Mengenal Sosok Mendiang Ayung, Bos PT Sanex Steel - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » » Mengenal Sosok Mendiang Ayung, Bos PT Sanex Steel

Mengenal Sosok Mendiang Ayung, Bos PT Sanex Steel

Written By Dre@ming Post on Kamis, 01 Maret 2012 | 3/01/2012 05:01:00 AM

Kamis, 01/03/2012 04:39

John Kei
Jakarta - Mendiang Ayung alias Tan Hary Tantono yang ditemukan tewas di Swiss-Belhotel, Jakarta Pusat adalah bos PT Sanex Steel yang merintis karirnya mulai dari nol. Perjalanan panjang dan berbagai terpaan hidup membuat Ayung menjadi sosok pengusaha yang banyak dikenal pejabat pemerintah hingga kalangan menteri.

Lalu, bagaimanakah sepak terjang Ayung dalam persaingan bisnisnya? Bagaimana pula lika-liku perjalanan bisnisnya itu hingga ia harus berurusan dengan aparat penegak hukum dan akhirnya berakhir tragis, tewas dibunuh di kamar 2701 Swiss-Belhotel, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Selasa (27/1) lalu? Berikut perjalanan hidup Ayung yang dikumpulkan 
dari sumber di kepolisian.

Ayung Kecil

Ayung kecil lahir di Surabaya tanggal 5 Maret 1961 silam. Di Kartu Tanda Penduduk (KTP), Ayung tercatat beralamat tinggal di Jalan Prapen Indah Blok A/12 RT 001/02 Kelurahan Prapen, Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Surabaya. Ayahnya bernama Herman Tantono. Ayung adalah anak ke-enam dari delapan bersaudara. Umur 3 tahun, Ayung pernah dibawa ayahnya ke Fujian, China. Ia kemudian mengenyam pendidikan di sana hingga tingkat SMP. Selepas itu, ia kembali hijrah ke Indonesia, tepatnya Kota Surabaya, Jawa Timur.

Beranjak remaja, Ayung kemudian dibawa kembali ke Surabaya oleh ayahnya. Ia kemudian bekerja di toko emas milik ayahnya. Ayung rupanya punya bakat bisnis yang luar biasa.

Usaha Mandiri

Hingga menjelang dewasa, Ayung kemudian mendirikan usaha sendiri. Bersama temannya, Ho Giok Kie alias Arifin, Ayung mulai mengembangkan usaha sendiri yaitu menjual VCD bajakan. Bahkan, menurut sumber di kepolisian, usaha VCD bajakan ini sering berperkara di kepolisian. Dua sekawan ini kemudian bekerja sama di bidang elektronik. Ia dan Arifin sering patungan untuk mengimpor barang elektronik dari China.

Jadi Bos

Puncak karir bisnisnya dimulai ketika pada 7 Desember 2004, Ayung bersama tiga rekannya yakni Rudy Santoso, Kong Tju Yun, dan Arifin mendirikan perusahaan, PT Sanex Steel Indonesia yang berlokasi di kawasan Industri Milenium, Jalan Baru Pemda, Tigaraksa, Cikupa, Tangerang. Nama PT Sanex Steel ini sebetulnya adalah merek paten milik Kong Tju Yun.

Dalam susunan pemegang saham dan kepengurusan perusahaan, Ayung memiliki saham tersebesar dengan jumlah saham mencapai 7.000 lembar saham. Ia kemudian diangkat sebagai Komisaris Utama. Kemudian, Kong Tju Yun dengan komposisi saham sebanyak 5.500 lembar, diangkat sebagai Komisaris. Di jajaran direksi, Rudy Santoso sebagai pemegang 4.000 lembar saham menempati posisi Direktur Utama, sedangkan Arifin yang hanya memiliki 3.500 lembar saham, menjabat sebagai direktur di perusahanaan tersebut.

Dalam perjalanan operasional perusahaan yang bergerak dalam bidang peleburan besi itu, pembangunan pabrik dan pemasangan mesin-mesin berjalan lambat. Akhirnya, pada tanggal 7 Oktober 2005 silam, Arifin mengundurkan diri dari kepengurusan. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Terbatas di Hotel Sheraton Towers, Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, tertuanglah Surat Kesepakatan Bersama tentang Pengunduran Diri Arifin sebagai pemegang saham. Seluruh modal saham yang pernah disetor Arifin saat itu dikembalikan sepenuhnya kepada Arifin.

Singkat cerita, perusahaan kemudian mengirimkan cek-cek pembayaran bertahap kepada Arifin. Pada tanggal 21 November 2005, PT Sanex Steel Indonesia kemudian mengirimkan undangan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB). Namun, saat itu Arifin tidak hadir.

Seiring perjalanan itu, Arifin tak lagi menjadi pengurus di PT Sanex Steel Indonesia. Namun, rupanya kemunduran diri Arifin ini membuat Arifin tidak puas. Sejak saat itu, Arifin kemudian mulai memperkarakan Ayung. Mulai dari masalah identitas, pemalsuan surat saham, hingga masalah lainnya.

Berdasarkan informasi di kepolisian, Arifin melaporkan Ayung ke Polda Metro Jaya pada tanggal 7 Desember 2006 silam atas tuduhan pasal 266 KUHP tentang memberikan keterangan palsu pada akta otentik Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI). Si pelapor, Arifin juga disebut-sebut bukan WNI. Arifin adalah warga China yang lahir di Fujian pada tanggal 7 Juli 1966 silam. Bahkan menurut sumber, Arifin tidak bisa menulis, membaca dan berbahasa Indonesia.

Ayung kemudian ditangkap aparat Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya dengan surat penangkapan bernomor SP.Kap/1/1725/XII/2006/Ditreskrimum yang ditandatangani oleh Kompol Hendro Pandowo yang saat itu menjabat sebagai Satuan Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Polda Metro Jaya. Pada tanggal 30 Desember 2006, di Tol Bitung, Tangerang.

Informasi yang dihimpun, Ayung juga menggunakan identitas Tan Hary Tantono-nama dalam KTP-nya-yang merupakan identitas dari seorang bayi berusia 3,5 tahun yang sudah meninggal. Penyidik kepolisian bahkan menemukan kuburan bernama Tan Hary Tantono itu di kawasan Surabaya, Jawa Timur.

Sumber menyebutkan Ayung ditahan pada tanggal 30 Desember 2006 atas pemalsuan identitas itu. Hingga kasus tersebut bergulir ke meja hijau, Ayung dinyatakan tidak bersalah dalam putusan persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara tanggal 29 Mei 2007 silam. Ayung hanya mendapatkan vonis 5 bulan penjara atas kepemilikan Kartu Tanda Penduduk (KTP) ganda. Dia kemudian ditahan di Rutan Salemba.

Pengacara Ayung, Carel Ticula saat dikonfirmasi tidak menyangkal bahwa Ayung pernah berkasus soal identitasnya itu. "Memang waktu itu Ayung pernah berperkara di pengadilan soal kewarganegaraannya ini. Tapi kan di pengadilan tidak terbukti dia memalsukan identitas," kata Carel dalam perbincangan dengan sejumlah wartawan di Jakarta, Selasa (29/2/2012) malam.

Namun Carel membantah bahwa Ayung menggunakan identitas Tan Hary Tantono dari orang yang telah meninggal. "Memang, waktu bapaknya diperiksa polisi, dikatakan bapaknya bahwa 'Ayung bukan anak saya, dia anak adik saya'. Tetapi di pengadilan, bapaknya kemudian mengakui bahwa Ayung benar anaknya dia," paparnya.

Saat berperkara inilah, menurut informasi dari sumber, Ayung bertemu dengan John Kei di rumah tahanan Polda Metro Jaya. Sempat beredar kabar, keduanya yang kemudian berkawan itu menghisap sabu di dalam tahanan. Petugas menemukan nol koma sekian gram sabu di saku celana Ayung yang digantung di dalam ruang sel. Namun lagi-lagi, hal ini dibantah oleh Carel.

"Memang dia waktu itu kan ada polisi datang gerebek, ditemukan ada sisa sabu di saku celananya. Tapi Ayung tidak mengakui bahwa itu milik dia," tegas Carel.

Sebagai kuasa hukumnya, Carel saat itu kemudian meminta penyidik melakukan tes urine terhadap Ayung. Penyidik kemudian menyatakan bahwa Ayung positif mengkonsumsi sabu. "Tapi sampai sekarang, saya minta bukti hasil tesnya yang positif itu, penyidik nggak kasih," ujar Carel saat ditanya mengenai tes urin yang positif itu.

Nah, setelah masa penahanan Ayung soal kasus kepemilikan KTP gandanya habis, Ayung kemudian bebas. Dia kemudian kembali menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan atas penggunaan sabu. Ayung saat itu divonis 8 bulan penjara di Rutan Salemba.

Dikabarkan, di Rutan Salemba ini, Ayung bertemu dengan Said Kei. Selama menjadi warga binaan, keduanya berteman akrab. Bahkan Said mengawal Ayung kemana pun Ayung pergi. Hingga setelah Ayung bebas dan Said pun bebas, Ayung kemudian memberikan pekerjaan terhadap Said, menjaga lahan pabrik Ayung di Cikupa. Carel tidak membantah bahwa Said menjadi kepercayaan Ayung untuk menjaga pabriknya.

"Ayung itu memang baik. Dia tidak akan lupa budi baik orang. Sehingga begitu Said bebas, Ayung memberi lahan buat Said. Bahkan Said juga pernah ditempatkan di Kalimantan oleh Ayung," jelasnya.

Sengketa Arifin dengan Ayung tidak berhenti sampai situ. Data dari sumber di kepolisian menyebutkan sekitar tahun 2008, Arifin kembali memperkarakan Ayung. Kali ini, Arifin memperkarakan Ayung dengan tuduhan pemalsuan surat saham ke Bareskrim Mabes Polri. Saat itu, Kepala Bareskrim Polri dijabat oleh Komjen Bambang Hendarso Danuri (BHD).

Saat proses di kepolisian, Ayung tidak ditahan. Namun di kejaksaan setelah perkaranya P-21, Ayung kemudian ditahan. Selama proses penyidikan, Carel yang juga menjadi kuasa hukum PT Sanex Steel Indoneisa sempat protes kepada penyidik.

"Saya katakan waktu itu kepada Kabareskrim kalau ini kasus perdata, masalah saham. Harusnya tunggu putusan perdata dan ada putusan bahwa Arifin sudah menerima bagiannya. Apa lagi? kenapa dipidana?" kata Carelmempertanyakan.

Namun kemudian penyidik tetap memproses kasus tersebut hingga akhirnya dilimpahkan ke kejaksaan. Hingga kasus tersebut masuk ke meja hijau, ternyata Pengadilan Negeri Tangerang saat itu memutus bebas para terdakwa yakni Rudy Santoso, Kong Tju Yun dan Ayung pada tanggal 26 Agustus 2009.

"Hakim memutuskan bahwa itu perkara perdata, bukan pidana," ujarnya.

Berdasarkan informasi dari sumber di kepolisian, Ayung juga kembali berurusan dengan Arifin. Kali ini, masalah utang-piutang. Arifin memang dikenal sebagai rentenir. Kon Tju Wok, rekan Ayung yang berutang pada Arifin, sempat diserang oleh anak buah John Kei di pabriknya.

Carel saat dikonfirmasi mengenai informasi penyerangan ke pabrik Ayung oleh sekelompok orang itu, tidak menyangkal. "Utangnya sudah dibayar sama Kon Tju Wok," imbuhnya.

Kemudian kedua pihak yang berseteru ini bertemu di Apartemen Kemayoran, Jakarta Utara. Saat itu, John Kei juga ada di lokasi untuk menengahi. Carel juga tidak membantah bahwa saat itu John Kei ada dalam pertemuan mereka.

"Iya, John Kei memang ada," ujarnya.

Perkara Ayung dengan Arifin baru bisa didamaikan sekitar tahun 2011 di Hotel Mulia, Jakarta Pusat. Saat itu, ada Ongen Sangaji, Said Kei, Daud Kei, John Kei untuk mendamaikan Arifin dan Ayung.


sumber : detik
Share this article :

Visitors Today

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka