Awalnya Jijik, Kecanduan Video Porno, 'Tegang' Sampai Berjam-jam - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » » Awalnya Jijik, Kecanduan Video Porno, 'Tegang' Sampai Berjam-jam

Awalnya Jijik, Kecanduan Video Porno, 'Tegang' Sampai Berjam-jam

Written By Dre@ming Post on Kamis, 18 Oktober 2012 | 10/18/2012 07:01:00 AM

Kamis, 18 Oktober 2012 | 06:09

Awalnya Jijik, Penasaran Lalu Otak Ketagihan si Film Biru

ist
Jakarta, Seperti halnya narkoba, film biru alias film porno bisa memicu ketagihan. Awalnya mungkin tampak menjijikkan, tapi selanjutnya bisa bikin orang makin penasaran. Lama-lama, otak jadi error dan tidak bisa lepas dari tontonan
tersebut.

Pada awalnya, tidak semua orang terpapar film porno secara sengaja. Beberapa orang 'terpaksa' menonton film semacam itu karena kepepet situasi dan tidak bisa menghindar, misalnya karena tiba-tiba ada teman yang memamerkan koleksi film dewasanya.

"Mual rasanya, habis itu tidak doyan makan," ungkap seorang perempuan lajang, sebut saja Ningsih yang mengaku pertama kali nonton film porno secara tidak sengaja dari ponsel teman kosnya semasa kuliah beberapa tahun silam, Rabu (17/10/2012).

Jangankan yang tidak sengaja, orang-orang yang memang dari awal merasa penasaran pun sering jijik saat pertama kali menonton film porno. Pasalnya selain mengacaukan pemahaman seseorang tentang nilai-nilai sakral dalam berhubungan seks, film ini kadang menampilkan adegan yang berlebihan.

Pakar psikologi perkembangan dari Universitas Maranatha Bandung, Efnie Indriani mengatakan perasaan negatif yang muncul saat partama kali nonton film porno berasal dari bagian otak yang disebut brain stem atau batang otak. Bagian ini menyimpan memori tentang nilai-nilai norma dan agama.

Saat bagian tersebut aktif, maka perasaan negatif bisa muncul dalam bentuk perasaan bersalah. Bisa juga dalam bentuk lain seperti rasa jijik, yang intinya mendorong seseorang berniat untuk tidak lagi menonton film porno setidaknya pada kesempatan pertama tersebut.

Pada saat yang sama, film porno juga memicu sebuah mekanisme biologis yang tidak disadari yakni pelepasan hormon endorphin dan dopamin. Tanpa disadari, kedua hormon ini memicu rasa senang yang akan tersimpan di salah satu lobus memori dan sewaktu-waktu memori ini bisa muncul lagi.

"Memang siklus manusia itu kadang seperti pelana kuda, naik turun. Ketika brain stem-nya lagi aktif, maka ia akan stop tidak nonton lagi. Tapi ketika muncul memori tentang sensasi nikmatnya keluar hormon itu tadi, orang itu bisa melakukannya lagi dan lagi," terang Efnie.

Pada beberapa orang, rasa jijik maupun perasaan bersalah bisa campur aduk dengan rasa penasaran karena muncul bersamaan. Pada saat yang sama orang-orang bisa spontan menutup matanya dengan telapak tangan, namun diam-diam mengintip dari sela-sela jari yang dibiarkan tidak terlalu rapat.

Diakui oleh Efnie, tahapan hingga seseorang bisa kecanduan film porno tidak selalu sama karena masing-masing berangkat dari titik awal yang berbeda. Kebanyakan titik awalnya adalah eksplorasi, yakni sengaja menonton film tersebut untuk memuaskan rasa penasaran.

Namun ada juga yang berangkat dari faktor kebetulan, seperti yang dialami Ningsih. Meski untuk saat ini belum tertarik untuk nonton film porno lagi, ia mengakui bahwa rasa jijiknya terhadap adegan-adegan yang dilihatnya dari film porno kelak mungkin bisa saja berubah setelah dirinya menikah.

Selain titik awal, Efnie menyebut ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi tahapan orang sejak pertama kali nonton film porno hingga sampai ketagihan. Faktor-faktor tersebut antara lain sebagai berikut:

1. Frekuensi nonton
Munculnya memori kenikmatan yang memicu ketagihan nonton film porno umumnya tidak terjadi secara instant. Biasanya orang baru ketagihan kalau secara rutin dan intens nonton film porno minimal selama 1 bulan, atau bervariasi tergantung daya tahan dan kepekaan otak seseorang.

2. Kesibukan sehari-hari
Makin tinggi kesibukan seseorang, makin rendah risiko adiksi atau ketagihan. Pasalnya orang tersebut tidak punya cukup waktu untuk mengulangi aktivitas nonton film porno, sehingga pelepasan hormon dopamin dan endorphin juga lebih sedikit.

3. Stres
Tingginya tekanan hidup di zaman moderen kadang membuat orang berusaha mengalihkan stres dengan menonton film porno. Kalau terus-terusan, maka orang tersebut akan terbiasa coping (mengatasi) stres dengan nonton video porno sehingga makin mudah membentuk memori rasa senang yang memicu ketagihan.

4. Makanan
Kebanyakan orang mungkin tidak menduga bahwa makanan tinggi protein juga bisa meningkatkan risiko ketagihan film porno. Menurut Efnie, pembentukan neurotransmitter di otak dan berbagai aktivitas biologis yang terkait dengan pelepasan hormon membutuhkan protein. Makin banyak hormon yang dilepas serta neurotransmitter yang terbentuk, makin rentan seseorang mengalami ketagihan.

Dahsyatnya Kecanduan Video Porno, Begini Kondisinya

Jakarta, Di mana-mana yang namanya kecanduan itu memiliki dampak negatif yang besar. Sebut saja kecanduan narkoba, rokok, alkohol ataupun judi. Tapi ada kecanduan yang sering disepelekan banyak orang karena gejalanya tak begitu kentara. Apakah itu? Kecanduan pornografi.

Saat ini, pornografi begitu mudah diakses berkat koneksi internet dan persewaan film yang menjamur di kota-kota. Transfer file-file berbau seronok pun dapat dilakukan lewat bluetooth antar handphone. Dengan kemudahan ini, penikmat pornografi sebaiknya waspada terjerat kecanduan.

"Pornografi itu tulisan, gambar atau film yang menceritakan sesuatu dengan amat vulgar dan dangkal. Biasanya menempatkan wanita sebagai objek dan hanya bertujuan merangsang seks atau birahi," papar Dr. Andri Wanananda MS, seksolog dari Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara Jakarta, Rabu (17/10/2012).

Walau tidak seperti narkoba ataupun alkohol yang membuat pengguna jadi sakau, pornografi juga bisa menyebabkan kecanduan. Penderitanya sulit menahan diri untuk tidak melihat hal-hal yang merangsang nafsu seksual. Yang jadi masalah adalah apabila dorongan ini jadi tak terkontrol sampai-sampai mengganggu kehidupan seseorang.

"Gejala-gejala kecanduan pornografi adalah apabila sampai mengganggu kegiatan rutinnya. Dampaknya bisa begitu hebat, misalnya orang jadi suka melihat bahkan menyukai aktifitas seksual yang dilakukan beramai-ramai. Sekolahnya jadi terbengkalai, pekerjaannya jadi terbengkalai," jelas dr Andri.

Bagi pasangan menikah, ada kalanya pornografi bisa membantu membangkitkan gairah seksual dalam kehidupan rumah tangga. Namun, kecanduan pornografi yang berlebihan justru dapat merusak mental dan rumah tangga.

Seperti seperti dilansir Foxnews, ada beberapa tanda-tanda kecanduan pornografi, yaitu:

1. Menjadi antisosial
Orang yang sudah kecanduan pornografi akan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang berbau pornografi ketimbang hal lain yang lebih penting, termasuk bersosialisasi dengan keluarga dan teman-teman sekitar. Pecandu pornografi bisa menjadi antisosial.

2. Kehilangan minat berhubungan seks dengan pasangan nyata
Pecandu pornografi biasanya akan kehilangan minat berhubungan seks dengan pasangan nyata. Pecandu seks yang sudah sangat berat biasanya mengalami kesulitan untuk terangsang secara seksual, hingga akhirnya mengakibatkan kesulitan mencapai ereksi atau orgasme.

3. Berlaku tak biasa atau kasar saat berhubungan seks
Berhubungan seks dengan seorang pecandu pornografi bisa membuat pasangannya tidak nyaman. Pasalnya sebagian dari mereka berlaku kasar saat berhubungan seks, meniru apa yang ditonton.

4. Mengabaikan pasangan
Wanita akan merasa sangat berjarak secara emosional jika pasangannya adalah seorang pecandu pornografi. Pada akhirnya, wanita dapat merasa ditolak atau terabaikan secara seksual karena mengaanggap pasangan lebih terpuaskan lewat pornografi.

5. Mengkritik dan menjadikan pasangan sebagai objek seks
Pecandu seks menjadi lebih sering mengkritik penampilan pasangan, misalnya pakaian yang digunakan atau berat badan yang dianggap kurang sempurna. Ia juga cenderung membanding-bandingkan pasangan dengan model atau objek seks yang sering dilihat.

6. Perilaku seksual tidak terkendali
Pecandu pornografi seringkali tidak mampu mengendalikan pikiran tentang imajinasi seks. Akibatnya muncul dorongan untuk menonton pornografi yang sulit dihentikan.

Derita Jadi Bintang Porno, Wajib 'Tegang' Sampai Berjam-jam

Jakarta, Saat menonton film porno, mungkin yang Anda pikirkan adalah mudahnya menjadi pemain film biru yang dibayar untuk melakukan hubungan seksual. Namun kenyataannya tidaklah demikian, banyak penderitaan yang dirasakan oleh si pelaku film porno.

Psikolog Seksual Zoya Amirin, pernah melihat langsung bagaimana proses pembuatan video porno di Los Angeles. Menurutnya, tidak ada yang nikmat dalam industri film porno.

"Miris kita melihat bagaimana sang bintang baik pria maupun wanita harus melakukan adegan seksual yang dipaksa. Pria harus dipaksa alat kelaminnya 'berdiri' dengan cara disuntik dan wanita harus mengulang adegan penetrasi dan oral sex dengan menahan sakit," ujar Zoya Amirin, seperti ditulis Rabu (17/10/2012).

Dalam industri film porno, hubungan seksual digambarkan secara berlebihan. Si pria dituntut harus memiliki ukuran kelamin di atas rata-rata dan mampu bertahan lama di atas ranjang. Hal ini akhirnya dianggap sebagai patokan mutlak oleh penikmat film biru. Para lelaki merasa minder bila ukuran kelaminnya lebih kecil atau tak bisa bertahan lama saat bercinta.

Padahal untuk mendapatkan semua hal itu, ada berbagai dopping tak sehat yang digunakan pemain film porno, seperti menyuntik alat kelamin atau minum berbagai obat-obatan yang dapat merangsang ereksi.

Perlakuan lebih kejam lagi diterima oleh pelaku wanita. Zoya bahkan menyebut industri film porno merupakan salah satu bentuk kekerasan pada wanita.

"Bayangkan saja, untuk industri film porno wanita harus bercinta dengan gaya berlebihan. Oral seks dipaksa, penetrasi sekaligus secara anal (melalui dubur), oral dan vaginal. Ada juga yang sambil dicekik atau dimasukan ke dalam toilet. Itu kan sangat menyiksa, mana ada wanita yang mau diperlakukan begitu," ungkap Zoya yang sangat menentang pornografi.

Tak hanya itu, para pemain baik pria maupun wanita, terutama pada industri film porno dengan anggaran yang besar, kadang diharuskan melakukan hubungan seks selama 2 jam non stop. Kondisi ini membuatnya harus melakukan hubungan seks secara maraton.

Ini tentu saja membutuhkan energi yang tidak sedikit, jika tidak diimbangi dengan asupan energi yang cukup dan kondisi fisik yang bagus maka bisa memicu kelelahan dan berdampak buruk bagi kesehatannya.

Belum lagi risiko tertular penyakit menular seksual. Sebagian besar perusahaan produksi video seks tidak menganggap kondom sebagai alat penting, karena secara teori itu bisa membunuh fantasi seks, sehingga kondom sangat jarang digunakan dan hanya pada adegan seks tertentu saja.

"Video porno itu membuat hubungan seksual tampak sangat berlebihan. Akhirnya itu meracuni penontonnya. Pria mungkin akan memaksa pasangannya untuk beradegan layaknya aktor dan aktris dalam video porno, yang tentu akan sangat menyiksa. Kadang ada yang merasa tidak puas bila tidak sama seperti di video. Padahal adegan seks dalam video porno tidaklah menyenangkan, dibuat-buat dan sangat berlebihan," tegas Zoya.


sumber : detik
Share this article :

Visitors Today

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka