Khadafy seperti Hitler dan Pol Pot namun Bisnis Libya Menggurita di Tangan Khadafy - Dre@ming Post
Online Media Realiable // Layak dibaca dan perlu!!
Home » » Khadafy seperti Hitler dan Pol Pot namun Bisnis Libya Menggurita di Tangan Khadafy

Khadafy seperti Hitler dan Pol Pot namun Bisnis Libya Menggurita di Tangan Khadafy

Written By Dre@ming Post on Sabtu, 26 Februari 2011 | 2/26/2011 03:15:00 PM

Sabtu, 26 Februari 2011 | 10:49 WIB

Tripoli - Selama 42 tahun berkuasa, Muammar Khadafi membuat Libya menjadi negara kaya. Minyak dan gas diolah, dan sektor bisnis lain digenjot luar biasa. Dengan bisnis menggurita dan kekuasaan tak terhingga, kita sulit membedakan mana uang Khadafi dan mana uang Libya.

Rakyat Libya di satu sisi mendapatkan pemerintahan yang otoriter di tangan Khadafi. Namun di sisi lain, Khadafi juga yang membuat Libya menjadi salah satu negara dengan pendapatan perkapita tertinggi di benua Afrika.

Lantas bagaimana Khadafi mengelola
uang Libya? Seperti dilansir Allbusiness.com, edisi Senin 18 Juli 2005, Bank Sentral Libya mengatur Libyan Arab Foreign Bank (LAFB) yang memutar uang Libya. LAFB ini memiliki anak perusahaan Libyan Arab Foreign Investment Co (Lafico) yang trengginas dalam berbisnis.

Uang hasil minyak bumi yang memperkaya Libya adalah dari National Oil Company (NOC) di mana Lafico dan LAFB juga memegang saham minoritasnya. Urusan bisnis perbankan, itu adalah pegangan LAFB.

LAFB membangun Arab Banking Corp (ABC) bersama rekanan dari Kuwait dan Abu Dhabi. ABC menjadi bank internasional paling besar di Timur Tengah dengan jaringan di seluruh dunia. LAFB juga memegang 5 persen saham Banca di Roma, bank komersial besar di Italia.

Lafico lebih perkasa lagi menjadi penanam modal di berbagai negara, terutama di Italia. Pada Februari 2002, Lafico membeli lagi 2% saham Fiat senilai US$ 112 juta atau sekitar Rp 1,008 triliun. Lafico juga memiliki saham 7,5 persen saham klub sepakbola Juventus. Perusahaan ini juga punya investasi besar di bidang perhotelan dengan menguasai 47% saham Corinthia Group.

Nah, yang kemudian terjadi adalah semakin sulit membedakan mana uang Libya dan mana uang Khadafi, karena besarnya peran kolonel itu dalam membela kepentingan bisnisnya secara langsung dan tidak langsung. Bloomberg misalnya, pada Rabu (23/2/2011) saat mengulas soal nasib saham Lafico di Juventus terkait krisis Libya, lebih suka menyebut Lafico sebagai milik pemimpin Libya Muamar Khadafi.
  
Duta Besar Libya untuk PBB, Abdurrahman Shalgam, yang merupakan salah satu teman lama Kolonel Khadafy, mencela pemimpin Libya itu, Jumat (25/2/2011) malam waktu setempat, dan mendesak dunia untuk menghukum dia.

Shalgam, seorang sekutu Khadafy sejak keduanya masih sebagai pemuda radikal pada akhir tahun 1950-an, membandingkan tindakan Khadafy dengan orang-orang seperti Pol Pot dan Hitler. Shalgam, yang selama ini setia kepada Khadafy, kini mendukung para pengunjuk rasa di Tripoli.

Dalam sebuah pidato yang emosional di Dewan Keamanan PBB di New York, Shalgam berkata, "Muammar Khadafy telah mengatakan kepada rakyat Libya 'saya memerintah kamu atau saya bunuh kamu'." Dia menyampaikan kepada 15 anggota Dewan Keamanan PBB, yang sedang mempertimbangkan sebuah rencana Inggris dan Perancis bagi sanksi terhadap rezim Khadafy, "Kami butuh resolusi berani dari Anda."
Di luar ruang sidang, ia kembali memberikan pidato di mana ia memohon agar dunia luar melakukan sesuatu "dalam waktu hitungan jam, bukan lagi hari" untuk menghentikan pertumpahan darah di Libya.

Shalgam mengatakan, Khadafy kini telah kehilangan dukungan dari 90 persen diplomat dan memperkirakan bahwa revolusi akan berlanjut di tengah-timur. "Perbudakan dan pemerintahan oleh orang sudah selesai," katanya.

"Dunia Arab akan berubah sama sekali jika Khadafy melarikan diri. Seluruh dunia Arab akan bergerak cepat menuju kebebasan, dan bukan oleh para jenderal. Bukan! Sekarang orang-orang Arab akan melakukannya (sendiri). Seluruh dunia Arab sedang mendukung Libya. Semua mereka yang berada di jalanan mendukung Libya, semuanya. Dalam waktu satu tahun, Anda akan melihat dunia Arab yang lain," kata Shalgam sebagaimana dikutip Telegraph.

Shalgam membela dukungannya bagi Khadafy selama beberapa dekade dan keputusannya untuk tetap menyokong rezim itu pada hari-hari awal ketika tindakan brutal terhadap para demonstran berlangsung. "Saya tidak bisa membayangkan pada awalnya pertumpahan darah para korban," tegasnya.

Dia ingat persahabatan dengan Khadafy bermula atas kekaguman bersama terhadap Gamal Abdel Nasser, presiden Mesir mulai 1956, ketika mereka tumbuh di Libya selatan. "Saya salah satu teman baik terdekatnya, yang bekerja dengan dia sejak awal revolusi," katanya. "Sayangnya, kami mulai revolusi dengan kebebasan, pada akhirnya Anda (Khadafy) membunuh rakyat kami."

sumber : kompas dan detik
Share this article :

Visitors Today

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Post - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Sorga 'n Neraka