Michelle Obama Lelah Dituduh Perempuan Pemarah - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » » Michelle Obama Lelah Dituduh Perempuan Pemarah

Michelle Obama Lelah Dituduh Perempuan Pemarah

Written By Dre@ming Post on Kamis, 12 Januari 2012 | 1/12/2012 06:19:00 AM

Kamis, 12 Januari 2012 | 06:19

Michelle juga bertemu dengan Samantha Cameron di kediaman Perdana Menteri Inggris di Downing Street
WASHINGTON - First Lady Amerika Serikat, Michelle Obama, menampik pernyataan yang menggambarkan dirinya suka memaksakan kehendak kepada para staf pembantu suaminya, Presiden Barrack Obama, di Gedung Putih.

Michelle menikah dengan Obama pada Oktober 1992 dan kini menjadi ibu dari Malia Ann (1998) dan Natasha atau Sasha (2001). Ia juga mengaku lelah digambarkan sebagai "perempuan yang pemarah".

kepada jaringan televisi CBS News sebagaimana dikutip AP, Rabu (11/1/2012), Michelle menyatakan belum membaca buku baru karya wartawan New York Times, Jodi Kantor. Jodi di bukunya menggambarkan
karakter Michelle sebagai orang yang memaksakan kehendaknya di balik Executive Mansion, kelompok penasihat Gedung Putih.

Acap kali, Michelle menimbulkan konflik dengan para penasihat utama Presiden Obama. Perempuan dengan tinggi 180 meter yang lahir dengan nama Michelle LaVaughn Robinson pada 17 Januari 1964 di Chicago ini menegaskan, dia sangat serius memerhatikan suaminya dan salah satu orang kepercayaannya. Michelle mengaku tidak pernah membaca buku yang menulis soal "kesan orang lain menyangkut orang lain".

Ditanya soal adanya tuduhan bahwa dia pernah berselisih paham dengan Kepala Kastaf Gedung Putih Rahm Emanuel, Michelle menegaskan, dia tidak pernah "berdebat sekali pun" dengan Rahm.

Menengah bawah

Michelle lahir dan tumbuh dalam keluarga menengah bawah. Ayahnya, Frasier Robinson, adalah pegawai PAM di Chicago. Ibunya, Marian, bekerja sebagai sekretaris di toko katalog setelah anak-anaknya besar.

Michelle dan kakaknya, Craig, hidup dalam keluarga yang hangat. Sentuhan dan kecupan sayang orangtuanya begitu berkesan. Ayahnya sakit-sakitan dan meninggal dunia tahun 1991. Namun, ayahnya tak pernah bolos kerja.

Mentor Obama

Michelle kuliah di Princeton dan Harvard Law School (1988) kemudian lulus dengan predikat sangat memuaskan. Untuk memperbaiki ekonomi keluarga, Michelle langsung bergabung di Kantor Hukum Sidley Austin di Chicago.

Di kantor hukum itu, Michelle yang menjadi karyawan senior harus menjadi mentor karyawan baru bernama Barack Obama. Michelle, yang tegas dan prinsipiil, menolak ketika anak mentornya itu mengajak kencan. Michelle menolak karena tak etis berkencan dengan sesama karyawan.

"Saya harus bisa meluluhkan hatinya," tulis Obama dalam bukunya, The Audacity of Hope.

Michelle akhirnya mau menemani Obama saat piknik perusahaan. Mereka mengecap es krim dan saling curhat soal kehidupan keluarga. Obama bahkan sampai belajar bermain basket bersama Graig, abang Michelle, untuk mengenal adiknya.

Dia juga menolak pindah ke Washington DC agar bisa tetap dekat dengan Michelle. Michelle akhirnya luluh. Obama membuatnya terkesan. Keduanya lantas menonton film Do the Right Thing.

Beberapa tahun kemudian Obama mulai berpolitik. Sebagai keluarga muda, dengan ekonomi yang belum mapan, Michelle harus bekerja keras. "Hidup yang keras. Itu yang menjadikan Obama seorang pria yang tahu bersyukur," ujar Michelle.

Awalnya, Michelle menolak Obama ikut dalam pemilihan presiden. Dia kemudian mau mendukungnya, antara lain, setelah Obama memenuhi permintaannya berhenti merokok. Namun, hal yang terpenting, setelah Obama berjanji tetap memerhatikan keluarga, terutama kedua putri mereka.

sumber : kompas
Share this article :

Visitors Today

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka