Tangis Pilu Barack Obama - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » » Tangis Pilu Barack Obama

Tangis Pilu Barack Obama

Written By Dre@ming Post on Minggu, 16 Desember 2012 | 12/16/2012 02:33:00 AM

Minggu, 16 Desember 2012 02:09

Presiden Barack Obama berduka dan menangis
CONNECTICUT-- Presiden Barack Obama berduka dan menangis atas pembantaian yang menewaskan 26 orang di sebuah sekolah dasar Sandy Hook di Newtown, Negara Bagian Connecticut, AS, Jumat (14/12)
waktu setempat.

Obama beberapa kali menyeka air mata dan berjuang untuk menenangkan diri saat menyampaikan ucapan dukacita bagi orang-orang yang tewas dalam pembantaian itu. Ia menjanjikan tindakan yang berarti untuk menghentikan tragedi-tragedi akibat pemakaian senjata di AS.

"Mayoritas mereka yang tewas hari ini adalah anak-anak, anak-anak kecil yang lucu yang berusia antara lima hingga sepuluh tahun," kata Obama seperti dikutip Tribun Jabar.

 "Kehidupan membentang di depan mereka, ulang tahun, wisuda, pernikahan, anak-anak mereka sendiri," katanya.

Obama jeda selama beberapa saat, dan menarik napas berat. Beberapa kali menyeka air mata dari sudut matanya, ketika ia menyampaikan reaksi pertamanya terkait pembunuhan 6 orang, termasuk 20 anak, di ruang pers Gedung Putih di Washington. Si penembak dalam tragedi itu ikut tewas sehingga total jumlah orang tewas adalah 27 orang.

"Di antara yang tewas adalah para guru, orang-orang yang mengabdikan hidupnya untuk membantu anak-anak kita memenuhi impian mereka," kata Obama.

Dirinya menegaskan, bereaksi bukan sebagai presiden, melainkan sebagai orang lain, sebagai orang tua. "Hati kita hancur saat ini, untuk para orang tua dan kakek-nenek, saudara dan saudari dari anak-anak kecil itu, dan untuk keluarga mereka yang kehilangan. Sebagai negara, kita telah melalui ini terlalu banyak," ujarnya lirih.

Ia menyebut kasus-kasus pembantaian sebelumnya di Colorado, Oregon, dan Wisconsin.

"Lingkungan-lingkungan itu adalah lingkungan kita. Anak-anak itu adalah anak-anak kita. Kita harus bersama-sama dan mengambil tindakan yang berarti untuk mencegah tragedi lain seperti ini tanpa sekat-sekat politik," kata Obama, ayah dari dua gadis muda.

Pernyataan Obama itu terdengar dalam keheningan di ruangan Gedung Putih yang biasanya riuh saat konferensi pers dan hanya terganggu oleh suara kamera ketika ia berhenti dan menata emosinya.

Obama sebelumnya memerintahkan pengibaran bendera setengah tiang di Gedung Putih, bangunan pemerintah, dan di fasilitas militer AS untuk menghormati para korban penembakan di sekolah itu. Perintah itu berlaku sampai matahari terbenam pada 18 Desember, kata presiden dalam sebuah maklumat. Obama mengutuk serangan itu sebagai tindak kekerasan yang tanpa perasaan, sebagai kejahatan "keji".

Obama diberi tahu tentang penembakan itu pada Jumat pagi oleh penasihat antiteror dan keamanan dalam negeri John Brennan di Ruang Oval.

Identitas pelaku pembantaian dilaporkan bernama Adam Lanza (20 tahun). Lanza membunuh ibunya sendiri yang adalah seorang guru di rumahnya di Newtown, Connecticut, lalu mengendarai mobil ibunya itu ke Sekolah Dasar Sandy Hook, tempat ibunya mengajar, dan membantai 26 orang, termasuk 20 anak, sebelum menembak dirinya sendiri.

Juru Bicara Polisi Negara Bagian Connecticut, Letnan Paul Vance, mengatakan, 18 anak tewas ditembak di dalam sekolah dan dua lagi meninggal akibat luka mereka di rumah sakit. Enam orang lainnya adalah guru dan karyawan sekolah, termasuk kepala sekolah.

Vance menjelaskan, hampir tidak ada korban cedera yang tidak tewas. Hal itu menunjukkan bahwa begitu korban menjadi sasaran, nyaris tak ada kesempatan untuk melarikan diri, dan bahwa Lanza luar biasa akurat atau metodis dalam menembak.

Vance mengatakan, hanya satu orang yang mengalami cedera dan selamat. Pembunuhan massal itu, yang dimulai sekitar pukul 09.30 waktu setempat, berlangsung di salah satu bagian dari sekolah, di dua ruangan. Menurut Vance, hal itu menunjukkan bahwa para korban yang merupakan anak-anak itu terjebak dan ditembak mati.

Lanza membawa sebuah senapan dan dua pistol saat memasuki sekolah dasar itu. Para saksi mata mengatakan, pemuda itu pergi dari ruangan ke ruangan dan menembak orang-orang setelah terlebih dahulu membunuh kepala sekolah dan kemudian pergi ke kelas TK ibunya.

Ada laporan yang berbeda tentang kematian ibunya. Ada laporan yang menyebutkan bahwa ibunya tewas di ruangan kelasnya sementara yang tewas di rumah keluarga Lanza adalah ayahnya. Belum ada konfirmasi terkait hal itu.

Kakak Lanza, Ryan Lanza (24 tahun), yang awalnya diduga sebagai pelaku pembantaian, ditanyai polisi setelah ditangkap di rumahnya di Hoboken, New Jersey.

Dia berada di sebuah bus dalam perjalanan pulang dari kantor ketika ia disebut sebagai pelaku. Ia kemudian memposting di Facebook bahwa itu bukan dia. Dia mengatakan kepada seorang teman bahwa dia yakin, adiknya yang cacat mental telah melakukan hal itu.

Televisi NBC melaporkan, polisi sempat bingung karena mereka menyangka pelaku bernama Ryan Lanza karena pelaku mengenakan kartu identitas atas nama Ryan Lanza ketika datang ke sekolah itu.

Kementerian Luar Negeri memastikan tidak ada warga negara Indonesia yang menjadi korban. "Sejauh ini tidak ada WNI yang menjadi korban dalam insiden yang menewaskan 27 orang itu," kata Direktur Informasi dan Media Kemenlu, PLE Priatna, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (15/12).

Maryrose Kristopik menyelamatkan 20 muridnya di Sekolah Dasar Sandy Hook. Dia menyuruh mereka masuk ke dalam lemari dinding, sementara di luar Adam Lanza mengetuk pintu memohon dibukakan.

Maryrose adalah guru musik di sekolah tersebut. Saat terdengar ada penembakan, dia langsung menyuruh murid-muridnya masuk ke lemari tersebut.

Di dalam lemari, sang guru meminta murid-muridnya untuk tidak bersuara, dan berdoa. Dia juga mengucapkan "I love you" kepada murid-muridnya tersebut. "Aku bilang ke mereka bahwa ada orang jahat di sekolah. Aku tidak ingin berkata-kata apa lagi selain itu," kata Maryrose kepada dailymail, kemarin.

Di luar lemari tersebut, Adam Lanza menggedor-gedor pintu. Dia berteriak-teriak minta dibukakan. "Biarkan aku masuk! Biarkan aku masuk!"

Menurut Maryrose, ada sekitar 20 murid yang bersamanya di lemari tersebut. Di dalam lemari tersebut mereka berdiri berimpit-impitan. Dia berdiri di depan pintu untuk mencegah murid- muridnya menyentuh handle pintu.

"Aku mencoba sekuat mungkin. Yang kupikirkan hanya anak-anak itu. Aku minta ke mereka untuk diam dan kita sedang bersembunyi sehingga tidak ada yang tahu keberadaan kami," tuturnya. "Tentu saja aku juga ketakutan. Aku minta mereka diam, kupikir hanya ini tempat yang aman untuk kami."

Setelah merasa cukup aman, Maryrose baru berani membuka pintu lemari tersebut. Para orang tua murid yang anak-anaknya selamat mengucapkan terima kasih kepada guru musik tersebut. "Aku ingin mengucapkan terima kasih kepadanya. Dia menyelamatkan hidup mereka. Meski penembaknya terus meminta dibukakan pintu, dia tidak membiarkannya," kata seorang ibu.

"Guru anakku seorang pahlawan. Dia mengunci anak-anak tersebut ke dalam lemari dan menyelamatkan mereka," kata Lebinski, salah satu orang tua murid.




sumber : tribun
Share this article :

Visitors Today

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka