Taliban Culik Anggota Dewan Perdamaian Afganistan - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » » Taliban Culik Anggota Dewan Perdamaian Afganistan

Taliban Culik Anggota Dewan Perdamaian Afganistan

Written By Dre@ming Post on Senin, 30 Januari 2012 | 1/30/2012 05:44:00 AM

Senin, 30 Januari 2012 | 05:49

Taliban
KABUL - Gerilyawan Taliban telah menculik seorang anggota dewan  perdamaian Afganistan selama upaya mendorong perundingan di wilayah timur yang bergolak. Demikian dikatakan sejumlah pejabat, Minggu.

Penculikan itu menggarisbawahi kesulitan yang dihadapi para perunding untuk memperoleh dukungan bagi negosiasi dari garis depan Taliban.

"Mavlawi Shafihullah Shafih, anggota tingkat rendah dari Dewan Perdamaian Tinggi yang dibentuk Presiden Hamid Karzai untuk berhubungan dengan gerilyawan, hilang pada Jumat (27/1/2012) di distrik Asmar di
provinsi Kunar, Afganistan timur," kata pihak berwenang.

Shafih, mantan kepala departemen pendidikan di provinsi berdekatan Nuristan, pergi dari Kabul untuk bertemu gerilyawan guna mendorong mereka bergabung dalam proses perdamaian setelah para pemimpin Taliban mengusulkan pembukaan sebuh kantor perwakilan di Qatar.

"Tak lama setelah ia meninggalkan mobilnya, Taliban menangkapnya," kata Shahzada Shahid, seorang anggota lain dari dewan beranggotakan 70 orang itu, yang pergi ke ibu kota Kunar, Asadabad, untuk berusaha membebaskan Shafih dengan bantuan para sesepuh masyarakat, Minggu (29/1/2012).

Penculikan Shafih itu terjadi empat bulan setelah Ketua Dewan Perdamaian Tinggi Burhanuddin Rabbani dibunuh oleh seorang gerilyawan yang membawa bom yang disembunyikan di sorbannya. Serangan itu juga melukai empat orang, termasuk Masoom Stanekzai, kepala sekretariat dewan tersebut.

Penculikan itu juga berlangsung setelah para pemimpin Taliban menawarkan membuka sebuah kantor di Qatar terhadap kemungkinan perundingan perdamaian dengan AS dan sekutu utamanya. Karzai dikabarkan khawatir, ia tidak akan dilibatkan dalam perundingan di Qatar.

Namun, Washington menekankan bahwa setiap perundingan dengan Taliban untuk mengakhiri perang hanya bisa berlangsung dengan persetujuan Pemerintah Afganistan, yang nantinya akan memimpin proses itu.

Taliban sejauh ini bersikeras bahwa mereka tidak akan memasuki tahap negosiasi bila pasukan asing masih berada di Afganistan. Bahkan jika memang melakukan hal itu, maka mereka mungkin tidak akan mengakuinya.

Sejumlah komandan juga khawatir terhadap semangat para pejuang mereka di lapangan jika mereka tahu para pemimpin mereka melakukan perundingan. Pada Oktober, Taliban berjanji akan berperang sampai semua pasukan asing meninggalkan Afganistan.

Presiden Hamid Karzai dan negara-negara Barat pendukungnya telah sepakat bahwa semua pasukan tempur asing akan kembali ke negara mereka pada akhir 2014. Namun, Barat berjanji memberikan dukungan yang berlanjut setelah masa itu dalam bentuk dana dan pelatihan bagi pasukan keamanan Afganistan.

Gerilyawan meningkatkan serangan terhadap aparat keamanan dan juga pembunuhan terhadap politikus, termasuk yang menewaskan Ahmed Wali Karzai, adik Presiden Hamid Karzai, di Kandahar pada Juli, dan utusan perdamaian Burhanuddin Rabbani di Kabul pada bulan September.

Konflik meningkat di Afganistan dengan jumlah kematian warga sipil dan militer mencapai tingkat tertinggi pada tahun lalu ketika kekerasan yang dikobarkan Taliban meluas dari wilayah tradisional di selatan dan timur ke daerah-daerah barat dan utara yang dulu stabil.

Sebanyak 711 prajurit asing tewas dalam perang di Afganistan sepanjang tahun lalu, menjadikan 2010 sebagai tahun paling mematikan bagi pasukan asing, menurut hitungan AFP berdasarkan situs independen icasualties.org.

Jumlah kematian sipil juga meningkat, dan Kementerian Dalam Negeri Afganistan mengumumkan bahwa 2.043 warga sipil tewas pada 2010 akibat serangan Taliban dan operasi militer yang ditujukan kepada gerilyawan.

Taliban, yang memerintah Afganistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.

Sekitar 130.000 personel Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO, yang berasal dari puluhan negara, berada di Afganistan untuk membantu pemerintah Kabul memerangi pemberontakan Taliban dan sekutunya.

Sekitar 521 prajurit asing tewas sepanjang 2009, menjadikan tahun itu sebagai tahun mematikan bagi pasukan internasional sejak invasi pimpinan AS pada 2001, dan membuat dukungan publik Barat terhadap perang itu merosot.

Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom pinggir jalan dan serangan bunuh diri untuk melawan Pemerintah Afganistan dan pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut.

Menurut pihak militer, bom rakitan yang dikenal sebagai IED (peledak improvisasi) mengakibatkan 70-80 persen korban dari pihak pasukan asing di Afganistan.

sumber : kompas
Share this article :

Visitors Today

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka