Belokkan Opini, Pintar Bersandiwara, Bantu Suaka Nazar, Pengkhianat Bangsa - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » » Belokkan Opini, Pintar Bersandiwara, Bantu Suaka Nazar, Pengkhianat Bangsa

Belokkan Opini, Pintar Bersandiwara, Bantu Suaka Nazar, Pengkhianat Bangsa

Written By Dre@ming Post on Sabtu, 20 Agustus 2011 | 8/20/2011 03:41:00 AM

Sabtu, 20 Agustus 2011 | 03:49

Surat Nazaruddin untuk Belokkan Opini

JAKARTA - Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menilai, surat yang  ditulis M Nazaruddin, tersangka kasus dugaan suap pembangunan wisma atlet SEA Games 2011, kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hanya untuk membelokkan opini kasus yang menjeratnya. Sebagai kepala negara, Presiden Yudhoyono tidak
dapat ikut campur dalam bidang hukum.

"Artinya seumpama Presiden SBY tertarik untuk membantu, tidak ada jalurnya karena yang menangani kasus Nazaruddin ini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Oleh sebab itu, menurut saya, surat itu sudah jelas dan, mungkin, sengaja untuk membelokkan opini," ujar Mahfud di Kantor GP Anshor, Jakarta, Jumat (19/8/2011) malam.

Surat yang dimaksud adalah permohonan Nazaruddin kepada Presiden SBY agar istri dan anak Nazaruddin tidak diganggu. Dalam surat itu, Nazaruddin bersedia divonis tanpa harus melalui proses hukum asal perlindungan anak dan istrinya dijamin oleh pemerintah.

Mahfud mengatakan, dalam konteks surat tersebut, Nazaruddin seharusnya meminta perlindungan terhadap penegak hukum, seperti KPK, Kejaksaan, dan Kepolisian. "Tidak ada hubungannya menangani hukum, kok meminta perlindungan ke SBY," kata Mahfud.

Ia menilai opini kasus Nazaruddin sudah tidak berimbang. Saat ini seakan-akan aparat disalahkan dan dituduh melakukan rekayasa dalam kasus mantan Bendahara Umum Partai Demokrat tersebut. Padahal, kata Mahfud, saat Nazaruddin kabur keluar negeri beberapa waktu lalu, banyak pihak yang pesimistis dengan aparat untuk bisa menangkap mantan politisi Demokrat itu.

"Sekarang saat betul-betul sudah ditangkap pun, aparat masih disalahkan, misalnya seperti penangkapannya dianggap melanggar hak asasilah, dan sebagainya. Ya, kita harus fair-lah lihat kasus ini. Jangan sampai kasus ini berbelok-belok opininya," ucap Mahfud

Sekretaris Kabinet Dipo Alam sebelumnya menegaskan bahwa surat yang ditulis Nazaruddin bukan urusan Presiden Yudhoyono. Presiden, kata Dipo, bukan lembaga penegak hukum yang berhak memeriksa Nazaruddin.

"Saya yakin Presiden tidak akan menanggapi surat itu karena Nazaruddin sudah dalam proses hukum oleh KPK, baik ketika ia buron, maupun ketika kini didipenjara. Jadi jelas, surat itu bukan urusan Presiden. Silakan para politisi dan pengamat berandai dan menyoal sepuasnya," kata Dipo.

Mahfud: Nazaruddin Pintar Bersandiwara

JAKARTA - Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD sangat yakin Komisi Pemberantasan Korupsi tidak akan melakukan rekayasa dalam kasus Muhammad Nazaruddin, tersangka kasus dugaan suap wisma atlet SEA Games 2011. Menurutnya, berbagai permasalahan, seperti surat untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan isu intervensi, hanya untuk menimbulkan ketidakpercayaan terhadap penegak hukum, terutama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Kalau saya yakin seyakin-yakinnya tidak ada rekayasa yang dilakukan oleh KPK. Tidak ada indikasinya. Bahwa Nazaruddin seperti itu, bersikap lemas saat kembali ke Jakarta atau bagaimana, itu kan memang dia pintar sandiwara sejak dulu. Sejak kasus dengan Mahkamah Konstitusi (MK) kan begitu," ujar Mahfud di Jakarta, Jumat (19/8/2011) malam.

Menurut Mahfud, KPK merupakan lembaga yang independen sehingga tidak masuk akal jika ditekan oleh pihak luar. Selain itu, kata Mahfud, saat ini ada tiga institusi berbeda yang menangani kasus mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, yakni Polri, Kejaksaan, dan KPK.

"Jadi, kalau ada satu yang main-main pastilah bocor. Akan tetapi kan itu hanya katanya, katanya, katanya saja. Ini hanya sebagai upaya untuk agar kepercayaan terhadap lembaga hukum, terutama KPK, itu berkurang di mata masyarakat," kata Mahfud.

Seperti diberitakan, sepulangnya Nazaruddin ke Tanah Air dari Kolombia pada Sabtu (13/8/2011), kasus yang menjerat Nazaruddin makin kental nuansa intervensi dan tekanan. Pasalnya, setelah terus berkoar mengenai kasus-kasusnya dalam pelariannya, Nazaruddin memperlihatkan kondisi yang sama sekali berbeda saat tiba di Jakarta.

Nazaruddin bahkan mengaku lupa ingatan dan meminta agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar anak dan istrinya tidak diganggu dengan imbalan, dia tidak akan berbicara tentang Partai Demokrat dan bersedia menanggung sendiri hukuman atas kasus-kasusnya.

Ketua KPK Busyro Muqoddas juga pernah mengatakan, ada opini yang menyesatkan publik terkait pengusutan kasus tersebut. Untuk itulah, KPK beberapa waktu lalu merilis rekaman video dan foto selama Nazaruddin dalam perjalanan pulang ke Indonesia dari pelariannya di Kolombia.

Berlebihan, Tayangan CCTV KPK

JAKARTA - Ketua Badan Pengurus SETARA Institute Hendardi menilai, penayangan CCTV yang merekam pemeriksaan Muhammad Nazaruddin, tersangka kasus korupsi wisma atlet SEA Games 2011, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bukanlah cara yang baik untuk menunjukkan kinerja yang independen dan akuntabel.

Penayangan itu justru menampilkan keganjilan karena tidak lazim dan bahkan tidak pernah dilakukan sebelumnya.

"Ini bentuk reaksi berlebihan dan tidak bermutu. Terlebih lagi, pemeriksaan tampak sekali dilakukan tidak serius" katanya di Jakarta, Jumat (19/8/2011) malam.

Independensi dan akuntabilitas kinerja KPK, lanjut Hendardi, seharusnya ditunjukkan dengan mengungkap jejaring mafia yang terlanjur menjadi pengetahuan publik. Di dalamnya termasuk mengusut nama-nama yang sempat disebut Nazaruddin saat masih buron.

Adapun surat Nazaruddin untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) patut diduga hanyalah upaya menyempurnakan skenario pembungkaman dengan barter tertentu. Itu dilakukan sambil mendongkrak citra komitmen penegakan hukum Presiden dan Partai Demokrat.

"Inilah episode yang paling menenangkan SBY dan Partai Demokrat karena pilihan rasional Nazar untuk bungkam demi selamatkan istri dan keluarganya," kata Hendardi.

Bantu Suaka Nazar, Pengkhianat Bangsa

JAKARTA - Sejumlah tokoh nasional yang pro-pemberantasan korupsi mendapatkan fakta mengejutkan ketika datang ke Komisi Pemberantasan Korupsi, Jumat (19/8/2011).

Mereka diberi tahu bahwa pemulangan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, dilakukan menggunakan pesawat carteran karena ada upaya sejumlah pihak mengusahakan suaka sehingga tersangka kasus suap pembangunan wisma atlet SEA Games itu bisa mendapatkan status kewarganegaraan dari negara lain.

Sosiolog Universitas Indonesia, Imam Prasodjo, mengungkapkan, ada indikasi sejumlah pihak mendorong Nazaruddin mendapatkan suaka saat dia tengah menjadi buron. Bagi Imam, membantu seorang yang tengah disangka berbuat korupsi agar lolos dari jeratan hukum di Indonesia jelas merupakan pengkhianatan.

"Ada indikasi pihak-pihak yang ingin mendorong Nazaruddin untuk mendapatkan suaka di tengah dia menjadi seorang buron. Saya kira publik perlu tahu siapa orang itu dan kalau dia orang Indonesia, jelas ini bagian dari pengkhianatan bangsa," kata Imam.

Imam bersama sejumlah tokoh, antara lain TNI Jenderal TNI (Purn) Endriartono Sutarto, Todung Mulya Lubis, Faisal Basri, Erry Riyana Hardjapamekas, Ikrar Nusa Bhakti, Danang Widoyoko, Febri Diansyah, Mas Achmad Santosa, Saldi Isra, dan Teten Masduki, mendatangi KPK untuk memberikan dukungan agar kasus korupsi yang melibatkan Nazaruddin diusut tuntas.

Mereka menyatakan siap memberikan dukungan terhadap KPK untuk mengusut siapa pun yang terlibat dalam kasus ini, termasuk mereka yang dekat dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ataupun politikus di DPR.

Imam mengatakan, karena jelas-jelas merupakan pengkhianatan bangsa, siapa pun pihak yang membantu Nazaruddin mendapatkan suaka hendaknya diungkapkan kepada publik. "Agar publik tahu, siapa yang selama ini jelas-jelas membela koruptor. Mudah-mudahan indikasi itu terungkap," kata Imam.


sumber : kompas
Share this article :

Visitors Today

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka