dari Polsek Kubu yang berjaga di perbatasan kedua kabupaten itu, Desa Tianyar Barat, Kecamatan Kubu, Karangasem dengan Desa Tembok, Kecamatan Tejakla, Buleleng.

Pelarangan truk masuk galian agar tidak ada truk yang mengangkut material dari wilayah Kecamatan Kubu. Pelarangan ini menyusul masih ada pengusaha galian yang nekat beroperasi kendati sudah diberi peringatan. Salah satu galian yang beroperasi hingga Kamis sore berada di Banjar Nusu, Desa Sukadana, Kecamatan Kubu, Karangasem.

Pantauan ke Banjar Nusu terdapat sejumlah titik lokasi penambangan. Namun di salah satu titik terlihat aktivitas penambangan berjalan normal. Kendati tidak banyak truk yang mengambil material, namun sejumlah alat berat seperti pemecah batu, dan penggaruk material terlihat tetap dioperasikan.

Pengusaha galian Komang Mangku Suanjaya yang ditemui di lokasi penambangan mengaku nekat beroperasi karena melihat situasi Gunung Agung tetap tenang. Ia pun mengaku terus memantau perkembangan Gunung Agung dari lokasi penambangan menggunakan keker (pengintai jarak jauh) bermerek Bushnell Legancy. “Coba lihat, kayak begini situasi gunungnya tenang, kok kami tidak diizinkan beroperasi. Surat resmi belum ada, tetapi secara lisan disampaikan agar ditutup,” katanya.

Bagi Komang Suanjaya, penutupan galian C akan berdampak luas bagi Bali. Selain banyak pekerja di penambangan galian C yang menganggur, proyek-proyek pemerintah juga tidak bisa jalan karena tidak ada pasokan material seperti pasir dan batu (sirtu). “Berapa orang yang akan menganggur, sopir truk kemudian buruh proyek dan tenaga di sini juga menganggur. Ini akan berdampak ekonomi Bali akan lumpuh. Sekarang kalau saya tutup, beranikah pemerintah memberi jaminan waktu (kapan) Gunung Agung akan erupsi. Di luar Bali itu, erupsi bisa terjadi setahun setelah dikatakan berbahaya. Di sini Gunung Agung terlihat tenang,” ujar Komang Suanjaya pemilik galian C Anom Jaya.

Konon upah bagi semua buruh di penambangan Anom Jaya yang berjumlah sekitar 150 orang sudah dinaikkan mulai Rp 100.000 sampai Rp 150.000 perhari. Sehingga buruh di penambangan mendapatkan upah antara Rp 200.000 sampai Rp 400.000 per hari perorang. Menurut Komang Suanjaya, kenaikan upah itu semata-mata agar semua pekerja ada bekal ketika nanti mengungsi. “Sebenarnya sudah ada yang mau bekerja dalam situasi seperti ini, kenapa tidak didukung. Apa kami harus meminta-minta di pengungsian. Terus sampai kapan kami harus meminta-minta,” tandasnya.

Sementara akibat masih adanya penambang yang tetap nekat beroperasi, Polsek Kubu langsung melarang seluruh truk dari arah Singaraja masuk ke lokasi galian. Sejak Kamis pukul 13.00 Wita, sejumlah aparat kepolisan terlihat menghadang truk-truk dari arah Singaraja dan meminta balik kembali diperbatasan wilayah Karangsem-Buleleng.

Kapolsek Kubu AKP Made Suadnyana yang dikonfirmasi kemarin siang mengakui masih ada beberapa titik galian C yang masih beroperasi. Padahal sejak Selasa (26/9) pihaknya sudah mengimbau pengusaha galian untuk menutup sementara karena perkembangan situasi Gunung Agung. “Tapi karena masih ada yang tetap beroperasi, kami ambil langkah tegas melarang semua truk yang masuk ke galian,” katanya.

Dijelaskan pelarangan truk masuk galian, karena dikhawatirkan akan menganggu proses evakuasi warga ketika Gunung Agung erupsi. Karena truk akan berjalan lamban akibat beban truk yang berat. Di samping itu, keberadaan truk dengan beban berat di jalan raya juga menganggu proses pendistribusian logistik bagi para pengungsi.

“Pengalaman waktu di Desa Selat, proses evakuasi warga jalanan macet karena truk-truk material ini yang jalannya lambat. Dan pendistribusian kebutuhan warga pengungsi juga akan terganggun jadi lambat," tuntas Made Suadnyana.

Pengungsi di Luar Zona Bahaya Gunung Agung Diimbau Kembali ke Rumah

AMLAPURA - Membludaknya jumlah pengungsi menjadi kendala tersendiri dalam hal penanganan soal pengungsian.

Warga desa yang wilayahnya masuk Kawasan Rawan Bencana (KRB) III dan KRB II atau berada di radius 6 km hingga 9 km dari puncak Gunung Agung, PVMBG merekomendasikan agar warga tidak melakukan aktifitas dan berada di zona aman.

Adanya kepanikan atau ketakutan, membuat warga yang daerahnya tidak masuk pemetaan rekomendasi bahaya juga ikut mengungsi.

Kabid Mitigasi Gunungapi, Pusat Vulkanologi dan Mititasi Bencana Geologi Kemeterian ESDM, I Gede Suantika menyatakan, pasca Gunung Agung ditetapkan ke level IV awas, radius yang tidak aman atau wilayah berbahaya masih di radius 9 km, dan 12 km wilayah sektoral, meliputi utara, selatan, barat daya dan tenggara.

Namun zona sektoral ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan aktifitas Gunung Agung.

Warga yang kawasan tidak direkomendasi masuk wilayah berbahaya diimbau kembali ke rumah masing-masing.

"Yang KRB I sudah kami batasi, tidak semua terdampak. kemudian di radius 12 km, kalau ada kampung yang tidak masuk dalam rekomendasi bahaya kami. mereka harus kembali. Ya mungkin karena takut dan panik," jelasnya saat ditemui di Pos Pengamatan Gunungapi, Desa Rendang, Jumat (29/9/2017)

Dirinci, untuk KRB III berpotensi tinggi terlanda awan panas, aliran lava, guguran lava dan gas berbahaya.

Pula, terkena jatuhan batu pijar berukuran lebih dari 64 milimeter.

KRB II, berpotensi sedang, terlanda awan panas, aliran lava dan aliran lahar.

Kawasan ini juga berpotensi terhadap lontaran batu pijar, namun ukurannya seukuran batu kerikil disertai hujan abu lebat.

Sedangkan KRB I, berpotensi dilanda aliran lahar atau banjir dan kemungkinan terkena perluasan awan panas.

Serta longsoran tebing batu pijar dengan ukuran 10 milimeter disertai hujan abu lebat.

Namun tidak semua kawasan terdampak.

"Kita merekomendasikan kawasan berbahaya untuk menyelamatkan warga dari luncuran awas panas. Ini kita belum bicara tentang bahaya gas, baru awan panas dan jatuhan krikil, serta debu pasir,"

Dikatakan Suantika, jika ada peningkatan erupsi gunung, maka PVMBG akan membuat rekomendasi KRB baru, setelah sebelumnya menerapkan KRB radius 9 km hingga 12 km wilayah sektoral yanh mengacu erupsi 1963.

"Kita lihat, tergantung situasinya nanti. Kita akan rekomendasikan ulang lagi,"

Namun terkait keselamatan, pihaknya tidak berani memberi jaminan.

"Kalau itu kami tidak bisa menjamin. ini hanya rekomendasi, bukan perintah. Ada baiknya kembali, karena daerah atau desa itu di luar rekomendasi daerah berbahaya," ujarnya.

Pusat Vulkanologi: Kemungkinan Gunung Agung Meletus Lebih Tinggi Dibandingkan Tak Meletus

AMLAPURA- Gempa vulkanik Gunung Agung yang tercatat oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM masih menunjukkan jumlah yang tinggi.

Gempa-gempa ini mengindikasikan adanya peretakkan batuan di dalam tubuh gunungapi yang disebabkan oleh pergerakan magma.

Berdasarkan rilis PVMBG yang diterima, perhitungan magnitudo gempa menunjukkan besaran yang terus meningkat.

Magnitudo gempa terbesar selama masa krisis ini adalah gempa dengan magnitudo 4.3 SR pada tanggal 27 September 2017 pukul 13:12 WITA.

Akhir-akhir ini gempa semakin sering dirasakan oleh masyarakat di sekitar Gunung Agung dan Batur, dan beberapa gempa terbesar bahkan dapat dirasakan di daerah Denpasar dan Kuta.

Gempa vulkanik diperkirakan berada di bawah kawah hingga kedalaman 20 km dari puncak Gunung Agung.

Dengan kondisi data pemantauan pada saat ini, probabilitas (kemungkinan, red) untuk terjadi letusan masih lebih tinggi daripada probabilitas untuk tidak terjadi letusan.

Namun demikian, probabilitas letusan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada data pemantauan terkini.

Jika terjadi letusan, kemungkinan besar akan diawali dengan letusan kecil namun juga memungkinkan untuk diikuti oleh letusan yang lebih besar.

Besarnya letusan tidak bisa ditentukan dengan pasti.

Tanggal dan waktu pasti letusan tidak dapat diprediksi.

Namun demikian, PVMBG akan mengeluarkan peringatan saat kondisi berubah dan/atau jika teramati kecenderungan yang lebih tinggi untuk terjadi letusan.

Berdasarkan penginderaan jauh satelit, terdeteksi adanya emisi asap putih (uap) dan area panas yang baru di kawah puncak Gunung Agung.

Luas area panas ini teramati telah membesar selama sepekan terakhir, termasuk satu rekahan baru di tengah kawah dimana emisi asap putih (uap) juga terus berlangsung.

Dari pengamatan visual, terlihat emisi asap putih (uap) dari kawah umumnya teramati dengan ketinggian rata-rata 50-200 meter di atas puncak.

Saat ini emisi asap (uap) teramati relatif terus menerus.

Setelah gempa dengan magnitudo 4.2 SR pada tanggal 26 September 2017 pukul 16:27 WITA, asap putih (uap) keluar dengan intensitas lebih besar dan teramati sampai ketinggian sekitar 500 m di atas puncak.

Dari analisis data tiltmeter mengindikasikan adanya inflasi (penggembungan) pada tubuh Gunung Agung.






sumber : tribun, nusabali
Share this article :

Visitors Today

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka