Kisruh Bumi Plc dengan Bakrie - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » » Kisruh Bumi Plc dengan Bakrie

Kisruh Bumi Plc dengan Bakrie

Written By Dre@ming Post on Rabu, 20 Februari 2013 | 2/20/2013 07:26:00 AM

Rabu, 20 Februari 2013 | 06:39

Bumi Plc Meneken Perjanjian Pisah dengan Bakrie

Grup Bakrie akan mengambil saham BUMI dengan saham Bumi Plc miliknya dan dana tunai. Bumi Plc menguasai 29,2 persen saham BUMI. Sementara Grup Bakrie melalui BNBR memiliki 23,8 persen saham Bumi Plc. BNBR akan menukar epemilikan 23,8 persen saham Bumi Plc dengan 10,3 persen  saham BUMI. Sisanya, yaitu sebesar 18,9 persen akan ditebus dengan dana tunai senilai 278 juta dollar AS.
LONDON - Kemarin (12/2/2013), Bumi Plc mengumumkan telah meneken perjanjian berupa heads of term agreement tentang pemisahan perusahaan dari Grup Bakrie dan PT Bumi Resources tbk (BUMI). Dengan begitu, Bumi Plc dapat mendivestasikan semua sahamnya di BUMI dan mengeluarkan Grup
Bakrie dari perusahaan.

Pokok-pokok penting perjanjian itu antara lain:

1. Bakrie akan membatalkan kepemilikan tak langsung mereka atas 57.298.534 saham Bumi Plc atau setara 23,8 persen dari total saham yang diterbitkan Bumi Plc. Penukarnya adalah saham Bumi Resources milik Bumi Plc sebanyak 2.316.967.115 atau 10,3 persen dari total saham Bumi Resources. Dengan kata lain, kedua pihak melakukan swap saham.

2. Bumi Plc akan menjual sisa saham Bumi Resources miliknya berjumlah 3.924.732.522 (setara 18,9 persen) kepada Bakrie senilai 278 juta dollar AS. Penjualan saham ini dapat dibayar dalam bentuk tunai.

3. Grup Bakrie wajib menempatkan 278 juta dollar AS tadi ke dalam akun escrow dalam waktu lima hari kerja sejak penandatanganan perjanjian utama transaksi atau definitive agreement. Penempatan dana itu harus masuk seluruhnya sebelum rapat umum Bumi Plc.

Meskipun sudah ada perjanjian ini, semua transaksi tetap harus mendapat persetujuan dari pemegang saham Bumi Plc. Pemegang saham dan direksi akan menggelar rapat pada 21 Februari mendatang.

Mengomentari perjanjian ini, CEO Bumi Plc, Nick von Schirnding mengatakan, "Penandatanganan perjanjian menunjukkan perkembangan yang dapat dilihat menuju eksekusi pemisahan dari Grup Bakrie dan Bumi Resources."
Menurutnya, dengan pencapaian ini, sekali lagi menegaskan akan fakta bahwa di bawah direksi Bumi Plc yang sekaranglah pemisahan dengan Grup Bakrie dan BUMI bisa tercapai. Sebaliknya, ini takkan tercapai dengan resolusi Rothschild.

Grup Bakrie juga mesti menyetor deposit senilai 50 juta dollar AS sebelum 15 Februari. Deposit ini merupakan bagian dari transaksi dan dapat dikembalikan ke Bakrie di bawah beberapa kondisi, misalnya jika resolusi Rotshchild disetujui, atau jika perjanjian definitif tak dijalankan sampai dengan 30 Mei 2013, kecuali kalau Grup Bakrie merenegosiasi poin-poin perjanjian.

 Pecah Kongsi, Energi Penggerak BUMI dan BRMS

JAKARTA, KOMPAS.com - Berita bahwa Bumi Plc telah meneken perjanjian pemisahan perusahaan dari Grup Bakrie dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) ternyata mendapat respon positif. Dua saham Grup Bakrie, BUMI dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) melaju kencang sepanjang sesi I perdagangan hari ini 

Managing Partner PT Investa Mandiri, Kiswoyo Adi Joe mengamini sentimen pecah kongsi Bakrie-Bumi Plc sebagai penggerak saham BUMI dan BRMS. "Sebelumnya juga seperti itu. Saat konflik, saham yang berada di bawah Bumi Plc terus turun. Nah sekarang terjadi kebalikannya," ulas Kiswoyo kepada KONTAN, Kamis (14/2/2013). 

Selain sentimen itu, Kiswoyo tidak melihat adanya sentimen lain yang menggerakkan BUMI dan BRMS. Apalagi, dia melihat tren harga batubara yang belum juga membaik. 

Hari ini, Kiswoyo memprediksi saham BUMI bisa ditutup pada harga Rp 830 per saham, dan BRMS pada harga Rp 370- 380 per saham. "Mungkin pergerakan naik dua saham ini bisa terjadi dalam beberapa hari ke depan. Terutama, hingga Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa(RUPSLB) Bumi Plc pada 21 Februari mendatang," jelas Kiswoyo. 

Senada dengan Kiswoyo, Analis PT Millenium Danatama Indonesia Asset Management, Desmon Silitonga juga melihat sentimen yang sama pada kedua saham Grup Bakrie tersebut. Menurut Desmon, investor melakukan buy seiring antisipasi rencana penjualan BUMI oleh Bumi Plc. 

Desmon juga melihat, pergerakan naik kedua saham ini akan berlanjut hingga 21 Februari mendatang. "Untuk hari ini sepertinya masih akan digoyang. Kisaran harga BUMI mungkin Rp 750-850 per saham, untuk BRMS Rp 300-370 per saham," tambah Desmon.

BEI Pertanyakan Dana Bakrie Menebus BUMI

JAKARTA -  Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) mempertanyakan ketersediaan dana Grup Bakrie untuk menebus saham-saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) milik Bumi Plc. Hal itu sebagai tindak lanjut rencana cerainya Grup Bakrie dengan Bumi Plc.

Hoesen, Direktur Penilaian Perusahaan BEI mengatakan, pihaknya telah mengirimkan surat kepada PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR). Salah satu poin yang tertera dalam surat tersebut adalah mengenai sumber dana pengambilalihan saham BUMI.

"Kami sudah kirim hari ini (Jumat, 15/2/2013). Selain klarifikasi, kami juga tanyakan asal dana untuk membeli saham BUMI itu," jelasnya.

Manajemen BNBR, lanjut Hoesen, wajib menjawab keterangan tertulis itu paling lambat Kamis (21/2/2013) pekan depan. Dua hari lalu, Grup Bakrie telah mengadakan kesepakatan dengan pihak Bumi Plc terkait pengambilalihan saham BUMI milik Bumi Plc oleh Grup Bakrie.

Grup Bakrie akan mengambil saham BUMI dengan saham Bumi Plc miliknya dan dana tunai. Bumi Plc menguasai 29,2 persen saham BUMI. Sementara Grup Bakrie melalui BNBR memiliki 23,8 persen saham Bumi Plc. BNBR akan menukar epemilikan 23,8 persen saham Bumi Plc dengan 10,3 persen  saham BUMI. Sisanya, yaitu sebesar 18,9 persen akan ditebus dengan dana tunai senilai 278 juta dollar AS.
Grup Bakrie diwajibkan menyetor tersebut sebelum rapat umum pemegang saham (RUPS) Bumi Plc pada 21 Februari 2013 mendatang.

Sebagai tanda jadi, Bumi Plc meminta Grup Bakrie menyediakan dana awal senilai 50 juta dollar AS. Nah, dana tunai inilah yang menjadi target pertanyaan BEI.

Seperti diberitakan sebelumnya, Bakrie mulai melego aset dan kepemilikan saham di anak-anak usahanya. Terakhir, Bakrie dikabarkan menjual aset-aset milik PT Bakrieland Development Tbk (ELTY).

Selain itu, Keluarga Bakrie juga disebut-sebut akan menjual sekitar 51 persen kepemilikan sahamnya di PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), dan menjual lahan milik UNSP sebesar 16.000 hektar senilai 178 juta dollar AS. Ditengarai penjualan aset-aset tersebut dalam rangka mencari dana segar guna aksi pengembilaalihan saham BUMI itu. Namun, patut dicermati, penjualan aset yang dilakukan ELTY dan UNSP sejatinya masuk ke kas kedua perusahaan tersebut dan digunakan untuk kepentingan keduanya

Langkah Kuda Grup Bakrie Menjelang RUPSLB Bumi Plc

JAKARTA  - Menjelang Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Bumi Plc tanggal 21 Februari, Grup Bakrie mencoba memainkan langkah kuda hitamnya. Hari ini (18/2/2013),  mereka akan mendatangi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk  meminta pertimbangan sekaligus berharap dukungan.

Nirwan Dermawan Bakrie, pemilik Grup Bakrie meminta OJK mempertimbangkan aturan pasar modal dengan Undang-Undang (UU) Pertambangan. Dalam peraturan pelaksana UU Pertambangan, PP Nomor 24/2012 menyebutkan bahwa batas kepemilikan asing di pertambangan maksimal hanya 49 persen.

Jika kelak dalam RUPSLB Bumi Plc sepakat mengganti direksi sesuai usul Nathaniel Rotschild (pemegang saham Bumi Plc),  maka kemungkinan akan ada perubahan kendali di Bumi Plc. Bumi Plc akan dikuasai asing,  tidak lagi dalam kendali Grup Bakrie yang merupakan perusahaan nasional.

Padahal sejarah kepemilikan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) di Kaltim Prima Coal (KPC) dan Arutmin Indonesia, serta PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) di Berau Coal adalah ekses dari kewajiban divestasi asing.

KPC dulu dikuasai Rio Tinto Australia dan British Petroleum, sementara Arutmin dikendalikan BHP Minerals Australia. Apa yang sudah diamanatkan UU Pertambngan, akan sirna jika Nat Rothschild mengendalikan Bumi Plc. "Jika terjadi perubahan pengendali, apa yang akan OJK lakukan?" ujar Nirwan ke KONTAN, Sabtu (16/2/2013).

Apalagi, Grup Bakrie dan Nat Rotschild juga sudah menandatangani relationship agreement untuk mencegah terjadinya perubahan pengendali di Bumi Plc.

Jika dalam RUPSLB kelak terjadi perubahan direksi tanpa persetujuan Grup Bakrie,  pihaknya menyiapkan perlawanan hukum. Seandainya pula, Grup Bakrie kalah voting, mereka akan mendorong mandatory tender offer saham BUMI di harga ketika Bakrie dan Nat menjalin kongsi tahun 2010. Asumsi harga saham BUMI saat itu di Rp 2.500 per saham.

Hitung punya hitung, Bumi Plc harus menyiapkan dana  jumbo hingga 8 miliar dollar AS untuk tender offer tersebut.

Tak hanya itu, Bakrie juga akan meminta penerapan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) antara Pemerintah RI dan pemegang saham BUMI yang melarang saham divestasi balik ke asing.
Skenario hengkang dari Bumi Plc pun sudah disiapkan Bakrie. Nirwan mengatakan, dana tunai untuk membeli 18,9 persen saham BUMI milik Bumi Plc senilai 287 juta dollar AS sudah mereka siapkan. "Dana itu dari keluarga," tuturnya.

Pejabat OJK yang tidak ingin disebutkan namanya membenarkan rencana pertemuan Grup Bakrie dengan OJK. Sementara, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Nurhaida hanya berkomentar, aksi korporasi emiten sudah ada ketentuannya di pasar modal.

Ini Alasan Hary Tanoe Masuk Bumi Plc

Peta perang di Bumi Plc berubah cepat. Grup Bakrie akhirnya mendapat dukungan dari Hary Tanoesoedibjo, pemilik Grup MNC. Hary masuk ke perusahaan ini dengan membeli 3 juta saham milik Recapital. 

Merujuk pengumuman Bumi Plc, kemarin (18/2/2013), PT Recapital Advisors dan PT Bukit Mutiara menjual 24,20 juta unit atau setara 13,1 persen saham Bumi Plc kepada tiga pihak. Pertama, Avenue Luxemburg SARL, yang membeli 13,67 juta unit atau sekitar 7,4 persen saham Bumi Plc. Kedua, Flaming Luck Investment Ltd, yang dikendalikan keluarga Tanoesoedibjo, membeli 3 juta saham Bumi Plc (1,7 persen). Ketiga, Argyle Street Management Limited, yang membeli 7,54 juta saham (4 persen). 

Saat dikonfirmasi, Hary mengatakan, ada dua alasannya membeli saham Bumi Plc. "Pertama, karena layak untuk investasi. Kedua, untuk membantu pengusaha nasional yang beriktikad baik," ujar dia kepada Kontan, kemarin. 

Hary menolak jika aksinya ini dikaitkan dengan kedekatannya dengan Grup Bakrie setelah dia membeli sejumlah aset milik konglomerasi tambang tersebut. Hary juga merahasiakan harga akuisisi Bumi Plc. Yang jelas, harga saham Bumi Plc kemarin GBp 389,9 per saham. 

Spekulasi yang beredar, manuver Hary mendukung "penyelamatan" Grup Bakrie itu tak lepas dari upayanya memburu sejumlah aset milik Grup Bakrie. Pemilik MNC ini kabarnya akan memboyong 70 persen saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) senilai Rp 6 triliun. Dia juga ingin masuk ke PT Berau Coal Energi Tbk (BRAU). 

Saat dihubungi Kontan, Chairman Bumi Plc Samin Tan tak berkomentar atas spekulasi itu. "Kita tuntaskan dulu RUPSLB ini," ujarnya.

Jika kehadiran Hary Tanoe di Bumi Plc memang bertujuan mendukung Grup Bakrie, posisi suara kubu ini dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Bumi Plc bakal bertambah. Sebab, Grup Bakrie membutuhkan minimal 8 persen suara untuk memenangkan pertaruhannya di Bumi Plc.

Aksi menggalang dukungan ke kubu Grup Bakrie tak hanya terjadi di London. Di dalam negeri, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida dan Hatta Radjasa, Menko Perekonomian, ikut mendukung Grup Bakrie. Nurhaida menyatakan akan mengambil tindakan tegas jika terjadi perubahan pengendalian di Bumi Plc akibat RUPSLB pada 21 Februari 2013. 

Kemarin (18/2/2013), harga saham BUMI melonjak drastis, naik 9,41 persen dari hari sebelumnya ke Rp 930 per saham.

Hashim Djojohadikusumo Angkat Bicara soal Bumi

Perseteruan Nat Rothschild dengan Keluarga Bakrie di Bumi Plc semakin panas. Kedua belah pihak memperkuat posisi masing-masing.

Grup Bakrie baru saja mendapat dukungan dari Hary Tanoesoedibjo, pemilik Grup MNC. Hary masuk ke perusahaan ini dengan membeli 3 juta saham milik Recapital.

Sementara Nat pun sudah sejak beberapa waktu lau dikabarkan menggaet adik kandung Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo, untuk masuk ke Bumi Plc. Hashim adalah pendiri Grup Arsari.

Kepada Financial Times, Hashim Djojohadikusumo menuturkan awal mula perkongsiannya dengan Nat Rothschild. Semua itu berawal di Belvedere restoran, Holland Park, London.

Hashim bertemu Nat pertama kali di restoran Prancis itu pada September 2012. Ia dikenalkan oleh teman mereka berdua, Robert Friedland, seorang taipan minyak Amerika.

Sebulan kemudian, Hashim setuju ikut bergabung dalam perahu Rothschild untuk mengambil alih Bumi Plc.

Ketika itu, perseteruan Rothschild dengan Bakrie sudah semakin mencuat ke permukaan. Hubungan baik keduanya ketika membentuk Bumi Plc di 2010 retak. Harga saham Bumi Plc terus menggelinding turun akibat tudingan buruknya manajemen dan manipulasi keuangan Bumi Resources. FT bahkan menulis bahwa sengketa Bumi Plc telah menjadi salah satu pertarungan pemegang saham paling kotor yang pernah disaksikan London.

Hashim tentunya paham. "Dia sangat marah atas perlakuan yang telah diterimanya dan dia ingin meyakinkan saya. Nat punya banyak investasi emosional di sini. Tapi saya tidak. Saya hanya bersenang-senang. Dan harapannya, saya bisa menghasilkan uang juga," tutur Hashim dalam wawancara pertamanya sejak digandeng Rothschild.

Tanggal 21 Februari nanti akan menjadi penentu bagi Rothschild dan juga Hashim. Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Bumi Plc itu bakal menentukan apakah proposal Rothschild untuk mengganti 12 dari 14 direksi terkabul atau tidak.

Jika berhasil, Hashim akan menjadi direktur non eksekutif Bumi dan Chairman Berau Coal.

Keterlibatan Hashim akan menambah intrik sengketa Bumi Plc. Sebab kini, dua dinasti politik Indonesia berhadap-hadapan di arena bisnis sekaligus di panggung politik. Seperti yang diketahui, Aburizal Bakrie akan bersaing melawan adik Hashim, Prabowo Subianto, di Pemilu Presiden 2014.

Hashim sendiri bukan pemain baru di bisnis tambang. Ia berinvestasi migas di Azerbaijan, Kazakhstan, hingga Amerika Serikat. Pria berusia 58 tahun ini akan menyetor jutaan dollar di Bumi jika proposal Rothschild sukses.

"Saham Bumi diperdagangkan pada separuh dari valuasi perusahaan barubara lainnya karena salah manajemen dan inkompetensi," tutur Hashim. Ia menambahkan bahwa sengketa yang terjadi telah menghancurkan kredibilitas dan nama baik banyak perusahaan publik Indonesia yang dicap sama.

Namun ia percaya bahwa direksi baru akan dengan mudah membalikkan persepsi ini dengan memperbaiki manajemen Bumi dan mempublikasikan laporan manipulasi keuangan seperti yang dituduhkan Macfarlanes.

Meskipun hanya aktor pendukung, Hashim mengklaim bahwa koneksi Indonesianya akan membantu kampanye Rothschild.

"Adik saya memiliki lahan luas di sebelah Berau Coal dan untuk mengembangkan kapasitasnya, Berau butuh persetujuan adik saya untuk melintasi lahannya. Jika manajemen Bumi yang sekarang dan teman-temannya mau mempersulit Nat, kami juga bisa melakukan hal yang sama,"  ucapnya.



sumber : kompas
Share this article :

Visitors Today

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka